facebook

Digitalisasi Bergerak Cepat Saat Pandemi, Chair DEWG Harap Tak Ada Negara Tertinggal

M Nurhadi
Digitalisasi Bergerak Cepat Saat Pandemi, Chair DEWG Harap Tak Ada Negara Tertinggal
Ketua Digital Economy Working Group (DEWG) G20, Mira Tayyiba, saat Lokakarya Perangkat untuk Mengukur Keterampilan Digital dan Literasi Digital di Yogyakarta, Kamis (19/5). (Humas Kementerian kominfo)

Mira menyebut, pandemi membuat transformasi digital yang telah berlangsung selama bertahun-tahun berlangsung lebih cepat.

Suara.com - Dampak pandemi COVID-19 diprediksi masih menghantui meski kini ekonomi kian membaik. Hal ini lantaran krisis yang berlangsung lama berdampak pada pasokan (supply) dan permintaan (demand) hingga konsumsi, investasi bahkan rantai pasokan.

Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Informatika Mira Tayyiba mengatakan, masyarakat kini sudah beradaptasi dengan kondisi pandemi. Hal ini pula yang ia harapkan, setiap negara tidak ada yang tertinggal dengan strategi digitalisasi

“Saat ini semua orang merasa diasingkan, oleh karena itu penggunaan dan kemajuan teknologi digital semakin penting untuk memastikan tidak ada yang tertinggal no one is left behind dan tidak ada pemuda atau generasi yang hilang,” tandasnya saat membuka Lokakarya Perangkat untuk Mengukur Keterampilan Digital dan Literasi Digital di Yogyakarta, kemarin.

Sosok yang juga menjabat Chair Digital Economy Working Group (DEWG) Presidensi G20 Indonesia menyebut, pandemi membuat transformasi digital yang telah berlangsung selama bertahun-tahun berlangsung lebih cepat.

Baca Juga: Presidensi G20 Indonesia Usul Pengukuran Literasi Digital dalam DEWG 2022

“Pada tahun lalu saja, ITU memperkirakan sekitar 4,9 miliar orang di seluruh dunia menggunakan internet. Aktivitas digital juga telah diperluas dan diintensifkan karena orang harus beralih ke sarana online untuk bekerja, bertransaksi, berinteraksi, dan belajar,” kata dia.

Digitalisasi yang terus bergerak menurut dia, mendorong penciptaan lapangan kerja baru, meningkatkan produktivitas, dan membuka jalur baru untuk pertumbuhan ekonomi yang cepat. 

Namun demikian, Sekjen Mira Tayyiba mengingatkan ada sekitar 2,9 miliar orang di dunia masih belum memiliki akses ke internet.

“Kondisi lain yang menggambarkan paradoks digital, dari 2,9 miliar orang yang tidak terhubung ke internet, 96 persen tinggal di negara berkembang,” tandasnya. 

Seiring dengan terciptanya jenis pekerjaan baru karena digitalisasi dan otomatisasi, Chair DEWG G20 Mira Tayyiba menegaskan adanya kebutuhan peningkatan kompetensi pekerja. 

Baca Juga: Menkominfo Ajak Delegasi G20 Kunjungi 'Pulau Dinosaurus' Hingga Icip 'Minuman Kerajaan'

“Digitalisasi pada akhirnya juga akan menghilangkan pekerjaan dengan tugas rutin dan manual. Oleh karena itu, semakin banyak pekerja yang membutuhkan reskilling dan upskilling untuk mengejar perubahan besar yang terjadi di bidang pekerjaan mereka,” ujarnya.

Komentar