Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp0
Beli Rp0
IHSG ...
LQ45 ...
Srikehati
JII ...

Inflasi AS Melesat 8,6 Persen, Harga Minyak Dunia Anjlok 1 Persen

Iwan Supriyatna | Mohammad Fadil Djailani | Suara.com

Senin, 13 Juni 2022 | 10:22 WIB
Inflasi AS Melesat 8,6 Persen, Harga Minyak Dunia Anjlok 1 Persen
Ilustrasi harga minyak dunia. [Shutterstock]

Suara.com - Harga minyak dunia merosot pada akhir pekan lalu, setelah harga konsumen AS naik lebih tinggi dari perkiraan dan China memberlakukan tindakan penguncian Covid-19.

Mengutip CNBC, Senin (13/6/2022) minyak mentah Brent turun 1 persen menjadi USD121,88 per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate AS turun 0,8 persen menjadi USD120,34 per barel.

Harga minyak merosot bersama dengan saham Wall Street setelah berita bahwa harga konsumen AS meningkat pada Mei sebesar 8,6 persen.

Harga bensin telah mencapai rekor tertinggi dan biaya makanan melonjak, menyebabkan kenaikan tahunan terbesar dalam 40 tahun terakhir. Itu meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve akan memperketat kebijakan lebih agresif.

"Kekhawatiran itu bisa menjadi indikator kebiasaan konsumen dan meskipun permintaan bensin kuat sekarang, itu pertanda di masa depan bahwa jika harga bensin tidak stabil maka konsumen akan mengurangi," kata Phil Flynn, analis dari Price Futures.

Shanghai dan Beijing kembali dalam siaga Covid pada hari Kamis. Beberapa bagian dari Shanghai memberlakukan pembatasan penguncian baru dan kota itu mengumumkan putaran pengujian massal untuk jutaan penduduk.

Impor minyak mentah China pada Mei naik hampir 12 persen dari tahun sebelumnya.

"Ini tidak menunjukkan bahwa permintaan minyak meningkat. Sebaliknya, China kemungkinan akan bertindak oportunis, membeli minyak mentah dari Rusia dengan harga yang jauh lebih rendah dibanding harga pasar global untuk mengisi kembali stoknya," kata analis Commerzbank, Carsten Fritsch.

Minyak telah naik lebih dari USD1 di awal sesi seiring kekhawatiran potensi gangguan pasokan di Eropa dan Afrika. Produksi minyak Norwegia dapat dikurangi jika pekerja mogok pada hari Minggu, kata Asosiasi Minyak dan Gas Norwegia (NOG).

Sekitar 845 dari sekitar 7.500 karyawan di anjungan lepas pantai berencana mogok mulai 12 Juni jika negosiasi gaji tahunan gagal.

Produksi minyak di ladang Sarir Libya telah berkurang setelah pelabuhan Ras Lanuf dan Es Sider ditutup.

Sekelompok milisi juga mengancam akan menutup pelabuhan Hariga, kata dua insinyur minyak di ladang itu.

Kesepakatan nuklir dengan Iran dan mencabut sanksi AS terhadap sektor energi Iran sedang surut. Iran pada hari Kamis memberikan pukulan yang hampir fatal terhadap peluang menghidupkan kembali kesepakatan nuklir.

Iran pada dasarnya mulai menghapus semua peralatan pemantauan Badan Energi Atom Internasional yang dipasang berdasarkan kesepakatan itu, kata kepala IAEA Rafael Grossi.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Di Tengah Konflik Rusia-Ukraina, AS Butuh Arab Saudi untuk Stabilkan Harga Minyak Dunia

Di Tengah Konflik Rusia-Ukraina, AS Butuh Arab Saudi untuk Stabilkan Harga Minyak Dunia

Video | Jum'at, 10 Juni 2022 | 10:00 WIB

Shanghai Lockdown Lagi, Harga Minyak Dunia Bergerak Melemah

Shanghai Lockdown Lagi, Harga Minyak Dunia Bergerak Melemah

Bisnis | Jum'at, 10 Juni 2022 | 07:25 WIB

DPR Acungi Jempol Pertamina Bisa Survive Saat Harga Minyak Dunia Melonjak

DPR Acungi Jempol Pertamina Bisa Survive Saat Harga Minyak Dunia Melonjak

Bisnis | Kamis, 09 Juni 2022 | 18:44 WIB

Terkini

Dorong Transisi Energi Global, Pertamina NRE Kaji Pengembangan Energi Terbarukan di Bangladesh

Dorong Transisi Energi Global, Pertamina NRE Kaji Pengembangan Energi Terbarukan di Bangladesh

Bisnis | Minggu, 17 Mei 2026 | 20:38 WIB

Harga Minyak Bakal Naik Pekan Depan? Ini Prediksinya

Harga Minyak Bakal Naik Pekan Depan? Ini Prediksinya

Bisnis | Minggu, 17 Mei 2026 | 16:53 WIB

BRI Terapkan Aturan Baru Rekening 2026: Ini Beda Status Aktif, Tidak Aktif, dan Dormant

BRI Terapkan Aturan Baru Rekening 2026: Ini Beda Status Aktif, Tidak Aktif, dan Dormant

Bisnis | Minggu, 17 Mei 2026 | 15:27 WIB

Cara Cek NIK Penerima Bansos Kemensos Usai Update dari DTKS Jadi DTSEN

Cara Cek NIK Penerima Bansos Kemensos Usai Update dari DTKS Jadi DTSEN

Bisnis | Minggu, 17 Mei 2026 | 13:53 WIB

Rupiah Bisa Tembus Rp17.900, Ini Alasan Mata Uang RI Diproyeksi Makin Anjlok!

Rupiah Bisa Tembus Rp17.900, Ini Alasan Mata Uang RI Diproyeksi Makin Anjlok!

Bisnis | Minggu, 17 Mei 2026 | 13:17 WIB

Harga Pangan Hari Ini: Cabai Rawit dan Daging Ayam Naik, Beras Premium Tetap Tinggi

Harga Pangan Hari Ini: Cabai Rawit dan Daging Ayam Naik, Beras Premium Tetap Tinggi

Bisnis | Minggu, 17 Mei 2026 | 13:03 WIB

3 Pilihan Aset Aman untuk Investasi saat Rupiah Melemah ke Rp17.600 per Dolar AS

3 Pilihan Aset Aman untuk Investasi saat Rupiah Melemah ke Rp17.600 per Dolar AS

Bisnis | Minggu, 17 Mei 2026 | 11:15 WIB

IKN Disebut 'Gegabah Terstruktur', Prabowo Diminta Evaluasi Proyek Era Jokowi

IKN Disebut 'Gegabah Terstruktur', Prabowo Diminta Evaluasi Proyek Era Jokowi

Bisnis | Minggu, 17 Mei 2026 | 10:19 WIB

Nilai Tukar Rupiah dari Masa ke Masa, Era Prabowo Subianto di Posisi Berapa?

Nilai Tukar Rupiah dari Masa ke Masa, Era Prabowo Subianto di Posisi Berapa?

Bisnis | Minggu, 17 Mei 2026 | 09:41 WIB

Kesepakatan China-AS Jadi 'Omong Kosong', Perang Masih Ancam Ekonomi Dunia

Kesepakatan China-AS Jadi 'Omong Kosong', Perang Masih Ancam Ekonomi Dunia

Bisnis | Minggu, 17 Mei 2026 | 09:34 WIB