Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.575.000
Beli Rp2.447.000
IHSG 5.643,194
LQ45 553,105
Srikehati 276,229
JII 331,154
USD/IDR 17.957

Ekonomi Syariah Indonesia Masih Ketinggalan dari Malaysia, Ini Penyebabnya

Iwan Supriyatna, Rina Anggraeni

Kamis, 05 Juni 2025 | 08:28 WIB
Ekonomi Syariah Indonesia Masih Ketinggalan dari Malaysia, Ini Penyebabnya
Ilustrasi ekonomi syariah [shutterstock]

Suara.com - Bank Indonesia (BI) terus mendorong perkembangan ekonomi syariah. Hal ini dikarenakan Indonesia hanya berada di peringkat ketiga kalah dari Malaysia yang berada di nomor satu dalam pemanfaatan ekonomi syariah.

Sedangkan di peringkat kedua ada Arab Saudi dan kelima ada Uni Emirat Arab. Kepala Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah (DEKS) BI, Imam Hartono mengungkapkan ada tiga tantangan yang harus dihadapi Indonesia dalam mendorong pertumbuhan ekonomi syariah.

"Ada tiga tantangan pertama produksi ketersediaan dan kualitas bahan baku halal, kedua inovasi model bisnis keuangan dan ketiga yakni memperkuat literasi ekonomi syariah," kata Imam dalam Taklimat Media di Gedung BI, ditulis Kamis (5/6/2025).

Lanjutnya, pemanfaatan ekonomi syariah juga mulai dilirik oleh beberapa negara. Salah satunya adalah Jepang, Korea Selatan hingga Australia.

Eksar sebagai pertumbuhan ekonomi baru, itu ternyata bukan hanya dimiliki oleh negara-negara yang memiliki jumlah penduduk yang katakanlah muslim yang sangat banyak, tapi juga dimiliki oleh negara-negara lain, misalnya seperti Tiongkok, kemudian juga disitu ada Jepang, Thailand, Korea, Brazil, Australia dan sebagainya.

Untuk itu, pemerintah juga menargetkan kontribusi produk domestik bruto (PDB) dari sektor ekonomi syariah mencapai 56% pada tahun 2029. Target ini tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN).

“Tentu dengan melihat ini semua, melihat tantangan kemudian juga strateginya, maka kembali ini dibutuhkan effort melalui optimalisasi kebijakan eksyar dalam bauran kebijakan nasional yang tentu didukung sinergi kolaborasi berbagai pihak untuk pengembangan eksyar nasional,” bebernya.

Serta, Bank Indonesia juga terus mendukung pengembangan ekonomi syariah nasional ini. Lantaran, menjadi salah satu kebijakan pendukung untuk mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan.

"Karena kita program dan utamanya untuk mendukung inklusi ekonomi dan keuangansebagaimana mandat undang-undang P2SK.Dan inklusif ini tercermin pada beberapa upaya Bank Indonesia yang secara kolaboratif mendukung," katanya.

baca juga

Dia berharap sejumlah peluang strategis untuk mendorong pertumbuhan eksyar nasional. Peluang tersebut antara lain peningkatan jumlah penduduk muslim global, kemajuan digitalisasi dan e-commerce, serta potensi besar pasar produk halal di negara-negara anggota Organisation of Islamic Cooperation (OIC).

"Konsumsi produk halal oleh umat muslim global juga menunjukkan tren meningkat. Pada 2012 tercatat sebesar 1,62 triliun dolar AS, naik menjadi 2,29 triliun dollar sD pada 2022, dan diproyeksikan meningkat hingga 3,1 triliun dolar AS pada 2027," tandasnya.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) merevisi mengenai target pertumbuhan perbankan syariah. Hal ini dikarenakan BI juga merevisi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,5 persen.

Kepala Departemen Ekonomi & Keuangan Syariah (DEKS) Bank Indonesia, Imam Hartono memprediksi pembiayaan syariah hanya mencapai 8-11 persen. Padahal, tahun sebelumnya mencapai 11-13 persen.

"Proyeksi dari pembiayaan syariah kita itu kita revisi menjadi antara 8-11 persen. Kemudian juga ini kan juga terkait dengan proyeksi PDB-nya yang bergerak jadi antara 4,6 persen sampai dengan 5,4 persen," bebernya.

Kata dia, terkait dinamika global yang saat ini tengah terjadi, dia mengakui bahwa kondisi tersebut akan berdampak pada kinerja pembiayaan syariah.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Ma'ruf Amin Tagih Janji Presiden Prabowo Soal Ekonomi Syariah: Masih Punya Utang

Ma'ruf Amin Tagih Janji Presiden Prabowo Soal Ekonomi Syariah: Masih Punya Utang

Bisnis | Selasa, 27 Mei 2025 | 14:24 WIB

Pemerintah Dorong Ekonomi Syariah Jadi Pilar Pembangunan Berkelanjutan

Pemerintah Dorong Ekonomi Syariah Jadi Pilar Pembangunan Berkelanjutan

Bisnis | Senin, 26 Mei 2025 | 14:25 WIB

Global Islamic Financial Institutions Forum 202 Dorong Sinergi Ekonomi Syariah Lintas Negara

Global Islamic Financial Institutions Forum 202 Dorong Sinergi Ekonomi Syariah Lintas Negara

Bisnis | Jum'at, 09 Mei 2025 | 13:38 WIB

Terkini

Tetap Berlaku Juli, Peresmian B50 Tunggu Jadwal Prabowo

Tetap Berlaku Juli, Peresmian B50 Tunggu Jadwal Prabowo

Bisnis | Rabu, 01 Juli 2026 | 11:46 WIB

Mulai Hari Ini, Pedagang Online Wajib Punya NIB untuk Jualan di E-Commerce

Mulai Hari Ini, Pedagang Online Wajib Punya NIB untuk Jualan di E-Commerce

Bisnis | Rabu, 01 Juli 2026 | 11:39 WIB

Tak Sampai 6.000, BBCA Diramal Hanya Bergarak Hingg level 5.900 Hari Ini

Tak Sampai 6.000, BBCA Diramal Hanya Bergarak Hingg level 5.900 Hari Ini

Bisnis | Rabu, 01 Juli 2026 | 11:15 WIB

Media Lokal Kunci Percepatan Edukasi Ekonomi Sirkular di Daerah

Media Lokal Kunci Percepatan Edukasi Ekonomi Sirkular di Daerah

Bisnis | Rabu, 01 Juli 2026 | 11:09 WIB

Mulai Hari Ini, Potongan Komisi Ojol Resmi Turun Jadi 8 Persen

Mulai Hari Ini, Potongan Komisi Ojol Resmi Turun Jadi 8 Persen

Bisnis | Rabu, 01 Juli 2026 | 11:05 WIB

Cek Harga Dolar AS di Bank Himbara dan Swasta, Ada yang Jual Rp18.050

Cek Harga Dolar AS di Bank Himbara dan Swasta, Ada yang Jual Rp18.050

Bisnis | Rabu, 01 Juli 2026 | 10:53 WIB

BBCA Undervalued, Saatnya Serok atau Harga Sahamnya Bisa Turun Lagi?

BBCA Undervalued, Saatnya Serok atau Harga Sahamnya Bisa Turun Lagi?

Bisnis | Rabu, 01 Juli 2026 | 10:51 WIB

Kompak Turun: Ini Harga BBM di Pertamina hingga Shell

Kompak Turun: Ini Harga BBM di Pertamina hingga Shell

Bisnis | Rabu, 01 Juli 2026 | 10:28 WIB

Iran Tolak Temui Utusan AS, Harga Minyak Dunia Merangkak Naik

Iran Tolak Temui Utusan AS, Harga Minyak Dunia Merangkak Naik

Bisnis | Rabu, 01 Juli 2026 | 10:10 WIB

Awal Bulan Juli, Rupiah Tertekan Lawan Dolar AS ke Level Rp17.980

Awal Bulan Juli, Rupiah Tertekan Lawan Dolar AS ke Level Rp17.980

Bisnis | Rabu, 01 Juli 2026 | 09:32 WIB

×