Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.699.000
Beli Rp2.575.000
IHSG 6.172,340
LQ45 616,921
Srikehati 300,840
JII 375,650
USD/IDR 17.821

Pertumbuhan Ekonomi 5,12 Persen Turut Jadi Sorotan Bank Asing, Apa Katanya?

Mohammad Fadil Djailani

Jum'at, 08 Agustus 2025 | 11:52 WIB
Pertumbuhan Ekonomi 5,12 Persen Turut Jadi Sorotan Bank Asing, Apa Katanya?
Pranjul Bhandari, Chief Indonesia and India Economist, HSBC Global Research mengatakan membaiknya kondisi perekonomian Indonesia pada periode tersebut didorong oleh sektor informal. Tangkapan layar.

Suara.com - Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2025 yang sebesar 5,12 persen menuai polemik karena dinilai terlalu tinggi di tengah situasi ekonomi global dan dalam negeri yang lesu.

Kondisi ini pun turut menjadi sorotan dari sejumlah pihak, termasuk lembaga keuangan asing yakni HSBC.

Pranjul Bhandari, Chief Indonesia and India Economist, HSBC Global Research mengatakan membaiknya kondisi perekonomian Indonesia pada periode tersebut didorong oleh sektor informal

Pranjul mengatakan sektor ini menjadi tulang punggung pertumbuhan di tengah lesunya kinerja sektor formal.

"Pelonggaran kebijakan fiskal dan moneter yang diterapkan pemerintah mulai membuahkan hasil. Kebijakan ini merangsang konsumsi, terutama di kalangan masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah," kata Pranjul dalam Media Briefing secara virtual, Jumat (8/8/2025).

Kondisi ini kata dia membuat laju inflasi menjadi menurun dan membuat sejumlah harga-harga ikut terkerek turun.

"Karena inflasi turun cukup tajam, meningkatkan daya beli konsumen massal yang sensitif harga," ungkap Pranjul.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mengonfirmasi perbaikan ini dengan mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal II-2025 yang mencapai 5,12 persen angka tertinggi dalam dua tahun terakhir. Pertumbuhan ini melonjak dari 4,87 persen pada kuartal sebelumnya.

Pranjul menekankan betapa vitalnya peran sektor informal. Sektor ini menyumbang 60 persen terhadap lapangan kerja dan 55 persen terhadap konsumsi nasional. "Pada 2025, meski sektor formal belum membaik, sektor informal menunjukkan kinerja jauh lebih baik," katanya.

baca juga

Meskipun demikian, Pranjul mengingatkan bahwa pertumbuhan saat ini masih belum cukup untuk menutup kesenjangan output. Ia pun memberikan saran kepada pemerintah untuk mendorong investasi korporasi sebagai kunci pertumbuhan yang lebih tinggi dan berkelanjutan.

"Kita butuh pertumbuhan lebih tinggi dalam waktu lebih lama. Caranya, investasi korporasi harus meningkat. Saat ini perusahaan banyak menabung, tapi enggan berinvestasi," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Ilusi Data BPS: Benaran atau Pesanan?

Ilusi Data BPS: Benaran atau Pesanan?

Bisnis | Kamis, 07 Agustus 2025 | 19:29 WIB

Bukan Karena Daya Beli Lesu, Asosiasi Ungkap Biang Kerok Rojali-Rohana Terus Meningkat

Bukan Karena Daya Beli Lesu, Asosiasi Ungkap Biang Kerok Rojali-Rohana Terus Meningkat

Bisnis | Kamis, 07 Agustus 2025 | 09:05 WIB

Mendagri Pacu Tiga Provinsi Baru Papua Maksimalkan Anggaran Demi Daya Beli Masyarakat

Mendagri Pacu Tiga Provinsi Baru Papua Maksimalkan Anggaran Demi Daya Beli Masyarakat

News | Rabu, 06 Agustus 2025 | 17:50 WIB

Terkini

Saham MARK Dilirik Investor, Kapasitas Produksi Terisi Penuh dan Dividen Melimpah

Saham MARK Dilirik Investor, Kapasitas Produksi Terisi Penuh dan Dividen Melimpah

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 11:46 WIB

Berlaku 1 Juli, Ekonom Ingatkan B50 Wajib Jaga Aspek Lingkungan

Berlaku 1 Juli, Ekonom Ingatkan B50 Wajib Jaga Aspek Lingkungan

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 11:36 WIB

GAPKI: Jika Danantara Pegang Ekspor Sawit, Kewajiban Minyakita Bisa Dialihkan

GAPKI: Jika Danantara Pegang Ekspor Sawit, Kewajiban Minyakita Bisa Dialihkan

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 11:14 WIB

Inflasi Pangan Mengintai? Harga Beras dan Cabai Rawit Kembali Merangkak Naik

Inflasi Pangan Mengintai? Harga Beras dan Cabai Rawit Kembali Merangkak Naik

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 11:00 WIB

Darmawan Prasodjo Kembali Pimpin PLN, Didampingi Wadirut Baru

Darmawan Prasodjo Kembali Pimpin PLN, Didampingi Wadirut Baru

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 10:42 WIB

Damai AS - Iran Ubah Peta Energi Dunia, Harga Minyak Langsung Terjun Bebas

Damai AS - Iran Ubah Peta Energi Dunia, Harga Minyak Langsung Terjun Bebas

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 10:27 WIB

Rupiah Terus Tertekan, Dolar AS Kembali Sentuh Level Rp17.850

Rupiah Terus Tertekan, Dolar AS Kembali Sentuh Level Rp17.850

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 09:28 WIB

Dibuka Melemah, IHSG Langsung Gacor Setelah Pengumuman MSCI

Dibuka Melemah, IHSG Langsung Gacor Setelah Pengumuman MSCI

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 09:16 WIB

88 Persen UMKM Masih Andalkan Dana Pribadi, Perbanas Dorong Penggunaan Kredit

88 Persen UMKM Masih Andalkan Dana Pribadi, Perbanas Dorong Penggunaan Kredit

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 09:00 WIB

Negara Hemat Rp3 Triliun Karena MBG Disetop, Pengusaha Protes: Ganggu Stabilitas

Negara Hemat Rp3 Triliun Karena MBG Disetop, Pengusaha Protes: Ganggu Stabilitas

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 09:00 WIB