Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.798.000
Beli Rp2.660.000
IHSG 7.057,106
LQ45 681,583
Srikehati 330,472
JII 466,124
USD/IDR 17.420

Pertumbuhan Ekonomi 5,12 Persen Turut Jadi Sorotan Bank Asing, Apa Katanya?

Mohammad Fadil Djailani | Suara.com

Jum'at, 08 Agustus 2025 | 11:52 WIB
Pertumbuhan Ekonomi 5,12 Persen Turut Jadi Sorotan Bank Asing, Apa Katanya?
Pranjul Bhandari, Chief Indonesia and India Economist, HSBC Global Research mengatakan membaiknya kondisi perekonomian Indonesia pada periode tersebut didorong oleh sektor informal. Tangkapan layar.

Suara.com - Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2025 yang sebesar 5,12 persen menuai polemik karena dinilai terlalu tinggi di tengah situasi ekonomi global dan dalam negeri yang lesu.

Kondisi ini pun turut menjadi sorotan dari sejumlah pihak, termasuk lembaga keuangan asing yakni HSBC.

Pranjul Bhandari, Chief Indonesia and India Economist, HSBC Global Research mengatakan membaiknya kondisi perekonomian Indonesia pada periode tersebut didorong oleh sektor informal

Pranjul mengatakan sektor ini menjadi tulang punggung pertumbuhan di tengah lesunya kinerja sektor formal.

"Pelonggaran kebijakan fiskal dan moneter yang diterapkan pemerintah mulai membuahkan hasil. Kebijakan ini merangsang konsumsi, terutama di kalangan masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah," kata Pranjul dalam Media Briefing secara virtual, Jumat (8/8/2025).

Kondisi ini kata dia membuat laju inflasi menjadi menurun dan membuat sejumlah harga-harga ikut terkerek turun.

"Karena inflasi turun cukup tajam, meningkatkan daya beli konsumen massal yang sensitif harga," ungkap Pranjul.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mengonfirmasi perbaikan ini dengan mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal II-2025 yang mencapai 5,12 persen angka tertinggi dalam dua tahun terakhir. Pertumbuhan ini melonjak dari 4,87 persen pada kuartal sebelumnya.

Pranjul menekankan betapa vitalnya peran sektor informal. Sektor ini menyumbang 60 persen terhadap lapangan kerja dan 55 persen terhadap konsumsi nasional. "Pada 2025, meski sektor formal belum membaik, sektor informal menunjukkan kinerja jauh lebih baik," katanya.

Meskipun demikian, Pranjul mengingatkan bahwa pertumbuhan saat ini masih belum cukup untuk menutup kesenjangan output. Ia pun memberikan saran kepada pemerintah untuk mendorong investasi korporasi sebagai kunci pertumbuhan yang lebih tinggi dan berkelanjutan.

"Kita butuh pertumbuhan lebih tinggi dalam waktu lebih lama. Caranya, investasi korporasi harus meningkat. Saat ini perusahaan banyak menabung, tapi enggan berinvestasi," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Ilusi Data BPS: Benaran atau Pesanan?

Ilusi Data BPS: Benaran atau Pesanan?

Bisnis | Kamis, 07 Agustus 2025 | 19:29 WIB

Bukan Karena Daya Beli Lesu, Asosiasi Ungkap Biang Kerok Rojali-Rohana Terus Meningkat

Bukan Karena Daya Beli Lesu, Asosiasi Ungkap Biang Kerok Rojali-Rohana Terus Meningkat

Bisnis | Kamis, 07 Agustus 2025 | 09:05 WIB

Mendagri Pacu Tiga Provinsi Baru Papua Maksimalkan Anggaran Demi Daya Beli Masyarakat

Mendagri Pacu Tiga Provinsi Baru Papua Maksimalkan Anggaran Demi Daya Beli Masyarakat

News | Rabu, 06 Agustus 2025 | 17:50 WIB

Terkini

Purbaya Mau Terbitkan Panda Bond di China Demi Perkuat Rupiah

Purbaya Mau Terbitkan Panda Bond di China Demi Perkuat Rupiah

Bisnis | Rabu, 06 Mei 2026 | 09:39 WIB

Kurs Rupiah Hari Ini Menguat ke Rp17.388, Dolar AS Tertekan Sentimen Global

Kurs Rupiah Hari Ini Menguat ke Rp17.388, Dolar AS Tertekan Sentimen Global

Bisnis | Rabu, 06 Mei 2026 | 09:29 WIB

Purbaya Minta Investor Segera Serok Saham RI, Jamin Bakal Untung Banyak

Purbaya Minta Investor Segera Serok Saham RI, Jamin Bakal Untung Banyak

Bisnis | Rabu, 06 Mei 2026 | 09:26 WIB

IHSG Masih Perkasa di Awal Perdagangan, Betah di Level 7.000

IHSG Masih Perkasa di Awal Perdagangan, Betah di Level 7.000

Bisnis | Rabu, 06 Mei 2026 | 09:17 WIB

OJK Denda Rp85,04 Miliar ke 97 Pelaku Pasar Modal, Investor RI Tembus 26,49 Juta

OJK Denda Rp85,04 Miliar ke 97 Pelaku Pasar Modal, Investor RI Tembus 26,49 Juta

Bisnis | Rabu, 06 Mei 2026 | 09:12 WIB

BI Perketat Syarat Beli Dolar AS, Ini Strategi Terbaru Penguatan Rupiah

BI Perketat Syarat Beli Dolar AS, Ini Strategi Terbaru Penguatan Rupiah

Bisnis | Rabu, 06 Mei 2026 | 09:06 WIB

BNI Ingatkan Nasabah Jaga Data Sensitif, Waspadai Modus Penipuan Digital

BNI Ingatkan Nasabah Jaga Data Sensitif, Waspadai Modus Penipuan Digital

Bisnis | Rabu, 06 Mei 2026 | 09:02 WIB

Harga Emas Antam Mulai Naik, Hari Ini dibanderol Rp 2,79 Juta/Gram

Harga Emas Antam Mulai Naik, Hari Ini dibanderol Rp 2,79 Juta/Gram

Bisnis | Rabu, 06 Mei 2026 | 09:00 WIB

IHSG Uji Resistansi 7.120 di Tengah Reli Wall Street dan Volatilitas Harga Minyak

IHSG Uji Resistansi 7.120 di Tengah Reli Wall Street dan Volatilitas Harga Minyak

Bisnis | Rabu, 06 Mei 2026 | 08:28 WIB

Batik Gunung Kendil Rembang Sukses Tembus Pasar Eropa

Batik Gunung Kendil Rembang Sukses Tembus Pasar Eropa

Bisnis | Rabu, 06 Mei 2026 | 08:19 WIB