Presiden Prabowo Diperingatkan, Pengangguran Muda dan Terdidik Bisa Picu Ledakan Kekecewaan

Liberty Jemadu Suara.Com
Kamis, 08 Januari 2026 | 09:14 WIB
Presiden Prabowo Diperingatkan, Pengangguran Muda dan Terdidik Bisa Picu Ledakan Kekecewaan
Seorang pemuda di Cengkareng nekat meminum porstex dan sayat leher gegara jadi pengangguran. (Foto dokumen Polsek Cengkarang)
Baca 10 detik
  • CSIS mengidentifikasi empat risiko utama perekonomian Indonesia 2026: perlambatan global, masalah fiskal domestik, meningkatnya pengangguran terdidik, dan gejolak harga pangan/energi.
  • Kondisi ekonomi global diperkirakan melambat akibat tekanan di AS dan Tiongkok, berpotensi memicu volatilitas pasar keuangan Indonesia.
  • Risiko domestik mencakup defisit fiskal membesar dan peningkatan pengangguran usia muda terdidik yang perlu penanganan kebijakan prudent.

Suara.com - Center for Strategic and International Studies (CSIS) mengidentifikasi ada empat risiko utama yang berpotensi membayangi perekonomian Indonesia pada 2026. Salah satunya adalah semakin tingginya jumlah pengangguran muda dan terdidik di masyarakat.

Dalam Media Briefing Outlook 2026 di Jakarta, Rabu (8/1/2026), Peneliti Senior Departemen Ekonomi CSIS Deni Friawan mengatakan, kombinasi faktor eksternal dan domestik membuat prospek ekonomi Indonesia ke depan sarat ketidakpastian.

Risiko pertama berasal dari kondisi ekonomi global yang diperkirakan masih melambat pada 2026. Mesin pertumbuhan utama dunia, terutama Amerika Serikat (AS) dan China dinilai belum menunjukkan pemulihan yang solid.

China saat ini menghadapi tekanan deflasi sehingga realisasi pertumbuhan ekonominya dipertanyakan. Sementara AS dibebani defisit anggaran dan utang publik yang besar, yang turut mendorong tekanan inflasi. Perlambatan ekonomi juga terjadi di Eropa, termasuk Inggris dan Jerman, yang tengah menghadapi tekanan fiskal.

“Implikasinya, pertumbuhan ekonomi global 2026 akan sangat gloomy dan lebih lambat,” kata Deni.

Selain perlambatan pertumbuhan, ketegangan geopolitik dan kebijakan perdagangan yang ketat dinilai semakin memperburuk kondisi global.

Eskalasi konflik geopolitik, pembatasan ekspor chip dan tanah jarang (rare earth) oleh sejumlah negara, serta kebijakan tarif resiprokal AS meningkatkan ketidakpastian dan mengganggu rantai pasok internasional.

Menurut Deni, situasi tersebut berisiko memicu volatilitas pasar keuangan global dan mendorong arus modal keluar secara tiba-tiba dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

Ia mencatat, dalam beberapa tahun terakhir Indonesia telah mengalami tekanan serupa. Meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mencetak rekor tertinggi, arus modal asing justru mengalami outflow signifikan di pasar saham maupun obligasi.

Baca Juga: Coca-Cola Umumkan PHK Karyawan

Kondisi tersebut berdampak pada pelemahan nilai tukar rupiah serta membesarnya defisit neraca pembayaran, yang pada akhirnya menekan cadangan devisa.

Risiko kedua bersumber dari kondisi domestik, khususnya pada sisi fiskal dan moneter. Deni menilai stimulus fiskal yang digelontorkan pemerintah sejauh ini belum memberikan dorongan pertumbuhan yang optimal, sementara penerimaan pajak justru tidak mencapai target.

“Di saat belanja meningkat, penerimaan tidak tercapai. Ini mendorong defisit fiskal membesar dan berisiko mendekati, bahkan melampaui batas 3 persen dari PDB,” ujarnya.

Tekanan tersebut berpotensi meningkatkan kebutuhan pembiayaan utang, terutama dengan jatuh tempo utang pemerintah yang diperkirakan mencapai Rp700-800 triliun per tahun.

Di tengah persaingan pembiayaan global yang semakin ketat, biaya utang Indonesia dinilai masih tinggi akibat premi risiko yang besar.

Fenomena discouraged workers sedang terjadi di Indonesia dan jumlahnya terus meningkat. Apa yang salah? [Suara.com/Syahda]
Fenomena discouraged workers sedang terjadi di Indonesia dan jumlahnya terus meningkat. Apa yang salah? [Suara.com/Syahda]

Risiko ketiga yang disoroti CSIS adalah meningkatnya pengangguran, terutama di kalangan usia muda dan terdidik. Meski tingkat pengangguran terbuka relatif rendah, kualitas lapangan kerja dinilai memburuk karena sebagian besar penyerapan tenaga kerja terjadi di sektor informal.

×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI