- Menteri ESDM Bahlil Lahadalia membeberkan adanya gangguan saat peresmian RDMP Kilang Balikpapan pada 12 Januari 2026.
- Pembangunan proyek tersebut sempat tertunda dari target awal Mei 2024 karena adanya peristiwa terbakarnya bagian proyek.
- Peresmian proyek berdampak signifikan mengurangi impor BBM dan meningkatkan kualitas produk menjadi standar Euro 5.
Suara.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, membeberkan gangguan dalam proses pembangunan Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Balikpapan.
Hal itu disampaikan Bahlil saat peresmian RDMP Kilang Balikpapan yang dihadiri Presiden Prabowo Subianto di Kalimantan Timur pada Senin, 12 Januari 2026.
Bahlil melaporkan pembangunan proyek RDMP Kilang Balikpapan seharusnya sudah rampung pada awal Mei 2024, tapi mundur karena adanya gangguan.
"Proyek RDMP ini, Bapak Presiden, banyak dramanya. Saya katakan banyak dramanya, kenapa? Seharusnya sudah jadi awal Mei 2024. Tapi ini, Pak, terbakar. Ada bagian yang dibakar," kata Bahlil.

Bahlil awalnya mengaku tidak mengetahui apakah peristiwa itu sengaja dilakukan atau tidak.
"Saya tidak mengerti apakah dibakar karena terbakar, atau dibakar karena ada faktor lain," ujarnya.
Atas peristiwa itu Bahlil memerintahkan Irjen Kementerian ESDM Bambang Suswantono melakukan investasi, guna mengetahui penyebab pastinya.
"Ternyata barang ini, Pak, ada udang dibalik batu. Masih ada pihak-pihak yang tidak rela kalau kita itu mempunyai cadangan dan swasembada energi, agar import terus, impor terus, impor terus," kata Bahlil.
Dia menegaskan, meski Proyek RDMP Kilang Balikpapan sempat menghadapi tantangan, pembangunannya tetap berjalan hingga akhirnya bisa diresmikan langsung oleh Prabowo.
Baca Juga: Bahlil: Hanya Prabowo dan Soeharto Presiden yang Resmikan Kilang Minyak
Bahlil pun menyebut dengan diresmikannya RDMP Kilang Balikpapan akan berkontribusi terhadap penghematan devisa sebesar lebih Rp 60 triliun.
Sebab dengan proyek tersebut kapasitas produksinya meningkat menjadi 360 barel per hari dari sebelumnya 260 ribu barel sehingga bisa menekan ketergantungan impor BBM.
Bahlil menjelaskan, dengan peningkatan kapasitas produksi 100 ribu barel dapat menghasilkan bensin sekitar 5,8 juta kiloliter per tahun. Adapun konsumsi bensin nasional, kata Bahlil, sebesar 38 juta kiloliter. Sementara produksi bensin dalam negeri sekitar 14,25 juta kiloliter.
"Dengan penambahan 5,8 juta, maka impor kita terhadap bensin itu tinggal 19 juta kiloliter," ujarnya.
Bersamaan dengan itu, impor BBM jenis solar juga akan dihentikan pada trimester II 2026 dengan diresmikannya RDMP Kilang Balikpapan. Serta, diperkuat dengan penerapan mandatori ri B50 yang akan mulai berjalan pada semester II 2026.
Selain peningkatan produksi, kualitas BBM yang dihasilkan juga akan meningkat dari standar Euro 2 dengan kandungan sulfur 2.500 ppm menjadi standar Euro 5 dengan kandungan sulfur 10 ppm.