- Kementerian PU sedang membangun 1.606 unit hunian sementara (huntara) di Aceh dan Sumatera Utara, ditargetkan selesai sebelum Ramadhan.
- Pembangunan huntara di Aceh dan Sumut ini merupakan prioritas pascabencana sesuai arahan Badan Nasional Penanggulangan Bencana.
- Kementerian PU menerapkan sistem modular baja ringan untuk huntara, dilengkapi fasilitas penting seperti air bersih dan sanitasi.
Suara.com - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menggenjot pembangunan hunian sementara (huntara) bagi masyarakat terdampak bencana di sejumlah wilayah Provinsi Aceh dan Sumatera Utara. Total, sebanyak 1.606 unit huntara ditargetkan rampung seluruhnya sebelum memasuki bulan Ramadhan.
Percepatan pembangunan huntara tersebut sejalan dengan arahan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Pemerintah menilai ketersediaan hunian layak menjadi kebutuhan mendesak bagi warga terdampak agar dapat segera menjalani kehidupan yang lebih aman dan nyaman.
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menegaskan pembangunan huntara masuk dalam prioritas utama penanganan pascabencana. Pemerintah ingin memastikan masyarakat tidak terlalu lama tinggal di pengungsian darurat.
![Hunian Sementara (huntara) selesai dibangun dan siap dihuni para korban banjir di Aceh Tamiang. [Dok BPI Danantara].](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/01/01/68383-huntara-aceh-tamiang.jpg)
"Kita juga sedang membangun huntara, total ada 1.606 unit. Targetnya sebelum masuk bulan Ramadhan selesai semua, itu sesuai arahan dari BNPB,” kata Menteri Dody saat Rakor Satuan Tugas Pemulihan Pascabencana Sumatera di Banda Aceh, seperti dikutip, Senin (12/1/2026).
Pembangunan huntara tersebut tersebar di sejumlah kabupaten dan kota terdampak bencana. Di Provinsi Sumatera Utara, huntara dibangun di Kabupaten Tapanuli Selatan sebanyak 431 unit.
Sementara di Provinsi Aceh, pembangunan huntara meliputi 480 unit di Kabupaten Bener Meriah, 400 unit di Kabupaten Aceh Utara, 211 unit di Pidie Jaya, serta 84 unit di Aceh Tamiang yang kini telah rampung.
Seluruh pembangunan huntara tersebut dilaksanakan secara bertahap dengan tetap mengedepankan prinsip kecepatan, kualitas, dan keselamatan. Kementerian PU memastikan proses konstruksi berjalan sesuai standar teknis yang telah ditetapkan.
Dari sisi teknis bangunan, huntara menggunakan sistem bangunan modular dengan struktur rangka baja ringan. Sistem ini dirancang agar bangunan memiliki kekuatan memadai, waktu pembangunan relatif singkat, serta tetap memberikan kenyamanan bagi para penghuni.
"Kami menggunakan sistem modular baja yang sudah biasa kita pakai selama ini di mana-mana, dan sudah terbukti secara kualitas serta tahan lama," ujar Dody.
Baca Juga: Perlancar Distribusi Bantuan, Kementerian PU Buka Fungsional Tol SigliBanda Aceh 24 Jam
Salah satu lokasi pembangunan huntara yang telah selesai pada 10 Januari 2026 berada di Aceh Tamiang 1 dengan total 84 unit. Huntara tersebut dirancang untuk menampung sekitar 336 jiwa atau 84 kepala keluarga dalam satu kawasan terpadu.
Setiap blok huntara mampu menampung hingga 12 kepala keluarga atau sekitar 48 jiwa. Penataan kawasan dilakukan agar penghuni memiliki ruang tinggal yang tertib dan nyaman selama masa hunian sementara.
Selain bangunan utama, kawasan huntara Aceh Tamiang juga dilengkapi berbagai fasilitas pendukung. Fasilitas tersebut meliputi toilet komunal, instalasi listrik dan pencahayaan, serta jaringan air bersih dan sanitasi.
Kementerian PU berharap ketersediaan fasilitas pendukung ini dapat membantu masyarakat menjalani aktivitas sehari-hari secara layak selama menempati hunian sementara, sembari menunggu proses pemulihan dan pembangunan hunian tetap di wilayah masing-masing.