Bisnis 2026: Rhenald Kasali Soroti Dominasi AI dan Pergeseran Psikologi Publik

Dythia Novianty Suara.Com
Sabtu, 17 Januari 2026 | 13:13 WIB
Bisnis 2026: Rhenald Kasali Soroti Dominasi AI dan Pergeseran Psikologi Publik
Guru Besar Ilmu Manajemen Universitas Indonesia sekaligus pendiri Rumah Perubahan, Rhenald Kasali dalam ajang Breakfast Talk: Business Outlook 2026 di Jakarta, Sabtu (17/1/2026). [Ist]
Baca 10 detik
  • Rhenald Kasali menyampaikan bisnis 2026 akan didorong Big Data dan AI, menyoroti emosi publik media sosial sebagai penggerak utama.
  • Perbedaan persepsi kebenaran antara generasi tua dan muda menciptakan celah risiko kejahatan ekonomi berbasis AI canggih.
  • Tren Gen Z menolak jabatan manajerial karena stres tinggi, memilih menjadi kontributor individual demi fleksibilitas dan uang.

Suara.com - Lanskap bisnis Indonesia tengah bersiap menghadapi guncangan transformasi paling radikal dalam sejarah.

Bukan sekadar soal kemajuan teknologi, melainkan pergeseran fundamental pada cara publik memaknai kebenaran, bekerja, dan mengambil keputusan ekonomi.

Pesan kuat ini disampaikan oleh Guru Besar Ilmu Manajemen Universitas Indonesia sekaligus pendiri Rumah Perubahan, Rhenald Kasali, dalam ajang Breakfast Talk: Business Outlook 2026 di Jakarta, Sabtu (17/1/2026).

Menurut Rhenald, tahun 2026 akan menjadi titik di mana politik, media, dan bisnis menyatu dalam ekosistem yang digerakkan oleh Big Data dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/ AI).

Namun, di balik kecanggihan tersebut, emosi publik di jagat maya menjadi kemudi utama yang sulit diprediksi.

Jurang Persepsi Antar-Generasi

Salah satu tantangan terbesar bagi pelaku usaha saat ini adalah perbedaan tajam dalam menyerap informasi antara generasi tua dan generasi muda.

Rhenald menyoroti bagaimana media sosial telah menggeser definisi "kenyataan" bagi Gen Z.

“Bagi Gen Z, apa yang ada di internet itu adalah kebenaran, nyata. Sementara bagi orang tua, yang real adalah apa yang mereka alami langsung. Bagi generasi tua, media sosial, kebenarannya mungkin hanya 20 persen,” ujar Rhenald.

Baca Juga: Airlangga Klaim SPPG Model Bisnis Aman: Jaminannya APBN MBG Rp 335 Triliun

Perbedaan persepsi ini menciptakan celah keamanan yang rawan. Media sosial bukan lagi sekadar platform komunikasi, melainkan medan baru bagi kejahatan ekonomi berbasis phishing dan disinformasi yang semakin canggih berkat AI.

“Dulu, AI bisa ditipu manusia. Tapi sekarang, AI-lah yang menipu manusia,” tegasnya, merujuk pada ancaman penipuan digital yang kian sulit dibedakan dari kenyataan.

Fenomena 'Conscious Unbossing': Gen Z Enggan Jadi Bos

Dari sisi ketenagakerjaan, dunia korporasi di tahun 2026 diprediksi akan menghadapi krisis kepemimpinan di level menengah.

Rhenald menyoroti tren “conscious unbossing”, di mana talenta muda secara sadar menolak promosi untuk menduduki jabatan manajerial.

Mengutip data Robert Walters, Rhenald memaparkan fakta mengejutkan, yakni 52 persen Gen Z tidak memiliki keinginan untuk memegang posisi manajemen menengah, dan 72 persen lebih memilih jalur karier sebagai kontributor individual.

×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI