Baca 10 detik
- Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan ekonomi Indonesia resilien dan berisiko resesi rendah dibanding AS, Tiongkok, dan Jepang.
- Stabilitas makroekonomi terjaga melalui inflasi rendah, surplus perdagangan, cadangan devisa USD156,1 miliar, serta stimulus Rp110,7 triliun.
- Pemerintah menargetkan pertumbuhan 5,4% di 2026 melalui penguatan sektor riil, APBN terkendali, dan fokus pada program prioritas nasional.
Sejumlah sektor padat karya, seperti industri tekstil, elektronik, dan manufaktur berorientasi ekspor, menjadi perhatian utama untuk menjaga daya saing dan melindungi jutaan tenaga kerja nasional di tengah dinamika perdagangan global.
“Jadi, menghadapi periode mendatang, saya pikir kita harus optimis, akan ada banyak berita baik. Dan saya yakin, tren global, termasuk IMF, juga optimis pada ekonomi Indonesia,” pungkasnya.