- Harga emas mencapai rekor tertinggi di level US$5.024,95 pada Senin, 26 Januari 2026, didorong tensi geopolitik.
- Kenaikan signifikan ini melanjutkan tren 2025 (lonjakan 64%) karena pembelian bank sentral dan kebijakan moneter AS.
- Analis memproyeksikan harga emas dapat terus meningkat, bahkan berpotensi mencapai US$5.500 hingga US$6.400 tahun ini.
Suara.com - Laju penguatan harga emas dunia kembali mencatatkan tinta emas dalam sejarah pasar komoditas.
Pada perdagangan Senin (26/1/2026), harga emas resmi melampaui level psikologis US$5.000 per troy ons.
Pencapaian ini merupakan kelanjutan dari tren bullish masif yang telah berlangsung sejak tahun lalu, di mana investor terus memburu aset safe haven di tengah meningkatnya tensi geopolitik global.
Berdasarkan data pasar spot, harga emas naik 0,85% ke level US$5.024,95 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Februari juga menguat 0,91% di posisi US$5.024,60 per ons.
Kilas Balik Tren Kenaikan 2025 dan Proyeksi 2026
Fokus utama para pelaku pasar tertuju pada konsistensi pertumbuhan nilai emas yang luar biasa dalam dua tahun terakhir. Sepanjang tahun 2025, harga emas dunia tercatat melonjak hingga 64%.
Kenaikan fantastis ini didorong oleh kebijakan pelonggaran moneter Amerika Serikat, derasnya arus masuk ke dana kelolaan ETF, serta aksi borong bank sentral global—terutama China yang melakukan pembelian selama 14 bulan berturut-turut.
Memasuki tahun 2026, momentum tersebut ternyata tidak meredup. Hanya dalam kurun waktu satu bulan, harga emas sudah terkerek naik lebih dari 16%.
Philip Newman, Direktur di Metals Focus, memprediksi tren ini masih jauh dari titik jenuh. "Kami memperkirakan potensi kenaikan lebih lanjut. Proyeksi kami menunjukkan harga akan mencapai puncaknya di sekitar US$5.500 pada tahun ini," ungkapnya, seperti dikutip Suara.com dari Reuters pada Senin (26/1/2026).
Baca Juga: ASEAN Para Games 2025: Indonesia Sudah Dapatkan 102 Emas, Masih Akan Bertambah Lagi
Newman juga menambahkan bahwa meski aksi ambil untung (profit taking) mungkin terjadi, setiap koreksi harga akan berlangsung singkat karena minat beli investor tetap sangat kuat.
Ketidakpastian situasi dunia menjadi motor utama di balik reli panjang harga emas tahun ini. Beberapa faktor geopolitik yang memperkuat posisi emas antara lain:
- Gesekan AS dan NATO: Perselisihan mengenai wilayah Greenland menambah kekhawatiran pasar terhadap stabilitas finansial dan keamanan internasional.
- Konflik Ukraina-Rusia: Kegagalan perundingan di Abu Dhabi yang dimediasi AS, ditambah serangan udara yang merusak infrastruktur energi Ukraina, mempertegas risiko investasi di aset berisiko tinggi.
- Ancaman Tarif Donald Trump: Pernyataan Presiden AS mengenai rencana pengenaan tarif 100% terhadap Kanada jika melanjutkan kerja sama dagang dengan China memicu kekhawatiran pecahnya perang dagang baru.
Prediksi Optimis: Menuju US$6.400 per Ons
Analis independen Ross Norman bahkan memberikan proyeksi yang lebih agresif. Ia memperkirakan emas memiliki peluang untuk menyentuh level tertinggi di angka US$6.400 per ons dengan harga rata-rata tahunan berada di kisaran US$5.375.
Kenaikan ini juga merembet pada logam mulia lainnya. Perak (silver) mencatatkan kenaikan ke level US$104,72 per ons, memperkuat posisinya setelah melonjak 147% pada tahun lalu.
Sementara itu, Platinum tetap stabil di level US$2.767 dan Palladium naik tipis ke level US$2.013,50 per ons.