5. Ketegangan Geopolitik dan Krisis Global
Perang, konflik antarnegara, pandemi, hingga krisis energi dapat memicu lonjakan harga emas. Situasi seperti ini meningkatkan rasa ketidakpastian dan kekhawatiran di pasar global.
Ketika risiko meningkat, investor cenderung menghindari aset berisiko tinggi dan beralih ke emas. Lonjakan permintaan yang terjadi secara cepat sering kali membuat harga emas naik signifikan dalam waktu singkat.
6. Keterbatasan Pasokan Emas
Berbeda dengan uang yang bisa dicetak, emas memiliki pasokan terbatas. Proses penambangan emas membutuhkan waktu lama, biaya besar, dan sumber daya yang tidak sedikit. Bahkan, penemuan cadangan emas baru semakin jarang.
Ketika permintaan terus meningkat sementara pasokan relatif stagnan, hukum ekonomi sederhana berlaku: harga akan naik.
7. Faktor Psikologis dan Tren Investasi
Selain faktor ekonomi, psikologi pasar juga berperan besar. Ketika harga emas naik, banyak orang terdorong untuk ikut membeli karena takut ketinggalan momentum (fear of missing out).
Di era digital, akses investasi emas semakin mudah melalui platform online dan aplikasi keuangan. Hal ini membuat minat masyarakat terhadap emas meningkat, yang pada akhirnya ikut mendorong kenaikan harga.
Baca Juga: Mending Beli Emas Batangan atau Perhiasan? Ini Pilihan Terbaik untuk Investasi
Harga emas naik terus bukan tanpa alasan. Kombinasi antara inflasi, ketidakpastian global, kebijakan suku bunga, pelemahan mata uang, hingga keterbatasan pasokan menjadikan emas sebagai aset yang semakin diburu. Ditambah lagi dengan faktor psikologis dan tren investasi modern, permintaan emas terus mengalami peningkatan.
Bagi banyak orang, emas bukan hanya investasi, tetapi juga bentuk perlindungan nilai kekayaan jangka panjang. Selama ketidakpastian ekonomi dan global masih terjadi, emas kemungkinan besar akan tetap menjadi aset favorit, dan harganya pun berpotensi terus meningkat.
Kontributor : Rishna Maulina Pratama