- Wamen ESDM Yuliot menyebut transisi energi berpotensi menarik investasi sekitar Rp1.682,4 triliun menuju swasembada energi.
- Investasi energi bersih ini diproyeksikan menciptakan sekitar 760 ribu lapangan kerja hijau di berbagai tahapan proyek.
- Tantangan utama adalah pendanaan, sehingga diperlukan skema pembiayaan inovatif seperti *blended finance* untuk menarik investor.
Suara.com - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot menyebut transisi energi membuka peluang ekonomi yang sangat besar.
Dia menyebut, upaya menuju energi bersih bisa menarik investasi sekitar Rp1.682,4 triliun.
Menurutnya, angka itu sejalan dengan visi Asta Cita pemerintah untuk mencapai swasembada energi, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi hijau yang berkelanjutan
"Pengembangan ini tidak hanya berdampak pada peningkatan pasokan energi bersih, tetapi juga memberikan penambahan ekonomi yang signifikan. Antara lain mendorong investasi sekitar Rp1.680 triliun lebih," kata Yuliot yang dikutip dari laman Kementerian ESDM, Rabu (4/2/2026).
Dengan nilai investasi itu diproyeksikan akan berdampak langsung terhadap penciptaan lapangan pekerjaan dengan potensi mencapai 760 ribu lapangan kerja hijau (green jobs).
Tersebar mulai dari tahap pra-konstruksi, masa konstruksi, operasi dan pemeliharaan, hingga industri manufaktur komponen pendukung energi terbarukan.

Namun demikian, terdapat tantangan utama dalam realisasinya, yakni aspek pendanaan. Karenanya, Yuliot menekankan urgensi skema pembiayaan inovatif agar proyek-proyek energi hijau menjadi lebih menarik secara komersial (bankable).
"Sektor keuangan, bagaimana kita membuat pembiayaan hijau dengan skema blended finance yang bisa lebih menguntungkan baik bagi pelaku usaha maupun dari sektor finansial itu sendiri," tambahnya.
Yuliot menyatakan bahwa skema blended finance diperlukan untuk menyeimbangkan kelayakan proyek dengan ekspektasi keuntungan investor.
Baca Juga: PLTSa Ditargetkan Mulai Beroperasi pada 2027
Karena APBN terbatas, pencapaian target kapasitas EBT bergantung pada kolaborasi antara pemerintah, BUMN, dan swasta untuk menekan risiko serta menciptakan iklim investasi yang sehat.
"Ini tidak hanya dijalankan oleh pemerintah, tetapi bagaimana kolaborasi kita bersama untuk mewujudkan kelebihan energi, daya saing global dan juga keberlanjutan lingkungan," ungkap Yuliot.