- Harga minyak dunia turun tipis pada Jumat 27 Februari 2026 karena negosiasi nuklir AS-Iran meredakan risiko gangguan pasokan.
- Pasar mengantisipasi keputusan OPEC+ hari Minggu mengenai kenaikan kuota produksi, setelah sempat menahan peningkatan kuota.
- Minyak Brent turun menjadi $70,70 dan WTI menjadi $65,20, menandai penurunan mingguan signifikan bagi kedua jenis minyak.
Suara.com - Harga minyak dunia turun tipis pada perdagangan Jumat 27 Februari 2026 dan cenderung melemah pada penutupan pekan ini, seiring berkurangnya risiko gangguan pasokan akibat berlanjutnya negosiasi nuklir antara AS dan Iran.
Selain itu, pasar juga tengah mengantisipasi hasil pertemuan OPEC+ hari Minggu mendatang, yang diprediksi akan menyepakati kenaikan kuota produksi.
Mengutip dari Reuters minyak mentah Brent berjangka turun 5 sen menjadi 70,70 dolar AS per barel pada pukul 03.31 GMT. Minyak mentah West Texas Intermediate AS turun 1 sen menjadi 65,20 dolar AS.
Untuk pekan ini, harga Brent diperkirakan akan turun 1,8 persen, sementara WTI diperkirakan akan turun sekitar 2,2 persen, membalikkan sebagian dari kenaikan pekan sebelumnya.
Analis senior Sparta Commodities, June Goh, menilai bahwa para pelaku pasar saat ini cenderung bersikap waspada menjelang akhir pekan.
"Para pedagang berada dalam mode menunggu dan melihat menjelang akhir pekan dengan meningkatnya ketegangan dengan Iran di satu sisi, dan pertemuan OPEC+ pada hari Minggu dengan kemungkinan peningkatan produksi di sisi lain," kata Goh.
Pembicaraan tidak langsung antara Amerika Serikat dan Iran kembali digelar di Jenewa sebagai upaya meredam potensi konflik pasca-pengerahan militer AS di wilayah tersebut.

Dinamika negosiasi ini sempat memicu lonjakan harga minyak hingga lebih dari satu dolar per barel menyusul laporan mengenai kebuntuan diskusi.
Hal tersebut disebabkan oleh sikap keras AS yang menuntut Iran menghentikan pengayaan uranium sepenuhnya dan menyerahkan cadangan uranium 60 persen mereka.
Baca Juga: Pertamina Jamin Stok BBM Aman Jelang Mudik Lebaran 2026
Kendati demikian, tren kenaikan harga tersebut akhirnya mereda setelah pihak mediator dari Oman mengonfirmasi adanya perkembangan positif dalam pertemuan antara kedua negara tersebut.
Menteri Luar Negeri Oman, Sayyid Badr Albusaidi, melalui unggahannya di media sosial X mengonfirmasi bahwa negosiasi akan berlanjut ke tahap diskusi teknis.
Pertemuan lanjutan tersebut dijadwalkan berlangsung pekan depan di Wina, Austria, menyusul rangkaian pembicaraan yang sebelumnya digelar di Jenewa.
"Meskipun hal ini awalnya meredakan kekhawatiran akan tindakan militer AS yang akan segera terjadi, hal ini menyisakan sedikit waktu untuk mencapai kesepakatan sebelum tenggat waktu Presiden Trump pada 1-6 Maret," kata Daniel Hynes, seorang analis di ANZ.
Goh dari Sparta mengatakan bahwa nada dari pembicaraan tersebut menunjukkan keengganan dari kedua pihak untuk mengalah, menambahkan bahwa kemungkinan serangan AS terhadap Iran semakin besar tetapi tindakan militer apa pun kemungkinan akan terbatas.
Sebagai langkah antisipasi terhadap risiko gangguan pasokan akibat potensi konflik, Arab Saudi mulai meningkatkan kapasitas produksi dan ekspor minyaknya melalui skema rencana darurat.
Di sisi lain, kelompok OPEC+ diprediksi akan menyepakati kenaikan produksi sebesar 137.000 barel per hari mulai April mendatang dalam pertemuan yang dijadwalkan pada 1 Maret.
Kebijakan ini diambil setelah kelompok tersebut sempat menahan laju kenaikan produksi sepanjang kuartal pertama tahun ini.