- Iran tetap berhasil mengirimkan setidaknya 11,7 juta barel minyak mentah ke China melalui Selat Hormuz sejak 28 Februari 2026.
- Pengiriman minyak dilakukan dengan risiko tinggi; banyak tanker mematikan sistem pelacakan otomatis (go dark) agar tidak terdeteksi.
- Konflik AS-Israel dan Iran menyebabkan lalu lintas pelayaran menurun drastis, meskipun Iran mengaktifkan Terminal Jask sebagai alternatif.
Sebelum perang pecah, pada bulan Februari, Iran sempat mencatat rekor ekspor sebesar 2,16 juta barel per hari ke Beijing. Data bea cukai menunjukkan impor minyak mentah China melonjak 15,8% dibandingkan tahun lalu.
Hingga Januari 2026, China diperkirakan memiliki cadangan minyak sebesar 1,2 miliar barel, jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional selama 3 hingga 4 bulan tanpa impor sama sekali.
Kekhawatiran akan gangguan pasokan sempat mendorong harga minyak mendekati USD 120 per barel pada awal pekan ini. Namun, harga mulai melandai setelah muncul sinyal deeskalasi dan rencana negara-negara G7 untuk merilis cadangan minyak strategis terbesar dalam sejarah.
Pada Rabu (11/3/2026) siang, harga minyak mentah WTI AS berada di kisaran USD 84,1 per barel, sementara standar global Brent diperdagangkan pada level USD 87,9 per barel.