- Kemenhub bersama pemangku kepentingan berhasil mengatasi kepadatan antrean di Pelabuhan Gilimanuk yang sempat mencapai 20 kilometer.
- Langkah penanganan meliputi penambahan kapal menjadi 35 unit dan optimalisasi sistem TBB untuk mempercepat arus penyeberangan.
- Pemerintah memprioritaskan kendaraan kecil dan bus, sementara truk besar ditampung di *buffer zone* dan sopir difasilitasi.
Suara.com - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) bersama sejumlah pemangku kepentingan terus mengurai kemacetan dan antrean kendaraan di jalur menuju Pelabuhan Gilimanuk, Bali. Hasilnya, kepadatan yang sempat mengular kini mulai berangsur teratasi.
Menteri Perhubungan (Menhub), Dudy Purwagandhi, mengklaim panjang antrean kendaraan yang sebelumnya mencapai lebih dari 20 kilometer, kini telah berkurang menjadi sekitar delapan kilometer.
"Kita bekerja mencari solusi dan memitigasi terhadap kondisi di lapangan dan ini bisa jadi pelajaran agar ke depannya tidak terjadi lagi kepadatan di Gilimanuk," ujar Menhub seperti dikutip, Rabu (18/3/2026).
Ia menegaskan, kondisi ini menjadi pembelajaran penting agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang, terutama menjelang periode libur panjang.
![Foto udara sejumlah kendaraan mamadati ruas jalan menuju pelabuhan Gilimanuk, Jembrana, Bali, Minggu (15/3/2026). [ANTARA FOTO/Budi Candra Setya/YU]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/03/16/14558-mudik-lebaran-2026-arus-mudik-2026-pelabuhan-gilimanuk-bali.jpg)
Dalam penanganan kemacetan tersebut, Kementerian Perhubungan berkolaborasi dengan Korlantas Polri dan PT ASDP Indonesia Ferry (Persero).
Sejumlah langkah strategis telah dilakukan, mulai dari pengoperasian kapal berukuran besar, penambahan jumlah armada menjadi 35 kapal, optimalisasi buffer zone, hingga penerapan sistem tiba-bongkar-berangkat (TBB) pada 25 kapal untuk mempercepat arus penyeberangan.
"Dengan dilakukannya langkah-langkah tersebut harapannya terjadi pengurangan kepadatan serta arus lalu lintas bisa berjalan normal kembali dan kepadatan bisa terselesaikan sebelum Hari Raya Nyepi," jelas Menhub.
Selain itu, Menhub juga mengimbau para pengusaha angkutan logistik untuk mematuhi aturan pembatasan operasional kendaraan barang, khususnya truk dengan sumbu tiga ke atas. Pasalnya, masih banyak kendaraan logistik yang beroperasi selama periode Angkutan Lebaran sehingga memicu kepadatan di sekitar pelabuhan.
Sebagai langkah mitigasi lanjutan, pemerintah akan memprioritaskan kendaraan kecil dan bus untuk naik kapal penyeberangan. Sementara kendaraan besar yang tertahan akan diarahkan ke buffer zone.
"Sementara terhadap kendaraan besar, apabila tertahan maka akan ditampung di buffer zone, kemudian sopir-sopirnya akan kita berangkatkan ke Banyuwangi sambil menunggu selesainya perayaan Hari Nyepi," imbuhnya.
Menhub memastikan para sopir kendaraan besar tersebut tidak akan dikenai biaya transportasi dari Gilimanuk menuju Banyuwangi hingga kembali lagi ke Gilimanuk. Biaya akomodasi juga akan ditanggung oleh PT ASDP.
Di sisi lain, pengaturan arus kendaraan juga dilakukan di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, guna menghindari penumpukan kendaraan dari arah Bali. Salah satunya dengan memanfaatkan ruas tol fungsional dari Besuki serta penyediaan buffer zone tambahan.
"Di sisi Ketapang sekarang sudah ada ruas tol fungsional dari Besuki. Dengan adanya jalan tol tersebut diharapkan aliran kendaraan yang tiba dari Gilimanuk bisa teratasi. Ketapang juga ada beberapa buffer zone diperuntukkan sebagai tempat istirahat dan untuk menahan kendaraan," pungkasnya.