- Rupiah stagnan di Rp17.168, penguatan tipis tak berarti di tengah bayang-bayang krisis.
- Kenaikan harga BBM jadi penopang semu kurs, korbankan daya beli demi stabilitas mata uang.
- Sulit tembus ke Rp16.000, Rupiah diprediksi masih betah di level lemah akibat risiko global.
Suara.com - Mata uang Garuda seolah mendapat "napas buatan" pada perdagangan sore ini, Senin (20/4/2026). Meski ditutup menguat, posisi Rupiah masih berada di level yang sangat mengkhawatirkan dan gagal beranjak dari zona merah psikologis Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Mengutip data Bloomberg, mata uang Garuda parkir di level Rp17.168 per dolar AS, atau hanya menguat tipis 0,12 persen dibandingkan penutupan Jumat (17/4/2026) yang berada di posisi Rp17.188. Penguatan ini terasa hambar lantaran dipicu oleh kebijakan pemerintah yang justru memukul daya beli masyarakat.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebut penguatan ini adalah imbas dari keputusan pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi. Sebuah "obat pahit" yang harus ditelan domestik demi menstabilkan kurs.
"Rupiah ditutup menguat terhadap dolar oleh sentimen positif dari kenaikan harga BBM non-subsidi," ujar Lukman saat dihubungi.
Meski sentimen pasar ekuitas Asia sedang menghijau, Lukman memperingatkan bahwa penguatan ini hanyalah riak kecil di tengah tren pelemahan yang dalam. Optimisme pasar belum mampu menyeret Rupiah kembali ke level Rp16.000, apalagi ke posisi prapandemi atau krisis.
"Tapi Rupiah masih sulit turun dari 17 ribu, apalagi 16 ribu untuk saat ini," tegasnya ketus.
Ketidakpastian geopolitik global yang masih membara menjadi bayang-bayang hitam yang siap menerkam kapan saja. Rupiah seolah sedang berjalan di atas titian tipis; sedikit saja guncangan global terjadi, posisi Rp17.168 ini bisa dengan mudah rontok kembali.
Di sisi lain, mayoritas mata uang Asia memang sedang menjadi "bulan-bulanan" dolar AS. Won Korea Selatan memimpin kehancuran dengan anjlok hingga 1 persen, disusul Baht Thailand yang ambles 0,56 persen.
Mata uang negara tetangga lainnya pun tak berdaya:
- Rupee India: Turun 0,27%
- Dolar Singapura: Tertekan 0,2%
- Yen Jepang: Terkoreksi 0,19%
- Ringgit Malaysia: Melemah 0,05%
Hanya Dolar Taiwan (+0,17%) dan Peso Filipina (+0,11%) yang mampu menemani Rupiah di zona hijau tipis. Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia berada di level Rp17.176 per dolar AS.
Namun bagi pelaku usaha dan masyarakat, angka Rp17.000 tetaplah alarm bahaya bagi stabilitas ekonomi nasional yang kian rapuh.