- Indeks utama Wall Street kompak melemah pada penutupan perdagangan Kamis, 23 April 2026, setelah mengalami koreksi pasar yang signifikan.
- Tekanan utama berasal dari anjloknya saham sektor teknologi seperti IBM dan ServiceNow akibat laporan kinerja kuartalan yang mengecewakan investor.
- Eskalasi konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz memicu kenaikan harga minyak serta menekan pasar global.
Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street berbalik melemah pada penutupan perdagangan Kamis, 23 April 2026. Semua indeks utama Wall Street kompak merosot.
Suara.com - Mengutip CNBC, indeks S&P 500 tercatat mengalami pelemahan, sementara Nasdaq Composite turun 0,41 persen ke level 7.108,40, meski sempat mencetak rekor tertinggi intraday sepanjang masa.
Di sisi lain, Dow Jones Industrial Average juga terkoreksi 0,89 persen dan ditutup di posisi 24.438,50, setelah sempat menyentuh rekor tertinggi baru dalam sesi tersebut.
Selain itu, indeks lain kehilangan 179,71 poin atau 0,36 pweawn ke level 49.310,32.
Tekanan utama datang dari sektor teknologi, khususnya saham perangkat lunak. Saham IBM dan ServiceNow masing-masing anjlok lebih dari 8 persen dan hampir 18 persen usai merilis laporan kinerja kuartalan terbaru.
![Ilustrasi perdagangan saham Wall Street. [Unsplash].](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/15/83589-saham-wall-street.jpg)
Meski IBM melampaui ekspektasi pendapatan dan laba, perusahaan mempertahankan panduan setahun penuh yang justru mengecewakan investor. Sementara itu, ServiceNow tertekan akibat perlambatan pertumbuhan pendapatan langganan yang dipicu konflik di Timur Tengah.
Penurunan juga merembet ke saham teknologi lainnya. Saham Microsoft tercatat turun lebih dari 7 persen, sementara Oracle melemah sekitar 6 persen. Adapun saham Palantir Technologies merosot sekitar 4 persen. ETF sektor perangkat lunak, iShares Expanded Tech-Software Sector ETF (IGV), juga terkoreksi sekitar 6 persen.
"Saham sedang berusaha menemukan pijakannya setelah pemulihan luar biasa dari titik terendah bulan Maret," kata Chris Kampitsis, mitra pengelola The SKG Team dari Barnum Financial Group.
"Kami memperkirakan saham akan tetap berada dalam kisaran tertentu dalam jangka pendek karena pasar menunggu katalis berikutnya."
Ia menambahkan bahwa meski pasar mulai kurang sensitif terhadap berita utama tentang Iran, konflik tersebut masih menjadi beban. Saat ini, ketegangan telah berkembang menjadi kebuntuan angkatan laut antara AS dan Iran di tengah gencatan senjata yang rapuh.
Kedua negara dilaporkan saling berebut kendali atas Selat Hormuz dan bahkan telah menyita kapal-kapal komersial dalam sepekan terakhir.
Pada hari yang sama, Presiden Donald Trump memerintahkan Angkatan Laut untuk menembak dan menghancurkan kapal apa pun yang memasang ranjau di wilayah tersebut. "Tidak boleh ada keraguan,” tulisnya dalam unggahan di Truth Social.
Di tengah eskalasi tersebut, harga minyak melonjak. Minyak mentah Brent bertahan di atas USD105 per barel setelah muncul laporan bahwa ketua parlemen Iran mundur dari tim negosiasi, memicu kekhawatiran meningkatnya peran Garda Revolusi.
Selain itu, laporan media Iran menyebut sistem pertahanan udara di Teheran telah diaktifkan untuk menghadapi target musuh, mempertegas tingginya tensi geopolitik yang kini ikut menekan pasar global.