- GIAA pangkas rugi bersih jadi Rp 803,4 M dari sebelumnya Rp 1,3 T di Kuartal I-2026.
- Pendapatan usaha naik tipis jadi Rp 13,17 T, didorong sektor penerbangan berjadwal.
- Biaya operasional masih tinggi capai Rp 6 T, jadi tantangan utama efisiensi.
Suara.com - Maskapai pelat merah PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) masih harus berjuang keluar dari zona merah pada awal tahun ini. Meski demikian, emiten penerbangan kebanggaan nasional ini menunjukkan sinyal pemulihan yang kuat dengan penyusutan angka kerugian yang cukup signifikan sepanjang kuartal I-2026.
Berdasarkan laporan keuangan perseroan, Garuda membukukan rugi bersih sebesar US$ 46,48 juta atau setara dengan Rp 803,4 miliar (asumsi kurs Rp 17.285) hingga akhir Maret 2026. Angka ini membaik drastis jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, di mana perseroan sempat mencatatkan kerugian hingga US$ 76,49 juta atau sekitar Rp 1,3 triliun.
Penyusutan rugi ini sejalan dengan peningkatan pendapatan usaha yang mencapai US$ 762,35 juta (sekitar Rp 13,17 triliun). Realisasi ini tumbuh tipis dibandingkan capaian kuartal I-2025 yang berada di angka US$ 723,56 juta.
Lini penerbangan berjadwal masih menjadi tulang punggung utama bisnis Garuda dengan kontribusi sebesar US$ 648,10 juta atau sekitar Rp 11,2 triliun. Sementara itu, dari sektor penerbangan tidak berjadwal, perseroan mengantongi pendapatan sebesar US$ 24,98 juta.
Namun, operasional penerbangan memang belum sepenuhnya efisien. Garuda masih menanggung beban usaha yang cukup membengkak mencapai US$ 713,22 juta (Rp 12,3 triliun). Dari jumlah tersebut, beban operasional penerbangan menjadi penguras kantong paling besar dengan nilai US$ 350,24 juta atau setara Rp 6 triliun.
Dari sisi neraca keuangan, hingga akhir Maret 2026, total aset GIAA tercatat sebesar US$ 7,5 miliar. Adapun total liabilitas perseroan bertengger di angka US$ 7,4 miliar dengan posisi ekuitas yang masih tipis di level US$ 68,25 juta.
Upaya efisiensi dan optimalisasi rute tampaknya mulai membuahkan hasil bagi maskapai flag carrier ini, meski beban operasional yang tinggi masih menjadi tantangan besar di tengah fluktuasi industri penerbangan global.