- Nilai tukar rupiah melemah ke Rp17.676 per dolar AS dan IHSG turun 0,48 persen pada perdagangan 22 Mei 2026.
- Tekanan pasar dipicu aksi jual investor asing serta kekhawatiran terhadap kebijakan sentralisasi ekspor melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia.
- Bank Indonesia merespons gejolak ekonomi dengan menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,25 persen untuk menjaga stabilitas nilai tukar nasional.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan performa dua pekan lalu, di mana kapitalisasi pasar BEI sempat meroket di kisaran Rp11.825 triliun pada periode 11-13 Mei 2026, bahkan sempat menembus rekor Rp12.406 triliun pada awal Mei (4-8 Mei 2026).
Di samping faktor eksternal, sentimen negatif para pelaku pasar disinyalir ikut terbebani oleh polemik pendirian PT Danantara Sumberdaya Indonesia.
Lembaga baru bentukan Presiden Prabowo Subianto ini memegang mandat tunggal (monopoli) untuk mengelola seluruh arus ekspor komoditas sumber daya alam (SDA) Indonesia.
Kebijakan sentralisasi ekspor ini langsung memantik kritik tajam dari lembaga pemeringkat internasional, S&P Global Ratings. Mereka memperingatkan bahwa pembatasan aturan pengapalan satu pintu berisiko menghambat kinerja ekspor, menekan pendapatan riil negara, serta mengganggu keseimbangan neraca pembayaran.
S&P juga memberi sinyal bahwa ketidakpastian baru ini dapat memengaruhi penilaian peringkat kredit (sovereign rating) Indonesia ke depan.
Di lain pihak, pemerintah memiliki kalkulasi tersendiri. Presiden Prabowo optimis bahwa kendali terpusat ini mampu menghentikan praktik kebocoran bisnis perdagangan internasional.
Berdasarkan kalkulasi pemerintah, skema manipulasi perdagangan selama 22 tahun terakhir telah membuat kekayaan negara sebesar US$343 miliar atau setara Rp6.069,04 triliun mengalir ke luar negeri tanpa pajak yang jelas.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menambahkan bahwa restrukturisasi ini sangat krusial mengingat ketergantungan struktur ekspor Indonesia terhadap sektor SDA masih tergolong masif.
“Kontribusi ekspor komoditas SDA terhadap total ekspor nasional saat ini mencapai sekitar 60%. Komoditas utama yang menjadi penopang ekspor Indonesia meliputi batu bara, crude palm oil (CPO), dan ferro alloy,” urai Airlangga.