Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.765.000
Beli Rp2.635.000
IHSG 6.162,045
LQ45 620,444
Srikehati 309,367
JII 386,908
USD/IDR 17.712

OJK Tekankan Pentingnya Pasar Modal demi Pertumbuhan 7,5 Persen, Tapi Modal Asing Terus Kabur

Liberty Jemadu | Rina Anggraeni | Suara.com

Senin, 25 Mei 2026 | 16:20 WIB
OJK Tekankan Pentingnya Pasar Modal demi Pertumbuhan 7,5 Persen, Tapi Modal Asing Terus Kabur
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi menekankan pentingnya penguatan pasar modal dan keuangan digital untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi nasional 7,5 persen di 2027. [Suara.com/Rina Anggraeni]
  • Ketua Dewan OJK Friderica Widyasari Dewi menekankan pentingnya penguatan pasar modal dan keuangan digital untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi nasional 7,5 persen pada tahun 2027.
  • Indonesia memerlukan total pembiayaan sebesar Rp8.600 triliun yang tidak dapat dipenuhi hanya melalui sektor perbankan, sehingga dibutuhkan diversifikasi sumber pendanaan yang lebih luas.
  • Pemerintah menghadapi tantangan arus keluar modal asing signifikan di pasar obligasi dan saham akibat kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal dan kebijakan domestik.

Suara.com - Ketua Dewan OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan sektor pasar modal dan keuangan digital harus diperkuat agar bisa menjadi tumpuan dalam mencapai target pembangunan ekonomi nasional 7,5 persen di 2027 mendatang.

Hal itu disampaikan Kiki, sapaan akbran Friderica, saat arus keluar modal asing dari Indonesia terus mengalir di tengah kondisi perekonomian dunia yang tak menentu dan situasi domestik juga semakin tidak pasti dengan berbagai kebijakan baru pemerintah.

Kini mengatakan untuk mencapai pertumbuhan 7,5 persen, menurut data Bappenas, diperlukan modal sekitar Rp8.600 triliun. Sementara dana tersebut tak bisa hanya mengandalkan perbankan, tetapi juga pasar modal dan jasa keuangan digital.

"Data dari Bappenas yang menyampaikan bahwa Indonesia butuh angka yang cukup besar untuk pembiayaan, untuk mendukung sektor pertumbuhan ekonomi kita.Mungkin sekitar Rp8.600 triliun," katanya di Balai Kartini, Senin (25/5/2026).

Karena itu, menurutnya, sumber pembiayaan tidak dapat hanya bertumpu pada sektor perbankan, melainkan perlu didukung sektor lain. Salah satunya pasar modal dan layanan keuangan digital.

“Pembiayaan ekonomi Indonesia membutuhkan dukungan yang lebih luas. Tidak hanya dari perbankan, tetapi juga sumber pembiayaan baru agar pertumbuhan ekonomi nasional dapat berjalan optimal,” ujar Friderica.

Ia menjelaskan, intermediasi sektor perbankan masih menunjukkan tren positif. Kredit perbankan pada Maret 2026 tercatat tumbuh sebesar 9,49 persen secara tahunan atau year-on-year menjadi Rp8.659 triliun.

Sementara dana pihak ketiga juga meningkat 13,5 persen secara year-on-year menjadi Rp10.231 triliun dengan kondisi permodalan dan likuiditas yang tetap terjaga.

Selain perbankan, pertumbuhan juga terjadi di sektor lain seperti industri asuransi, dana pensiun, serta perusahaan pembiayaan. Menurut Friderica, seluruh sektor tersebut masih mencatatkan profil risiko yang terkendali sehingga mampu menjaga stabilitas sektor jasa keuangan nasional.

Di sektor pasar modal, OJK mengakui adanya koreksi indeks harga saham seiring dinamika global dan reformasi integritas yang tengah dilakukan. Meski demikian, Friderica menegaskan bahwa investasi di pasar modal Indonesia harus dipandang sebagai investasi jangka panjang dengan mempertimbangkan fundamental ekonomi nasional yang tetap kuat.

“Semua upaya yang dilakukan saat ini bertujuan untuk memperkuat pembiayaan ekonomi nasional, baik dari sektor perbankan maupun sektor lain, terutama pasar modal,” katanya.

Ironisnya itu menurut data Permata Bank, Indonesia menjadi satu-satunya negara di kawasan Asia Tenggara yang mengalami arus modal keluar (capital outflow) di pasar obligasi (bond market). Tak hanya itu, jumlah kapital yang kabur dari pasar modal juga cukup besar.

"Hanya Indonesia yang mengalami outflow. Sedih banget. Hanya Indonesia yang mengalami outflow," tegas ekonom Permata Bank Josua Pardede dalam Pelatihan Media Bank Indonesia di Makassar, Jumat (22/5/2025).

Permata Bank mencatat investor asing masih membukukan net outflow sekitar US$1,48 miliar di pasar obligasi Indonesia sepanjang kuartal I 2026. Sementara di pasar saham, net outflow mencapai US$1,95 miliar.

Josua mengatakan kondisi itu menunjukkan investor global mulai mencermati risiko domestik Indonesia, terutama terkait fiskal dan kualitas kebijakan ekonomi.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pertumbuhan Ekonomi dan Swasembada Pangan Jateng Memuaskan, Tuai Berbagai Pujian

Pertumbuhan Ekonomi dan Swasembada Pangan Jateng Memuaskan, Tuai Berbagai Pujian

News | Senin, 25 Mei 2026 | 15:55 WIB

IHSG Anjlok ke Level 6.000, OJK Beri Pesan untuk Investor

IHSG Anjlok ke Level 6.000, OJK Beri Pesan untuk Investor

Bisnis | Senin, 25 Mei 2026 | 13:01 WIB

OJK Lihat Bisnis BPD Masih Baik-baik Saja

OJK Lihat Bisnis BPD Masih Baik-baik Saja

Bisnis | Minggu, 24 Mei 2026 | 17:05 WIB

Rupiah Anjlok, Nasabah Mulai Berbondong-bondong Nabung Dolar AS

Rupiah Anjlok, Nasabah Mulai Berbondong-bondong Nabung Dolar AS

Bisnis | Minggu, 24 Mei 2026 | 11:14 WIB

Ekonom UI: Masyarakat Kok Makin Miskin kala Pemerintah Klaim Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen

Ekonom UI: Masyarakat Kok Makin Miskin kala Pemerintah Klaim Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen

Bisnis | Sabtu, 23 Mei 2026 | 20:21 WIB

Terkini

Wamen ESDM Buka Suara soal Ganti Rugi Blackout Listrik Sumatra

Wamen ESDM Buka Suara soal Ganti Rugi Blackout Listrik Sumatra

Bisnis | Senin, 25 Mei 2026 | 16:14 WIB

Usai 1 Persen Saham Negara Masuk, Danantara Sumberdaya Indonesia Resmi Jadi BUMN

Usai 1 Persen Saham Negara Masuk, Danantara Sumberdaya Indonesia Resmi Jadi BUMN

Bisnis | Senin, 25 Mei 2026 | 16:05 WIB

BTN Akuisisi Portofolio Kredit SMBCI Rp20 Triliun untuk Perkuat Transformasi Beyond Mortgage

BTN Akuisisi Portofolio Kredit SMBCI Rp20 Triliun untuk Perkuat Transformasi Beyond Mortgage

Bisnis | Senin, 25 Mei 2026 | 16:01 WIB

5 Rekomendasi Investasi di 2026 untuk Dapat Passive Income, Aman dan Menguntungkan

5 Rekomendasi Investasi di 2026 untuk Dapat Passive Income, Aman dan Menguntungkan

Bisnis | Senin, 25 Mei 2026 | 15:44 WIB

Wamenkeu Ungkap 3 Sumber Krisis Ekonomi Negara, Gimana Nasib RI?

Wamenkeu Ungkap 3 Sumber Krisis Ekonomi Negara, Gimana Nasib RI?

Bisnis | Senin, 25 Mei 2026 | 15:33 WIB

Beleid E-Commerce Segera Rampung, Apa Poin Utamanya?

Beleid E-Commerce Segera Rampung, Apa Poin Utamanya?

Bisnis | Senin, 25 Mei 2026 | 15:29 WIB

Rezim Prabowo Semakin Bergerak ke Arah Sosialisme

Rezim Prabowo Semakin Bergerak ke Arah Sosialisme

Bisnis | Senin, 25 Mei 2026 | 15:22 WIB

Danantara Sumberdaya Indonesia Resmi Berlabel BUMN

Danantara Sumberdaya Indonesia Resmi Berlabel BUMN

Bisnis | Senin, 25 Mei 2026 | 14:54 WIB

Mendag Tegaskan Izin Ekspor Masih di Kemendag, Bukan Wewenang Danantara

Mendag Tegaskan Izin Ekspor Masih di Kemendag, Bukan Wewenang Danantara

Bisnis | Senin, 25 Mei 2026 | 14:44 WIB

Gangguan Listrik Sumatra Jadi Momentum Perkuat Infrastruktur PLN

Gangguan Listrik Sumatra Jadi Momentum Perkuat Infrastruktur PLN

Bisnis | Senin, 25 Mei 2026 | 14:37 WIB