- Ekonom Fakhrul Fulvian menyatakan rupiah melemah hingga mendekati Rp18.000 per dolar AS akibat kebijakan domestik, selain karena tekanan global.
- Ketidaksinkronan kebijakan fiskal pemerintah dan moneter Bank Indonesia memicu ketidakpastian serta kredibilitas di mata para pelaku pasar.
- Keputusan mempertahankan subsidi BBM demi stabilitas sosial membuat nilai tukar rupiah menanggung beban ekonomi secara jauh lebih ekstrem.
Dia mengatakan, fenomena ini sering terjadi di negara berkembang yang memilih menjaga stabilitas harga domestik dalam jangka pendek.
Pemerintah Indonesia saat ini menghadapi dilema besar antara menjaga daya beli masyarakat dan menjaga stabilitas eksternal.
Fakhrul menilai, keputusan untuk menahan penyesuaian harga energi dapat dipahami dari sisi sosial dan politik. Namun konsekuensinya, tekanan ekonomi menjadi lebih terkonsentrasi di pasar keuangan.
“Kalau harga domestik dibuat rigid sementara tekanan global terus naik, maka pasar valuta asing akhirnya yang bergerak paling ekstrem,” ia memperingatkan.