- Harga minyak dunia melonjak 2 persen pada 14 Juli 2026 akibat ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran.
- Blokade laut oleh Amerika Serikat di Selat Hormuz memicu kekhawatiran global terhadap keberlangsungan pasokan energi internasional.
- Serangan rudal terhadap kapal tanker di Selat Hormuz meningkatkan risiko ketidakpastian pasokan minyak di pasar global.
Suara.com - Harga minyak dunia melonjak sekitar 2 persen pada perdagangan Selasa 14 Juli 2026 ke level tertinggi dalam empat pekan terakhir.
Kenaikan ini dipicu oleh langkah Amerika Serikat (AS) yang kembali memberlakukan blokade laut terhadap Iran, di tengah saling serang kedua negara di Selat Hormuz yang mengancam kelancaran pasokan energi global.
Harga minyak mentah berjangka Brent naik 1,68 dolar AS menjadi 84,98 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 1,65 dolar AS (2,1 persen) ke posisi 79,79 dolar AS per barel.
Kenaikan ini melanjutkan tren positif setelah pada sesi sebelumnya Brent melonjak hingga 9,6 persen, yang merupakan kenaikan harian terbesar sejak Mei 2020.
Saat ini, harga minyak berada di level tertinggi sejak kedua negara menandatangani nota kesepahaman (MoU) damai pada 17 Juni lalu.
Ketegangan meningkat setelah Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab (UEA) melaporkan dua kapal tanker mereka dihantam rudal jelajah Iran di Selat Hormuz wilayah perairan Oman pada Senin (13/7/2026).
![Ilustrasi Kilang Minyak [Pexels].](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/03/25/18701-ilustrasi-kilang-minyak-harga-minyak-dunia-minyak.jpg)
Insiden tersebut menewaskan satu kru berkewarganegaraan India dan melukai delapan lainnya.
Merespons situasi tersebut, Presiden AS, Donald Trump, menyatakan telah mengaktifkan kembali blokade terhadap pelayaran Iran.
Trump juga menegaskan bahwa AS harus mendapatkan kompensasi atas biaya perlindungan yang diberikan kepada negara-negara sekutu di kawasan Selat Hormuz.
Analis pasar dari KCM Trade, Tim Waterer, menilai eskalasi terbaru ini memberikan risiko baru ke pasar minyak dunia.
"Meskipun penutupan total belum terjadi, tujuan yang saling bertentangan dari kedua belah pihak telah membuat gambaran pasokan menjadi sangat tidak pasti," katanya.
Komando Sentral AS (CENTCOM) mengonfirmasi telah memulai serangan malam ketiga berturut-turut ke wilayah Iran. Kantor berita semi-pemerintah Iran, YJC, melaporkan terdengar tujuh ledakan di kota pelabuhan Bandar Abbas dan dua ledakan di Pulau Kish pada Selasa dini hari.
Di sisi lain, konflik regional turut memanas setelah kelompok Houthi di Yaman menembakkan rudal ke arah Arab Saudi. Serangan ini merupakan balasan atas tudingan bahwa Saudi telah membom bandara yang dikuasai Houthi.
Manajer Portofolio Gabelli Funds, Simon Wong, memperingatkan bahwa jika Houthi memperluas serangan mereka ke jalur pengapalan minyak mentah Arab Saudi di Laut Merah, ketidakpastian pasokan minyak dari Timur Tengah akan semakin memburuk.
Sementara itu dari dalam negeri AS, survei awal Reuters menunjukkan stok minyak mentah AS diperkirakan turun pada pekan lalu, meskipun persediaan bensin dan produk penyulingan diproyeksikan mengalami kenaikan.