- Rupiah tembus Rp18.000 per dolar AS, jadi sorotan media asing.
- Strait Times nilai pasar kini menunggu intervensi besar BI.
- Pelemahan rupiah berisiko memicu arus keluar modal asing.
Suara.com - Kejatuhan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kini menjadi sorotan media internasional. Media ternama asal Singapura, The Straits Times, menempatkan pelemahan rupiah sebagai salah satu berita utama setelah mata uang Garuda akhirnya menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan Kamis (4/6/2026).
Dalam laporannya, The Straits Times menyebut rupiah merosot hingga Rp18.029,5 per dolar AS atau melemah sekitar 0,35 persen dalam sehari. Sepanjang tahun 2026, pelemahan rupiah telah melampaui 7 persen dan menjadikannya sebagai mata uang dengan kinerja terburuk di Asia tahun ini.
Media tersebut menyoroti bahwa level Rp18.000 bukan sekadar angka biasa. Angka tersebut dianggap sebagai batas psikologis penting yang berpotensi memicu kepanikan pasar sekaligus mempercepat arus keluar dana asing dari pasar saham maupun obligasi Indonesia.
Sejumlah lembaga keuangan global seperti BNP Paribas, MUFG Bank, dan PT Mega Capital Sekuritas memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan meningkatkan intensitas intervensi di pasar valas. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan BI kembali menaikkan suku bunga acuan dalam waktu dekat untuk meredam tekanan terhadap rupiah.
Analis BNP Paribas, Parisha Saimbi, dalam laporan tersebut mengatakan bahwa level Rp18.000 menjadi titik yang diawasi ketat pelaku pasar. Menurutnya, otoritas moneter Indonesia kemungkinan akan berupaya keras menahan laju pelemahan agar tidak semakin dalam.
Tekanan terhadap rupiah berasal dari kombinasi faktor eksternal dan domestik. Di tingkat global, lonjakan harga minyak akibat konflik geopolitik dan tingginya suku bunga AS membuat dolar semakin perkasa. Sementara di dalam negeri, investor masih mencermati kondisi fiskal pemerintah, kebutuhan impor energi, serta derasnya arus keluar modal asing.

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, telah menegaskan bahwa tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih berlangsung hingga Juni. BI juga telah melakukan berbagai langkah stabilisasi, mulai dari intervensi di pasar spot dan offshore hingga menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin pada Mei lalu.
Masuknya isu rupiah ke halaman utama media asing menunjukkan bahwa pelemahan mata uang Indonesia kini tidak lagi dipandang sebagai persoalan domestik semata. Pasar global mulai mengamati kemampuan pemerintah dan Bank Indonesia menjaga stabilitas ekonomi di tengah tekanan harga minyak, gejolak geopolitik, dan kekuatan dolar AS yang terus meningkat.