- Sejumlah pengemudi ojek online di Jakarta mengeluhkan penerapan skema potongan 8 persen pada layanan GrabHemat mulai Juli 2026.
- Para pengemudi khawatir kebijakan baru tersebut akan menyebabkan akumulasi potongan lebih besar dibandingkan dengan skema pembagian hasil sebelumnya.
- Mitra pengemudi mendesak pihak aplikator memberikan transparansi perhitungan serta evaluasi kebijakan agar pendapatan harian mereka tidak terus menurun.
Suara.com - Sejumlah pengemudi ojek online (ojol) justru tidak merasa senangan dengan penerapan skema potongan 8 persen. Mereka menilai kebijakan itu dapat mengurangi pendapatan.
Kekhawatiran itu muncul karena mekanisme baru dinilai berpotensi menghasilkan potongan yang lebih besar dibanding skema sebelumnya.
Salah seorang pengemudi Grab, Refli (27), mengaku awalnya menyambut baik kebijakan tersebut. Ia mengira potongan 8 persen akan diterapkan pada layanan reguler yang selama ini memiliki potongan lebih besar.
Namun setelah mengetahui aturan itu berlaku untuk layanan murah bernama GrabHemat, ia mulai merasa khawatir.
"Awalnya sih saya jujur ya, senang gitu. Karena kan saya kira yang 8 persen itu buat yang standar. Ternyata malah buat yang hemat (bagi hasil)," ujar Refli di Jakarta, Selasa (1/7/2026).
![Pengemudi ojek online menunggu penumpang di kawasan senayan, Jakarta, Senin (11/5/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/11/83399-ojek-online-ojek-daring-ilustrasi-ojol-pengemudi-ojol-driver-ojol.jpg)
Menurut Refli, selama ini potongan pada layanan reguler bisa mencapai 20 hingga 30 persen. Sementara GrabHemat umumnya hanya dikenai potongan sekitar 5 hingga 10 persen.
Meski demikian, dengan skema bagi hasil yang baru, ia memperkirakan total potongan yang dibebankan justru bisa lebih besar.
"Yang saya takutin malah lebih gede dari yang biasanya," ujarnya.
Ia mengatakan sebagian besar order yang diterimanya berasal dari GrabHemat. Dalam sehari, pendapatan kotornya rata-rata mencapai Rp300 ribu.
Dari jumlah itu, ia masih harus mengeluarkan biaya operasional sekitar Rp110 ribu untuk sewa motor listrik, baterai, dan kebutuhan makan.
Refli berharap aplikator memberikan penjelasan yang lebih rinci mengenai mekanisme perhitungan potongan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di kalangan mitra pengemudi.
"Kalau menurut saya sih lebih transparan aja ya. Kayak misalnya yang 8 persen ini kan enggak dikabarin tuh gimana-gimananya, apa yang berubah gitu. Ternyata tahu-tahu jebret, yang di hemat. Kirain yang saya kira di standar," ucapnya.
Kekhawatiran serupa disampaikan pengemudi lain, Saripudin Asra (51). Pada hari pertama penerapan aturan baru, ia mengaku sudah merasakan penurunan pendapatan dari sejumlah order GrabHemat yang diterimanya.
"Baru berjalan satu hari, saya ngerasain kayaknya terpuruk," kata Saripudin.
Ia menuturkan selama ini pendapatan hariannya berkisar Rp150 ribu. Dengan skema baru, ia khawatir penghasilannya semakin berkurang setelah potongan dihitung secara akumulatif pada akhir hari.
"Kalau menurut saya, saya terpuruk," ujarnya.
Meski demikian, Saripudin mengaku masih menunggu hasil perhitungan potongan pada malam hari untuk mengetahui dampak sebenarnya dari kebijakan tersebut. Ia berharap skema baru dapat dievaluasi apabila terbukti mengurangi pendapatan para mitra pengemudi.
"Mudah-mudahan sih cuman 3 bulan doang, mungkin ada perubahan lagi," pungkas Saripudin.