Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.595.000
Beli Rp2.480.000
IHSG 5.873,372
LQ45 582,884
Srikehati 289,451
JII 342,406
USD/IDR 18.000

Plastik Murah China Kepung RI, Industri Petrokimia Terancam Tumbang

Mohammad Fadil Djailani

Kamis, 09 Juli 2026 | 10:04 WIB
Plastik Murah China Kepung RI, Industri Petrokimia Terancam Tumbang
Pedagang melayani pembeli plastik di Pasar Minggu, Jakarta, Kamis (9/4/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
baca 10 detik
  • Impor plastik murah China gerus laba dan daya saing industri nasional.
  • Pengurangan jam kerja mulai terjadi, ancaman PHK semakin nyata.
  • Industri desak anti-dumping dan gas murah demi selamatkan investasi.

Suara.com - Industri petrokimia nasional menghadapi tekanan ganda. Di satu sisi, produk bahan baku plastik impor asal China membanjiri pasar domestik dengan harga yang diduga hasil praktik dumping. Di sisi lain, mahalnya harga gas industri membuat produsen dalam negeri semakin sulit bersaing.

Kondisi tersebut mulai menggerus keuntungan perusahaan, menekan utilisasi pabrik, hingga memicu pengurangan jam operasional di sejumlah industri. Pelaku usaha pun mendesak pemerintah segera menerapkan kebijakan pengamanan perdagangan sebelum tekanan tersebut berkembang menjadi gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) dan memperburuk iklim investasi.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas), Fajar Budiono, mengatakan lonjakan impor bahan baku plastik seperti polyethylene (PE), polypropylene (PP), polyvinyl chloride (PVC), dan polyethylene terephthalate (PET) dari China semakin sulit dibendung.

"Impor bahan baku plastik dari China naik cukup tinggi secara volume. Mereka juga banting harga sehingga produknya jauh lebih murah dibandingkan produk lainnya," ujar Fajar di Jakarta, Rabu (8/7/2026).

Menurutnya, perang harga tersebut membuat ruang keuntungan produsen nasional semakin menyempit. Bahkan untuk produk PET dan PVC, produsen dalam negeri terpaksa mengalihkan penjualan ke pasar ekspor dengan margin yang sangat tipis hanya untuk menjaga utilisasi pabrik.

Di tengah tekanan tersebut, industri juga masih dibebani tingginya harga gas yang belum memperoleh kepastian skema Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT). Sementara harga gas non-HGBT yang mencapai sekitar US$13 per MMBtu dinilai membuat biaya produksi Indonesia jauh lebih tinggi dibandingkan negara pesaing.

"Kalau tidak segera ada kebijakan, utilisasi industri hulu akan terus turun. Margin keuntungan semakin tipis dan daya saing industri nasional semakin melemah," katanya.

Ironisnya, tekanan tersebut muncul ketika kebutuhan bahan baku plastik nasional masih sangat besar. Permintaan polyethylene (PE) di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 2 juta ton per tahun, sementara kapasitas produksi domestik baru sekitar 1,2 juta ton, sehingga impor masih mencapai 800-900 ribu ton.

Kondisi serupa terjadi pada polypropylene (PP). Kebutuhan nasional mencapai sekitar 2,1 juta ton, sedangkan produksi dalam negeri baru sekitar 900 ribu ton, membuat impor masih berada di kisaran 1,2 juta ton setiap tahun.

baca juga

Ketergantungan impor yang tinggi tersebut menjadikan Indonesia pasar empuk bagi limpahan produk murah dari China, terutama setelah perubahan arus perdagangan global membuat ekspor Negeri Tirai Bambu semakin agresif memasuki berbagai negara.

Dampaknya mulai terasa di sektor industri. Sejumlah perusahaan memang belum melakukan PHK, namun telah mengurangi jam kerja karyawan akibat menurunnya aktivitas produksi.

"Yang sebelumnya bekerja dengan sistem shift sekarang berubah menjadi sistem harian. Kalau kondisi ini terus berlangsung tentu bisa berujung pada PHK. Sementara sektor pendukung seperti logistik, bongkar muat, dan jasa lainnya sudah mulai mengalami penurunan aktivitas," ujar Fajar.

Ia mengatakan pelaku industri sebenarnya tengah mempertimbangkan pengajuan instrumen anti-dumping. Namun proses tersebut membutuhkan data resmi serta koordinasi lintas kementerian yang selama ini dinilai berjalan lambat.

Karena itu, Inaplas meminta pemerintah segera memimpin langkah pengamanan perdagangan melalui percepatan proses Bea Masuk Anti-Dumping (BMAD) agar industri nasional tidak semakin terpuruk.

"Kalau terlalu lama, industrinya bisa keburu mati sebelum perlindungan diberikan," tegasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Penjualan EV China Menurun, Apa Sebab?

Penjualan EV China Menurun, Apa Sebab?

Otomotif | Rabu, 08 Juli 2026 | 16:55 WIB

Krisis Kapal Pengangkut Paksa Produsen Mobil China Gunakan Strategi Darurat demi Ekspor Global

Krisis Kapal Pengangkut Paksa Produsen Mobil China Gunakan Strategi Darurat demi Ekspor Global

Otomotif | Selasa, 07 Juli 2026 | 20:11 WIB

Bukan Lagi Fiksi Ilmiah, Taksi Tanpa Sopir Asal China Kini Siap Kuasai Jalanan

Bukan Lagi Fiksi Ilmiah, Taksi Tanpa Sopir Asal China Kini Siap Kuasai Jalanan

Your Say | Minggu, 05 Juli 2026 | 14:28 WIB

Terkini

Kolaborasi Pendidikan Hukum Nasional Diyakini Perkuat Kepastian Investasi di Indonesia

Kolaborasi Pendidikan Hukum Nasional Diyakini Perkuat Kepastian Investasi di Indonesia

Bisnis | Kamis, 09 Juli 2026 | 09:58 WIB

Rupiah Paling Lemah di Asia Lawan Dolar AS ke Level Rp18.058

Rupiah Paling Lemah di Asia Lawan Dolar AS ke Level Rp18.058

Bisnis | Kamis, 09 Juli 2026 | 09:44 WIB

Nasib LPG 3 Kg Mulai Terjawab, Pertagas Beberkan Kesiapan Proyek CNG

Nasib LPG 3 Kg Mulai Terjawab, Pertagas Beberkan Kesiapan Proyek CNG

Bisnis | Kamis, 09 Juli 2026 | 09:25 WIB

Bank Danamon Proyeksikan Simpanan Valas Naik hingga 60 Persen, Ini Pendorong Utamanya

Bank Danamon Proyeksikan Simpanan Valas Naik hingga 60 Persen, Ini Pendorong Utamanya

Bisnis | Kamis, 09 Juli 2026 | 08:40 WIB

Fantastis! Segini Harga 74 Kilogram Emas Batangan Hasil Sitaan Kasus Korupsi di Sentul

Fantastis! Segini Harga 74 Kilogram Emas Batangan Hasil Sitaan Kasus Korupsi di Sentul

Bisnis | Kamis, 09 Juli 2026 | 08:02 WIB

Harga Anjlok, Direksi AMMN Malah Serok Saham Rp17 Miliar, Ada Apa?

Harga Anjlok, Direksi AMMN Malah Serok Saham Rp17 Miliar, Ada Apa?

Bisnis | Kamis, 09 Juli 2026 | 07:49 WIB

BTN Catat Laba Bersih Rp1,85 Triliun hingga Mei 2026, Ini Pendorongnya

BTN Catat Laba Bersih Rp1,85 Triliun hingga Mei 2026, Ini Pendorongnya

Bisnis | Kamis, 09 Juli 2026 | 07:42 WIB

IHSG Terkoreksi di Tengah Isu Turun Kelas, Harga Minyak Dunia Melonjak Lagi

IHSG Terkoreksi di Tengah Isu Turun Kelas, Harga Minyak Dunia Melonjak Lagi

Bisnis | Kamis, 09 Juli 2026 | 07:32 WIB

Indeks Keyakinan Konsumen Turun ke 117,8 pada Juni 2026, BI: Masyarakat Masih Optimistis

Indeks Keyakinan Konsumen Turun ke 117,8 pada Juni 2026, BI: Masyarakat Masih Optimistis

Bisnis | Kamis, 09 Juli 2026 | 07:17 WIB

IHSG Berpotensi Koreksi ke Level 5.850 Usai Trump Singgung Perang Berlanjut

IHSG Berpotensi Koreksi ke Level 5.850 Usai Trump Singgung Perang Berlanjut

Bisnis | Kamis, 09 Juli 2026 | 06:57 WIB

×