- Impor plastik murah China gerus laba dan daya saing industri nasional.
- Pengurangan jam kerja mulai terjadi, ancaman PHK semakin nyata.
- Industri desak anti-dumping dan gas murah demi selamatkan investasi.
Selain menggerus keuntungan perusahaan, Fajar menilai praktik dumping juga mulai memengaruhi minat investasi di sektor petrokimia. Investor dinilai akan memilih menunda ekspansi hingga terdapat kepastian perlindungan terhadap industri domestik.
"Kalau dumping terus dibiarkan, investasi baru bisa tertunda sampai setelah 2030. Masalahnya, sebelum investasi itu datang, industri yang sudah ada bisa lebih dulu rontok," ujarnya.
Senada, Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai praktik dumping tidak hanya menekan harga jual produk dalam negeri, tetapi juga mengurangi kemampuan industri untuk berinvestasi dan memperluas kapasitas produksi.
Menurut Yusuf, praktik tersebut memicu price undercutting dan price suppression yang membuat margin keuntungan terus menyusut sehingga utilisasi pabrik ikut menurun.
"Jika tekanan impor murah terus berlangsung, penghentian produksi, PHK, hingga deindustrialisasi akibat ketergantungan impor akan semakin sulit dihindari," katanya.
Meski demikian, Yusuf mengingatkan penerapan Bea Masuk Anti-Dumping harus dilakukan secara hati-hati agar tidak justru membebani industri hilir yang masih membutuhkan bahan baku impor.
"BMAD bukan untuk menutup impor, tetapi memulihkan persaingan yang sehat. Kebijakannya harus menjaga keseimbangan antara perlindungan industri hulu dan keberlangsungan industri hilir," ujarnya.
Ia menambahkan perlindungan perdagangan saja belum cukup. Pemerintah juga perlu mempercepat reformasi biaya energi melalui penurunan harga gas industri agar produsen domestik mampu bersaing secara berkelanjutan dengan produk impor.
- Penjualan EV China Menurun, Apa Sebab?
Baca Juga