- Bank Indonesia memperkirakan Indeks Penjualan Riil Juni 2026 mencapai 221,6 dengan tren penjualan eceran yang tetap terjaga.
- Penjualan eceran Juni 2026 terkontraksi bulanan sebesar 0,8 persen akibat penyesuaian aktivitas meski didukung periode libur sekolah.
- Kelompok suku cadang, aksesori, dan perlengkapan rumah tangga menjadi pendorong utama ketahanan konsumsi masyarakat pada Juni 2026.
Suara.com - Bank Indonesia (BI) memperkirakan penjualan eceran Juni 2026 tetap menunjukkan ketahanan di tengah perlambatan aktivitas konsumsi.
Hal tersebut tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Juni 2026 yang diprakirakan mencapai 221,6, ditopang oleh pertumbuhan penjualan pada kelompok suku cadang dan aksesori serta perlengkapan rumah tangga lainnya.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan hasil Survei Penjualan Eceran menunjukkan aktivitas ritel masih berada dalam tren yang positif meski menghadapi tekanan musiman.
"Penjualan eceran pada Juni 2026 diprakirakan tetap terjaga. Indeks Penjualan Riil (IPR) Juni 2026 diprakirakan sebesar 221,6, terutama ditopang oleh pertumbuhan positif penjualan secara tahunan pada Kelompok Suku Cadang dan Aksesori maupun Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya," terang Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, dalam siaran pers, Jumat (10/7/2026).
Tidak hanya itu, prospek penjualan eceran, Indeks Penjualan Riil, dan konsumsi masyarakat menjadi indikator yang mencerminkan daya beli domestik masih cukup kuat.
Secara bulanan, penjualan eceran Juni 2026 diprakirakan mengalami kontraksi sebesar 0,8 persen dibandingkan bulan sebelumnya (month to month/mtm).
![Direktur Eksekutif Komunikasi BI Ramdan Denny di Gedung BI, Jumat (7/11/2025). [Suara.com/Rina]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/11/07/33219-direktur-eksekutif-komunikasi-bi-ramdan-denny.jpg)
Meski masih terkontraksi, penurunan tersebut lebih baik dibandingkan Mei 2026 yang tercatat turun 1,5 persen.
Bank Indonesia menilai perbaikan kinerja penjualan eceran didukung oleh dimulainya periode libur sekolah pada akhir Juni yang mendorong aktivitas belanja masyarakat.
Sementara itu, pada Mei 2026, Indeks Penjualan Riil tercatat sebesar 223,4. Kinerja tersebut didukung oleh pertumbuhan tahunan pada kelompok suku cadang dan aksesori, bahan bakar kendaraan bermotor, serta barang budaya dan rekreasi.
Secara bulanan, penjualan eceran pada Mei 2026 mengalami kontraksi 1,5 persen, namun lebih baik dibandingkan penurunan 11,6 persen pada April 2026.
Perbaikan tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan masyarakat selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), yakni Kenaikan Yesus Kristus, Iduladha, dan Waisak.
Dari sisi harga, Bank Indonesia memperkirakan tekanan inflasi pada Agustus 2026 akan meningkat.
Hal itu tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Agustus 2026 yang diprakirakan mencapai 178,0, lebih tinggi dibandingkan Juli 2026 sebesar 175,8. Kenaikan ekspektasi harga tersebut didorong oleh meningkatnya harga bahan baku.
Adapun untuk November 2026, tekanan harga diperkirakan relatif stabil. IEH November 2026 diproyeksikan berada di level 167,5, hampir tidak berubah dibandingkan IEH Oktober 2026 yang tercatat 167,6.
Ramdan Denny menegaskan bahwa hasil Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia menunjukkan konsumsi rumah tangga masih memiliki daya tahan yang cukup baik, meski aktivitas ritel mengalami penyesuaian secara bulanan.
"Secara bulanan, penjualan eceran pada Juni 2026 diprakirakan turun sebesar 0,8 persen (mtm), lebih baik dibandingkan periode sebelumnya yang turun sebesar 1,5 persen (mtm). Perkembangan ini dipengaruhi oleh mulainya periode libur sekolah pada akhir Juni 2026," kata Ramdan Denny.
![Ilustrasi Bank Indonesia. [Suara.com]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/07/01/30235-bank-indonesia.jpg)
Ke depan, Bank Indonesia akan terus memantau perkembangan penjualan eceran, konsumsi masyarakat, dan inflasisebagai indikator penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Stabilnya daya beli masyarakat diharapkan dapat menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah berbagai tantangan global.