- PINTU dan Universitas Paramadina menggelar program literasi digital "Cek Sebelum Cekcok" untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap hoaks, deepfake, dan ancaman siber berbasis AI.
- Peserta dibekali tips mengenali hoaks, menghindari penipuan digital, menerapkan prinsip "saring sebelum sharing", serta tidak mudah percaya dan mengklik tautan mencurigakan.
- AI didorong untuk dimanfaatkan secara positif guna meningkatkan produktivitas dan aktivitas sehari-hari, di tengah meningkatnya ancaman penipuan digital di Indonesia.
"Terakhir bisa mendukung untuk berjualan, seperti membuatkan caption untuk media sosial, menghitung pembukuan, dan lain-lainnya. Jadi AI ini hanya alat yang harusnya bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif,” lanjutnya.
Dalam penggunaan teknologi AI, Indonesia disebut sebagai negara dengan tingkat adopsi yang tinggi.
Berdasarkan laporan Global Workforce Hopes and Fears Survey 2025 dari PwC Indonesia, 69% pekerja Indonesia yang disurvei menyatakan telah memanfaatkan AI dalam pekerjaannya sepanjang satu tahun terakhir untuk meningkatkan produktivitas.
Di sisi lain, Komdigi menyoroti adanya peningkatan ancaman penipuan berbasis digital di Indonesia yang kerugiannya ditaksir sekitar Rp7,5 triliun.
"Kami memiliki komitmen untuk mendukung program edukasi dan literasi bagi masyarakat agar masyarakat bisa lebih waspada terhadap segala bentuk tindak kejahatan berbasis digital serta mampu memanfaatkan kemajuan teknologi untuk kehidupan yang lebih baik," papar Reyner.
"Kami mengapresiasi Universitas Paramadina yang telah menggagas kegiatan ini yang diharapkan bisa meningkatkan pemahaman lebih dalam mengenai bahaya hoaks dan penipuan digital," tandas Reyner.