- Harga minyak dunia melonjak lebih dari 4 persen pada Senin (13/7/2026) akibat eskalasi konflik militer di Selat Hormuz.
- Pasukan Amerika Serikat dan Iran saling melancarkan serangan udara yang menargetkan posisi militer di lokasi strategis tersebut.
- Ketegangan militer memicu penurunan volume distribusi minyak mentah dunia serta mengancam kelangsungan perjanjian damai kedua negara.
Suara.com - Harga minyak mentah dunia mencatatkan lonjakan signifikan di atas 4 persen pada perdagangan Senin (13/7/2026) siang (WIB).
Kenaikan tajam ini dipicu oleh meningkatnya ancaman terhadap jalur distribusi energi di Selat Hormuz, menyusul pengumuman rangkaian serangan militer terbaru yang melibatkan pasukan Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Berdasarkan data pasar komoditas pada pukul 10.25 WIB, kontrak berjangka minyak mentah jenis Brent menguat sebesar USD3,10 atau sekitar 4,08 persen ke posisi USD79,11 per barel.
Pada saat yang sama, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) pasokan AS terkerek naik USD2,95 atau 4,11 persen, menempatkan posisinya pada level USD74,36 per barel.
Komando Sentral AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa pasukannya telah merampungkan gelombang serangan baru terhadap posisi Iran pada hari Minggu kemarin.
Operasi tersebut menyasar puluhan target strategis di sejumlah lokasi terpisah menggunakan amunisi berpandu presisi.
Sebagai aksi balasan, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengumumkan pada Senin ini bahwa mereka telah meluncurkan serangan yang membidik pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait dan Bahrain.
Di tengah situasi yang memanas, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Jalur Selat Hormuz masih terbuka bagi aktivitas pelayaran komersial.
Pernyataan tersebut bertolak belakang dengan klaim Teheran sebelumnya yang menegaskan telah menutup jalur perairan vital itu, setelah sebuah kapal dagang dilaporkan terkena serangan karena melintasi rute yang tidak mendapatkan izin otoritas setempat.
Penurunan Volume Distribusi dan Ketidakpastian Gencatan Senjata
Seperti yang dilaporkan Reuters, sebelum konflik bersenjata pecah pada akhir Februari lalu, sekitar 20 persen dari total pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia bergantung pada akses Selat Hormuz.
Namun, data pelacakan kapal komersial dari Kpler menunjukkan hanya ada enam kapal terintegrasi yang melintasi selat tersebut pada hari Minggu, menandai volume lalu lintas harian terendah dalam lima pekan terakhir.
Rentetan serangan ini kian mengancam kelangsungan perjanjian interim yang disepakati oleh AS dan Iran bulan lalu. Perjanjian tersebut semula ditargetkan menjadi landasan untuk membuka kembali akses selat secara penuh dan mengakhiri konflik melalui perundingan lanjutan selama 60 hari.
Badan Energi Internasional (IEA) dalam laporan bulanan terbarunya mencatat bahwa pasokan minyak global sempat merangkak naik 4,1 juta barel per hari (bpd) pada Juni pasca-kesepakatan tersebut. Meski demikian, total produksi dunia saat ini terpantau masih defisit 9,4 juta bpd jika dibandingkan dengan level produksi sebelum pecahnya perang.
Tim analis dari bank ANZ menilai eskalasi ketegangan yang terjadi sepanjang akhir pekan ini mengikis harapan pelaku pasar terhadap resolusi konflik yang cepat.