- Harga minyak dunia melonjak lebih dari 4 persen pada Senin (13/7/2026) akibat eskalasi konflik militer di Selat Hormuz.
- Pasukan Amerika Serikat dan Iran saling melancarkan serangan udara yang menargetkan posisi militer di lokasi strategis tersebut.
- Ketegangan militer memicu penurunan volume distribusi minyak mentah dunia serta mengancam kelangsungan perjanjian damai kedua negara.
Dinamika di lapangan menunjukkan peta konflik yang semakin rumit bagi jalur pasokan energi terintegrasi.
Sementara itu, analis pasar dari IG, Tony Sycamore, memberikan pandangan yang sedikit berbeda mengenai respons pergerakan harga.
Menurut analisisnya, kenaikan harga minyak yang relatif terukur ini mengindikasikan bahwa pelaku pasar saat ini melihat ketegangan yang terjadi masih berada dalam koridor eskalasi di tengah gencatan senjata yang rapuh, dan belum mengarah pada kegagalan total dari upaya damai.
"Kendati demikian, seberapa akurat pandangan pasar tersebut masih harus kita cermati perkembangannya ke depan," jelas Sycamore dalam catatan resminya.