- PT Freeport Indonesia memproyeksikan kontribusi kepada negara menurun menjadi USD 2,6 miliar pada tahun 2026 akibat kendala produksi.
- Penurunan produksi terjadi karena dampak longsor di area tambang bawah tanah Grasberg pada September tahun lalu.
- Freeport menargetkan kontribusi ke negara hingga USD 7 miliar setelah kapasitas operasional tambang kembali ke tingkat normal.
Suara.com - PT Freeport Indonesia (PTFI) memproyeksikan total kontribusi perusahaan kepada penerimaan negara pada tahun 2026 ini akan menurun menjadi USD 2,6 miliar (sekitar Rp40 triliun). Angka tersebut turun dibanding realisasi tahun lalu yang mencapai USD 4,3 miliar.
Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Tony Wenas, menjelaskan bahwa penurunan kontribusi ini sejalan dengan penyesuaian kapasitas operasional hulu perusahaan. Proyeksi keuangan tersebut dihitung dengan asumsi harga tembaga sebesar USD 6 per pound dan harga emas sebesar USD 4.500 per ounce.
"Di tahun 2026 penerimaan negara yang terdiri dari pajak, dividen, dan royalti itu memang menurun menjadi USD 2,6 miliar dari tahun lalu USD 4,3 miliar," ujar Tony saat rapat dengar pendapat dengan Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta pada Selasa (14/7/2026).
Meskipun mengalami penurunan secara keseluruhan, Tony menyebut pemerintah masih akan menerima setoran dividen sebesar USD 1,1 miliar melalui Holding Industri Pertambangan Indonesia, MIND ID.
Namun, kontribusi ini diproyeksikan kembali meningkat pada tahun-tahun berikutnya seiring dengan rencana pemulihan kapasitas produksi ke level normal. Pada tahun 2027, penerimaan negara ditargetkan naik menjadi USD 4,7 miliar.
Jumlah tersebut terdiri atas Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dan royalti sebesar USD 800 juta, pajak perseroan badan sebesar USD 1,9 miliar, serta dividen untuk pemerintah melalui MIND ID sebesar USD 1,9 miliar.
Menurut Tony, saat operasional tambang telah kembali ke kapasitas penuh, kontribusi tahunan Freeport kepada kas negara diproyeksikan mampu menembus angka USD 7 miliar atau setara sekitar Rp120 triliun per tahun.
"Begitu masuk sudah kapasitas produksi penuh, kita lihat bahwa penerimaan negara akan bisa melebihi USD 7 miliar per tahun. Jadi kalau kita rupiahkan itu kira-kira sekitar Rp 120 triliun per tahun," pungkasnya.
Adapun penurunan kontribusi ke penerimaan negara tersebut diakibatkan penurunan produksi PTFI akibat longsor yang terjadi di area tambang bawah tanah Grasberg block caving pada September tahun lalu.
Akibatnya terjadinya penurunan produksi. Pada tahun ini produksi emas perusahaan diperkirakan turun menjadi 21 ton atau sekitar 700 ribu ounces . Sementara produksi tembaga turun menjadi 800 juta pound.