- Direktur Utama PT Bursa Berjangka Jakarta, Yazid Kanca Surya, menyatakan Indonesia perlu memperkuat mekanisme pembentukan harga domestik di Jakarta pada Rabu, 5 Agustus 2026.
- Penguatan mekanisme tersebut bertujuan menciptakan harga referensi komoditas yang kredibel bagi produsen minyak sawit terbesar di dunia guna menggantikan acuan harga internasional.
- Volume transaksi olein di PT Bursa Berjangka Jakarta mencapai 67.564 lot dengan nilai transaksi sekitar Rp6,85 triliun selama periode 28 Juni hingga 25 Juli 2026.
Pergerakan harga saat ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi pasokan, permintaan global, harga energi, hingga kebijakan perdagangan di berbagai negara.
![Jakarta Future Exchange. [jfx.co.id]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2016/06/30/o_1amg7lt25fn1fkb1hjlim4mo2a.jpg)
"Dalam situasi seperti ini, pelaku usaha membutuhkan referensi harga yang dapat dipercaya. Harga tersebut menjadi dasar dalam menyusun strategi penjualan, menjaga margin usaha, hingga melakukan lindung nilai terhadap fluktuasi harga. Semakin baik proses price discovery, semakin kuat pula dasar pengambilan keputusan bagi dunia usaha," ungkapnya.
Selain itu, aktivitas perdagangan komoditas lain di JFX juga mencatatkan kinerja positif. Sepanjang Juli 2026, transaksi timah ekspor mencapai 2.855 lot dengan nilai transaksi sekitar Rp2,66 triliun, meskipun harga acuan timah di London Metal Exchange (LME) hanya mengalami koreksi tipis sebesar 0,19 persen pada periode 19–25 Juli 2026.
Sementara itu, aktivitas Perdagangan Akses Luar Negeri (PALN) membukukan nilai transaksi sekitar Rp54,45 triliundengan volume lebih dari 3,92 juta lot pada periode yang sama.
Secara keseluruhan, nilai transaksi perdagangan di JFX sepanjang Juli 2026 mencapai sekitar Rp3.268 triliun, yang berasal dari transaksi multilateral, bilateral, dan PALN.
Yazid menilai, meningkatnya aktivitas perdagangan tersebut menunjukkan mekanisme bursa semakin dimanfaatkan tidak hanya sebagai sarana transaksi, tetapi juga sebagai instrumen pembentukan harga yang transparan dan dapat dipercaya oleh pelaku pasar.
"Tujuan akhirnya bukan sekadar memiliki harga referensi domestik. Yang lebih penting adalah membangun proses pembentukan harga yang dipercaya oleh pelaku pasar karena lahir dari transaksi yang nyata dan transparan. Ketika proses tersebut semakin kuat, manfaatnya tidak hanya dirasakan pelaku usaha melalui pengelolaan risiko yang lebih baik, tetapi juga mendukung transparansi perdagangan komoditas nasional secara keseluruhan," beber Yazid.