- Gunung Anak Krakatau meletus sejak Jumat (4/9), menyebarkan abu vulkanik ke berbagai wilayah di Pulau Jawa dan Sumatra.
- Letusan tersebut melumpuhkan sektor transportasi udara sehingga pemerintah memperpanjang penutupan enam bandara penting hingga Senin (7/9/2026).
- Kementerian Perhubungan mencatat 1.558 penerbangan tertunda dan 170.000 penumpang tertahan akibat bencana alam letusan gunung tersebut.
Berdasarkan analisis pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebaran material abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terdeteksi membumbung tinggi dan membentang luas. Pemantauan citra RGB Himawari-9 yang disinkronkan dengan data PVMBG serta VAAC Darwin menunjukkan keberadaan dua klaster utama pergerakan abu.
"Berdasarkan informasi PVMBG dan VAAC Darwin serta analisis citra RGB Himawari-9 pada 6 September 2026 pukul 04.00 WIB, teridentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau," tulis BMKG dalam keterangan resminya.
Pola sebaran abu vulkanik tersebut terbagi menjadi dua klaster berdasarkan arah angin dan tingkat ketinggian:
Klaster Ketinggian hingga 20.000 Kaki (Arah Timur Laut – Selatan): Memapari sebagian wilayah DKI Jakarta (termasuk area Jakarta Selatan seperti Lenteng Agung), sebagian wilayah Banten, serta sebagian wilayah Jawa Barat seperti Bogor, Depok, Sukabumi, Cianjur, hingga Bandung Barat, beserta perairan di sekitarnya.
Klaster Ketinggian hingga 50.000 Kaki (Arah Barat Daya – Barat Laut): Menjangkau cakupan yang lebih luas mencakup sebagian Banten, Lampung, Bengkulu, Sumatra Selatan, hingga Sumatra Barat. Selain daratan, klaster ketinggian ini melingkupi Selat Sunda bagian selatan serta perairan Samudra Hindia di sebelah barat Bengkulu, Lampung, dan Banten.