Kemarau Panjang Picu Paceklik, Pemerintah Ungkap Potensi Kenaikan Harga Beras

Dythia Novianty, Fakhri Fuadi Muflih

Selasa, 08 September 2026 | 09:26 WIB
Kemarau Panjang Picu Paceklik, Pemerintah Ungkap Potensi Kenaikan Harga Beras
Menko Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas). [Suara.com/Dicky Prastya]
baca 10 detik
  • Pemerintah mewaspadai kenaikan harga beras akibat musim kemarau kering yang menyebabkan minimnya produksi padi petani.
  • Menko Pangan Zulkifli Hasan menyatakan harga beras mulai naik tipis karena terganggunya keseimbangan pasokan dan permintaan pasar.
  • Pemerintah menambah pasokan beras SPHP medium sebanyak satu juta ton untuk mengantisipasi masa paceklik hingga awal 2027.

Suara.com - Pemerintah mewaspadai kenaikan harga beras di tengah musim kemarau panjang yang membuat produksi padi petani mulai berkurang.

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan alias Zulhas, mengatakan, kondisi kemarau tahun ini berbeda dibandingkan tahun lalu. 

Pada 2025, Indonesia mengalami kemarau basah sehingga petani masih bisa menanam padi hingga akhir tahun.

Kondisi tersebut membuat pasokan beras dari petani tetap tersedia di pasar. Namun, situasi berubah pada tahun ini karena musim kemarau berlangsung lebih kering.

"Kalau tahun lalu kita kemarau basah. Kemarau basah itu bulan-bulan ini sampai Desember masih ada hujan, sehingga kita masih bisa tanam padi, jadi di pasaran masih ada suplai dari petani," kata Zulhas kepada wartawan, Senin (7/9/2026).

Menurutnya, petani masih produksi beras karena masih bisa nanam. Tapi tahun ini kering, tidak ada, hampir tidak ada lagi sawah petani yang produksi, yang kita sebut paceklik atau gadu apa namanya ya. 

Foto udara persawahan yang kering terdampak musim kemarau di Desa Wening Galih, Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (28/8/2026). [ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/bar]
Foto udara persawahan yang kering terdampak musim kemarau. [ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/bar]

"Jadi enggak ada produksi," imbuhnya.

Menurut pria yang akrab disapa Zulhas itu, minimnya produksi padi saat musim paceklik berpotensi mengganggu keseimbangan pasokan dan permintaan beras di pasar.

Kondisi tersebut kemudian berisiko mendorong harga beras naik. Zulhas mengatakan, kenaikan harga beras mulai terlihat meski masih dalam kisaran Rp100 hingga Rp200.

baca juga

"Oleh karena itu, karena supply and demand tidak ada produksi, pasti harganya naik. Ada naik Rp100, Rp200," ujarnya.

Untuk mengantisipasi kenaikan harga lebih lanjut, pemerintah memutuskan menambah pasokan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) medium sebanyak 1 juta ton.

Beras bersubsidi tersebut akan digelontorkan ke pasar untuk menjaga pasokan selama periode paceklik yang diperkirakan berlangsung hingga awal masa panen pada 2027.

"Nah, untuk merespons itu, maka kami baru saja rapat memutuskan kita tambah suplainya untuk beras subsidi yang kita kenal dengan SPHP. SPHP medium," kata Zulhas.

Ia mengatakan, tambahan pasokan dilakukan agar kenaikan harga beras di pasar dapat kembali ditekan. Beras SPHP medium dijual dengan harga sekitar Rp12.000 hingga maksimal Rp12.500 per kilogram.

"Kita tambah 1 juta lagi, agar harga yang di pasar yang turun naik 100-200 rupiah itu bisa kita turunkan kembali," ujarnya.

Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menambahkan, tambahan 1 juta ton beras SPHP tersebut disiapkan untuk menghadapi periode minim panen.

Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani usai acara tasyakuran di Kantor Pusat Bulog, Jakarta, Senin (3/8/2026). [Suara.com/Fakhri]
Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani. [Suara.com/Fakhri]

Bulog sebelumnya mengajukan tambahan alokasi sebesar 400.000 ton untuk memenuhi kebutuhan hingga akhir tahun. Namun, pemerintah memutuskan menaikkan alokasi menjadi 1 juta ton karena Januari dan Februari 2027 juga belum memasuki masa panen.

"Di bulan Januari, bulan Februari itu kan belum ada panen. Kan belum ada panen, panen nanti di bulan Maret. Oleh karena itu, yang usulan kami dari 400 dilipatgandakan menjadi 1 juta," ucap Rizal.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kemarau dan Hama Mengintai, Panen Cabai Terancam Anjlok

Kemarau dan Hama Mengintai, Panen Cabai Terancam Anjlok

Bisnis | Rabu, 02 September 2026 | 08:10 WIB

BPS Umumkan Inflasi Agustus 2026 Capai 0,21%: Daging Ayam, Cabai, hingga Beras Makin Mahal

BPS Umumkan Inflasi Agustus 2026 Capai 0,21%: Daging Ayam, Cabai, hingga Beras Makin Mahal

Bisnis | Selasa, 01 September 2026 | 12:13 WIB

Mendag Bongkar Masalah Beras Fortifikasi: 93% Tak Lulus Uji Laboratorium

Mendag Bongkar Masalah Beras Fortifikasi: 93% Tak Lulus Uji Laboratorium

Bisnis | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 14:43 WIB

Harga Cabai Meledak, Bahan Pokok Lain Justru Mulai Turun

Harga Cabai Meledak, Bahan Pokok Lain Justru Mulai Turun

Bisnis | Kamis, 27 Agustus 2026 | 10:08 WIB

Awas Beredar Beras Fortifikasi Abal-abal, Klaim Ada Vitamin

Awas Beredar Beras Fortifikasi Abal-abal, Klaim Ada Vitamin

Bisnis | Selasa, 25 Agustus 2026 | 17:10 WIB

Makan Pecel Lele Pedasnya Bisa Berkurang, Harga Cabai Tembus Rp100 Ribu/Kg

Makan Pecel Lele Pedasnya Bisa Berkurang, Harga Cabai Tembus Rp100 Ribu/Kg

Bisnis | Selasa, 25 Agustus 2026 | 10:26 WIB

Terkini

5 Cara Elegan Menghadapi Anggota Kelompok yang Pasif, Bebas Drama dan Nggak Bikin Baper!

5 Cara Elegan Menghadapi Anggota Kelompok yang Pasif, Bebas Drama dan Nggak Bikin Baper!

Your Say | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 12:45 WIB

Bukan Sekadar Gestur, Ini Pesan Mendalam di Balik Aksi Tiga Jari Saat Unjuk Rasa

Bukan Sekadar Gestur, Ini Pesan Mendalam di Balik Aksi Tiga Jari Saat Unjuk Rasa

Video | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 12:44 WIB

5 Sampo Kelapa Kaya Nutrisi untuk Rawat Keindahan Rambutmu

5 Sampo Kelapa Kaya Nutrisi untuk Rawat Keindahan Rambutmu

Your Say | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 12:40 WIB

Revitalisasi RSUD dan Puskesmas Jadi Bukti Pemerintah Perkuat Akses Kesehatan Masyarakat

Revitalisasi RSUD dan Puskesmas Jadi Bukti Pemerintah Perkuat Akses Kesehatan Masyarakat

Jabar | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 12:38 WIB

Kejahatan Kosmetik di Sulawesi Utara Tertinggi Kedua Nasional

Kejahatan Kosmetik di Sulawesi Utara Tertinggi Kedua Nasional

Sulsel | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 12:30 WIB

4 Pesona Surgawi Bhutan, Ada Proyek Pembangunan 108 Stupa dalam Sehari yang Bikin Takjub!

4 Pesona Surgawi Bhutan, Ada Proyek Pembangunan 108 Stupa dalam Sehari yang Bikin Takjub!

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 12:28 WIB

Kiprah Heyzer Harsono, Sosok di Balik Samator Indo Gas dan Voli Nasional

Kiprah Heyzer Harsono, Sosok di Balik Samator Indo Gas dan Voli Nasional

Bisnis | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 12:26 WIB

10 Pelaku UMKM Difabel di Palu Terima Bantuan Modal Usaha

10 Pelaku UMKM Difabel di Palu Terima Bantuan Modal Usaha

Sulsel | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 12:20 WIB

Urutan Skincare Pasca Pico Laser agar Flek Hitam Tidak Menghitam Lagi

Urutan Skincare Pasca Pico Laser agar Flek Hitam Tidak Menghitam Lagi

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 12:20 WIB

Kenapa Deretan Musisi Mundur dari Rans Carnival Jogja? Ini Kronologinya

Kenapa Deretan Musisi Mundur dari Rans Carnival Jogja? Ini Kronologinya

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 12:19 WIB

×