- Ketegangan geopolitik Timur Tengah menimbulkan kekhawatiran penundaan Piala Dunia 2026 jika konflik meluas ke Amerika Serikat atau Eropa.
- Piala Dunia 2026 akan diadakan di AS, Kanada, dan Meksiko, dengan total 104 pertandingan dimulai 98 hari lagi.
- Penyelenggara AS menegaskan komitmen keamanan, namun penundaan mungkin dipertimbangkan jika konflik Timur Tengah berdampak serius pada logistik global.
Suara.com - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai menimbulkan kekhawatiran terhadap penyelenggaraan Piala Dunia 2026.
Sejumlah pakar menyebut turnamen empat tahunan itu berpotensi ditunda jika konflik meluas hingga Amerika Serikat atau Eropa.
Turnamen yang dijadwalkan dimulai sekitar 98 hari lagi itu rencananya dibuka dengan laga antara Meksiko vs Afrika Selatan di Mexico City.
Total 104 pertandingan akan dimainkan oleh 48 tim peserta di tiga negara tuan rumah: Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Amerika Serikat akan menjadi tuan rumah mayoritas pertandingan, yakni 78 laga termasuk final. Sementara Kanada dan Meksiko masing-masing menggelar 13 pertandingan.
![Trofi FIFA World Cup 2026 diperlihatkan kepada media saat Trophy Tour di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta, Kamis (22/1/2026). [ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/agr]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/01/23/38609-tur-trofi-piala-dunia-2026-trophy-tour-fifa-world-cup-2026.jpg)
Namun situasi politik memanas setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu.
Ketegangan tersebut memicu serangkaian serangan balasan dan meningkatkan kekhawatiran soal keamanan turnamen.
Federasi sepak bola Iran bahkan sempat memberi sinyal pesimistis terkait partisipasi mereka.
“Yang pasti, setelah serangan ini kami tidak bisa lagi menatap Piala Dunia dengan penuh harapan,” ujar presiden federasi sepak bola Iran.
Baca Juga: Ali Khamenei Pengagum Berat Bung Karno, Bela Nasakom saat Dipenjara Syah Iran
Tim nasional Iran sendiri dijadwalkan memainkan seluruh laga fase grup di Amerika Serikat melawan Selandia Baru, Belgia, dan Mesir.
Kondisi itu menimbulkan pertanyaan terkait keamanan dan kebijakan perjalanan bagi warga Iran.
Sementara itu CEO United States Soccer Federation, JT Batson, menegaskan komitmen penyelenggara terhadap keamanan turnamen.
“Presiden FIFA Gianni Infantino telah menyampaikan niat untuk menghadirkan Piala Dunia yang aman dan semua tim dapat berpartisipasi. Kami tentu mendukung sepenuhnya hal tersebut,” kata Batson kepada Sky News.
Meski demikian, kemungkinan penundaan tetap menjadi topik diskusi jika konflik semakin meluas. Profesor Simon Chadwick menilai skenario tersebut kecil, tetapi bukan mustahil.
“Dengan hanya tiga bulan tersisa menuju Piala Dunia, penundaan ke tahun depan sangat tidak mungkin. Secara logistik, ekonomi, dan politik, menjadwal ulang acara sebesar ini akan sangat sulit,” ujar Chadwick.