Peneliti ITB Sebut SMPN 3 Bebandem Karangasem Akan Tergerus Dalam Waktu 10 Tahun, Ini Alasannya

Suara Denpasar

Jum'at, 28 Juli 2023 | 06:30 WIB
Peneliti ITB Sebut SMPN 3 Bebandem Karangasem Akan Tergerus Dalam Waktu 10 Tahun, Ini Alasannya
Tim Peneliti ITB saat mempresentasikan kondisi SMPN 3 Bebandem

Suara Denpasar - Ketua Pelaksana Kegiatan Pengabdian Masyarakat Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) Institut Teknologi Bandung (ITB) Dr. Eng. Asep Saepuloh ST M. Eng, kembali melaksanakan Kegiatan Pengabdian Masyarakat di Karangasem (Bali) selama empat hari, tanggal 19 hingga 23 Juli 2023.

Selama ini, pihaknya sudah melakukan empat kali penelitian dan pengamatan dalam empat tahun yakni Tahun 2018, 2019, 2022 dan 2023 di SMPN 3 Bebandem, Karangasem, Bali.

Program Pengabdian Masyarakat Skema Bottom Up ITB Tahun 2023 berjudul "Pengembangan Sistem Tanggap Bencana Dan Monitoring Aliran Lahar dan Erosi Sungai di Sekolah Siaga Bencana SMPN 3 Bebandem, Karangasem, Bali".

Pada Pengabdian tahun 2023 ini Dr. Eng. Asep Saepuloh mengatakan bahwa SMPN 3 Bebandem sebagai salah satu sekolah yang ada di lereng Gunung Agung (Bali). 

"Sekolah itu berada dalam Kawasan Rawan Bencana III Gunung api berupa potensi bahaya dari awan panas, abu vulkanik, erosi, longsor dan lahar. Selain itu, sekolah tersebut memiliki potensi bencana hidrometeorologi," katanya.

Adapun Hasil visualisasi drone dapat diketahui bahwa material sungai di sekitar sekolah adalah gravel (natural w/sand) dan sand (dry/water filled) yang memiliki sudut runtuhan (repose of angle) 25°-30° yang bisa dihitung menggunakan rumus trigonometri. 

Asumsi dengan menggunakan angka 30° sebagai sudut dinding sungai maksimum agar tidak terjadi erosi atau longsoran tebing sungai. 

Namun pada kenyataannya sudut tebing sungai yang melewati SMPN 3 Bebandem sudah 90° (tegak) sehingga berpotensi tinggi untuk longsor.

"Berdasarkan hasil penelitian pada tahun 2018, 2019, dan 2022, diperoleh perubahan signifikan yang terjadi di area sekolah. Awal luas sekolah adalah 10.000 meter persegi pada tahun 2018 dan pada akhir tahun 2022 menjadi 9.338 meter persegi," sambung Dr. Eng.

Dia menjelaskan perubahan tersebut dapat dihitung menggunakan rumus kecepatan erosi lateral v = luas kedua area/selang waktu (t) (1) dimana v1 = (12.472-11.643)/11,2 = 74,1 m2/bln (tahun 2018 ke 2019=11,2 bulan) v2 = (11.643-9.338)/40,5 = 56,9 m2/bln (tahun 2019 ke 2022=40,5 bulan) v3 = (9.338-8.633)/6 = 117,5 m2/bln (tahun 2022 ke 2023=6 bulan). 

Maka diperoleh hasil kecepatan erosi lateral yang diperoleh antara tahun 2018 ke 2019 (jeda waktu pengamatan = 11,2 bulan) adalah 74,1 m2/bln, tahun 2019 ke 2022 (jeda waktu pengamatan = 40,5 bulan) adalah 56,9 m2/bln, dan tahun 2022 ke 2023 (jeda waktu pengamatan 6 bulan) adalah 117,5 m2/bulan. 

"Dari hasil perhitungan kecepatan rata-rata erosi diperoleh bahwa sekolah diperkirakan berpotensi tergerus dalam waktu kurang dari 10 tahun," katanya menyimpulkan.

Berdasarkan hasil analisis tersebut, terdapat tiga rekomendasi, yaitu rekomendasi jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. 

Rekomendasi jangka pendek adalah penguatan Sekolah Siaga Bencana (SSB), seperti peningkatan kapasitas semua civitas sekolah, penyiapan rute dan evakuasi teraman dan tercepat, peningkatan kesiapsiagaan dalam menghadapi ancaman bencana dan menyelenggarakan simulasi evakuasi bencana secara berkala.

Rekomendasi jangka menengah yaitu merekayasa/penguatan infrastruktur sekolah, seperti normalisasi kemiringan aman lereng sungai, penguatan dinding sungai, dan kajian Teknik sipil untuk penguatan bangunan seperti retrofitting. 

Selain itu juga dapat pula dengan melakukan rekayasa untuk pengurangan erosi vertikal akibat hidrolik arus air melalui pengurangan kemiringan aliran sungai serta pembuatan penahan erosi vertikal seperti sabo dam berjenjang. Sabo dam berjenjang dibangun untuk dapat menahan pasir namun mengalirkan air agar material yang ada tetap bertahan di posisi awalnya.

Sedangkan rekomendasi jangka panjang yaitu dengan cara merelokasi sekolah karena berdasarkan simulasi yang telah dilakukan, dimana kondisi tersebut sangat berbahaya untuk sekolah sehingga relokasi sekolah menjadi salah satu alternatif dalam jangka panjang untuk menanggulangi bencana tersebut.(Rizal/*)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Gubernur Bali Wayan Koster Atensi Khusus Pemalakan WNA di Besakih Karangasem

Gubernur Bali Wayan Koster Atensi Khusus Pemalakan WNA di Besakih Karangasem

Denpasar | Senin, 17 Juli 2023 | 15:10 WIB

Korban Meninggal Longsor Karangasem Diajukan Dapat Santunan

Korban Meninggal Longsor Karangasem Diajukan Dapat Santunan

Denpasar | Selasa, 11 Juli 2023 | 10:00 WIB

Lawar Kambing Viral, Kuliner Bali yang Wajib Dicoba di Perjalanan Denpasar-Karangasem

Lawar Kambing Viral, Kuliner Bali yang Wajib Dicoba di Perjalanan Denpasar-Karangasem

Denpasar | Senin, 10 Juli 2023 | 09:30 WIB

Daftar Kekayaan Bupati dan Kepala Daerah di Bali, Siapa Terkaya?

Daftar Kekayaan Bupati dan Kepala Daerah di Bali, Siapa Terkaya?

Denpasar | Minggu, 09 Juli 2023 | 20:28 WIB

Terkini

Kardus di Kebun Tebu: Bayi Berjaket Merah Ditemukan Tak Bernyawa di Malang

Kardus di Kebun Tebu: Bayi Berjaket Merah Ditemukan Tak Bernyawa di Malang

Malang | Kamis, 11 Juni 2026 | 10:14 WIB

Tampil Ceria, BabyMonster Unjuk Kesuksesan Diri di Lagu Sugar Honey Ice Tea

Tampil Ceria, BabyMonster Unjuk Kesuksesan Diri di Lagu Sugar Honey Ice Tea

Your Say | Kamis, 11 Juni 2026 | 10:12 WIB

Piala Dunia 2026 Tayang di Mana? Ini Daftar Siaran Resmi Indonesia

Piala Dunia 2026 Tayang di Mana? Ini Daftar Siaran Resmi Indonesia

Lifestyle | Kamis, 11 Juni 2026 | 10:10 WIB

Gasak Kosta Rika 3-0, Timnas Inggris Makin Mantab Jelang Piala Dunia 2026

Gasak Kosta Rika 3-0, Timnas Inggris Makin Mantab Jelang Piala Dunia 2026

Bola | Kamis, 11 Juni 2026 | 10:07 WIB

Isabel Blumenkol: Potret Kecemasan Manusia dalam Cerpen Pamusuk Eneste

Isabel Blumenkol: Potret Kecemasan Manusia dalam Cerpen Pamusuk Eneste

Your Say | Kamis, 11 Juni 2026 | 10:06 WIB

Keliru Jika Menganggap Pembeli Kopi Rp30 Ribu Harus Diam Saat BBM Naik

Keliru Jika Menganggap Pembeli Kopi Rp30 Ribu Harus Diam Saat BBM Naik

Your Say | Kamis, 11 Juni 2026 | 10:00 WIB

Mexico 86: Film Netflix yang Sukses Menggabungkan Antara Fakta dan Fiksi

Mexico 86: Film Netflix yang Sukses Menggabungkan Antara Fakta dan Fiksi

Your Say | Kamis, 11 Juni 2026 | 10:00 WIB

Rupiah Kembali Melemah, Dolar AS Merangkak Naik ke Level Rp17.958

Rupiah Kembali Melemah, Dolar AS Merangkak Naik ke Level Rp17.958

Bisnis | Kamis, 11 Juni 2026 | 09:56 WIB

Rambut Rontok Parah? Ini 5 Serum Penumbuh Rambut Terbaik Mulai Rp30 Ribuan

Rambut Rontok Parah? Ini 5 Serum Penumbuh Rambut Terbaik Mulai Rp30 Ribuan

Your Say | Kamis, 11 Juni 2026 | 09:54 WIB

Raffi Ahmad Terseret Kasus Suap Impor, Padahal Cuma Basa-basi Titip Barang ke PT Blueray

Raffi Ahmad Terseret Kasus Suap Impor, Padahal Cuma Basa-basi Titip Barang ke PT Blueray

Entertainment | Kamis, 11 Juni 2026 | 09:54 WIB