Namun kesederhanaan itulah yang menarik bagi banyak penonton muda. Film ini menyuguhkan tontonan yang ceria, penuh warna, dan tetap setia pada nuansa khas game Minecraft sebagai sumber adaptasinya.
Dari sisi komersial, A Minecraft Movie mencetak rekor sebagai film adaptasi video game dengan pendapatan preview terbesar.
Meskipun banyak kritikus menyebut film ini sarat fan service dan minim inovasi, hal itu tidak menghambat keberhasilannya di box office. Nyatanya A Minecraft Movie nyaris menembus angka US$1 miliar.
4. Karate Kid: Legends

Karate Kid: Legends, memancing ekspektasi tinggi dari penggemar mengingat kesuksesan film-film sebelumnya.
Penonton merasa film ini menawarkan sensasi nostalgia dalam balutan cerita baru. Banyak adegan yang menjadi pengingat kuat pada versi klasiknya.
Aktor pendatang baru Ben Wang juga mendapat sambutan positif berkat karismanya dan kemampuan bela diri yang mengesankan.
Sebaliknya, para kritikus menganggap Karate Kid: Legends terlalu mengandalkan fan service dan alur cerita lama yang sudah terasa usang.
Kehadiran dua bintang besar yaitu Jackie Chan dan Ralph Macchio dinilai setengah-setengah, membuat film ini tampak lebih seperti reuni nostalgia ketimbang sebuah perkembangan cerita yang berarti.
5. M3GAN 2.0

Melengkapi daftar film yang dibenci kritikus tapi disukai penonton ada M3GAN 2.0 yang merupakan sekuel dari film horor viral M3GAN (2023).
Di Rotten Tomatoes, film ini hanya meraih skor 57 persen. Terpaut jauh dari film pertamanya yang mendapat pujian hingga 93 persen.
Salah satu faktor penyebabnya adalah perubahan genre yang cukup drastis. Jika film pertama dikenal sebagai horor slasher dengan nuansa komedi hitam, M3GAN 2.0 beralih menjadi film aksi futuristik dengan M3GAN sebagai sosok antihero.
Selain unsur horor yang digantikan dengan CGI serta alur invasi AI membuat kritikus merasa film ini seperti tiruan Terminator.
Menariknya, hal-hal yang dikritik itulah yang justru disukai oleh banyak penonton. Aksi yang intens, cerita ringan, dan nuansa film laga 90-an membuat M3GAN 2.0 tampil sebagai tontonan yang menghibur.
Fenomena yang dialami film-film tadi seolah menegaskan bahwa selera hiburan sering tak sejalan dengan standar kualitas sinematik yang diusung kritikus.
Tapi, meskipun kritikus memberi rating rendah penonton tetap memegang kendali atas nasib dan popularitas sebuah film. Lalu film manakah yang tetap kamu dukung meski mendapat kritik tajam?