Jejak Ulta Levenia dari Peneliti Teroris Jadi Deputi Bakom Kini Ramai Gegara Teori Konspirasi

Galih Prasetyo

Selasa, 08 September 2026 | 12:24 WIB
Jejak Ulta Levenia dari Peneliti Teroris Jadi Deputi Bakom Kini Ramai Gegara Teori Konspirasi
Ulta Levenia (Instagram/@leveenia)
baca 10 detik
  • Peneliti terorisme dan Deputi Bakom Ulta Levenia Nababan viral akibat perdebatan soal makar.
  • Ulta berdebat dengan Asfinawati di Kompas TV mengenai konsep sekuritisasi dan tindakan pemerintah terhadap makar.
  • Ulta juga memicu kontroversi di media sosial setelah mengaitkan erupsi enam gunung dengan program HAARP.

Suara.com - Nama Ulta Levenia Nababan belakangan menjadi perhatian publik setelah sejumlah pernyataannya yang menuai perdebatan.

Sosok yang dikenal sebagai peneliti terorisme itu sebelumnya bukan figur yang banyak muncul di ruang hiburan, tetapi namanya ikut ramai setelah tampil dalam podcast Close The Door yang dipandu Deddy Corbuzier beberapa waktu lalu.

Ulta bukan selebritas. Latar belakangnya justru berada di bidang ilmu politik, terorisme, radikalisme, serta isu keamanan.

Namanya kembali menjadi perbincangan setelah pernyataannya dalam program Rosi di Kompas TV terkait isu makar viral di media sosial.

Belakangan, pernyataannya mengenai HAARP di tengah erupsi sejumlah gunung api di Indonesia juga memicu kontroversi.

Siapa Ulta Levenia?

Ulta Levenia dikenal sebagai peneliti yang memiliki perhatian pada isu terorisme dan radikalisme.

Dalam perjalanan akademiknya, ia menempuh pendidikan Ilmu Politik di Universitas Indonesia.

Ulfa kemudian melanjutkan pendidikan di Institut des hautes études de défense nationale (IHEDN) dan University of Leeds.

baca juga

Latar pendidikan tersebut menjadi bagian dari perjalanan profesionalnya dalam bidang keamanan dan politik.

Pada 2018, Ulta disebut menduduki posisi sebagai peneliti senior di bidang studi terorisme dan radikalisme. Ia juga melakukan penelitian dan kunjungan ke sejumlah wilayah yang berkaitan dengan konflik dan isu keamanan.

Ulta Levenia dengan Presiden Prabowo Subianto (Instagram/@leveenia)
Ulta Levenia dengan Presiden Prabowo Subianto (Instagram/@leveenia)

Ketertarikannya terhadap kawasan konflik membuat Ulta memiliki pengalaman yang berbeda dari kebanyakan akademisi.

Ia diketahui pernah melakukan perjalanan ke sejumlah negara, termasuk Filipina, untuk mempelajari dinamika konflik dan persoalan keamanan.

Dari Peneliti Terorisme hingga Deputi Bakom

Selain dikenal sebagai peneliti, Ulta Levenia Nababan juga tercatat sebagai Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) dan saat ini menjabat sebagai Deputi Bakom. 

Posisi tersebut membuat pernyataannya mengenai isu politik, keamanan, dan kebijakan publik mendapat perhatian lebih luas.

Salah satu momen yang membuat namanya menjadi perbincangan terjadi dalam program Rosi Kompas TV bertajuk “Seruan 'Makar' Berujung Laporan.”

Dalam program tersebut, Ulta berdiskusi dengan akademisi Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera, Asfinawati.

Keduanya terlibat perdebatan mengenai konsep makar dan kapan pemerintah dapat mengambil tindakan.

“Apakah harus menunggu kekerasan dulu, lalu pemerintah bertindak?” kata Ulta dalam perdebatan tersebut.

Asfinawati kemudian memberikan tanggapan.

“Tapi ini kan bukan kekerasan, ini makar. Kan beda itu. Jangan disamakan makar hanya kekerasan,” ujarnya.

Potongan perdebatan tersebut kemudian menyebar di media sosial dan memunculkan berbagai reaksi dari warganet.

Sorotan terutama tertuju pada penggunaan sejumlah istilah akademik oleh Ulta ketika menjelaskan konsep sekuritisasi.

“Kalau saya melihatnya dari konsep sekuritisasi, ketika provokasi itu kemudian bereskalasi, lalu berlanjut menjadi memicu mobilisasi massa,” ujar Ulta.

Pernyataan tersebut kemudian menjadi bahan perbincangan di X.

Sejumlah pengguna media sosial mengkritik gaya penyampaiannya dan bahkan membandingkannya dengan gaya bicara Vicky Prasetyo.

Pernyataan soal HAARP Ikut Memicu Perdebatan

Kontroversi lain muncul ketika Ulta menyinggung High-frequency Active Auroral Research Program (HAARP) di tengah fenomena erupsi sejumlah gunung api di Indonesia.

Ulta mempertanyakan apakah erupsi enam gunung api yang terjadi pada waktu berdekatan sepenuhnya merupakan fenomena alam.

Ia juga mengaku memahami bahwa pandangannya dapat dianggap sebagai bagian dari teori konspirasi.

“Walau gak ada bukti ilmiah yang kredibel, tapi otak skeptis pasti berpikir atau setidaknya entertain pemikiran,” tulis Ulta melalui akun media sosialnya.

Ia kemudian mengaitkan waktu erupsi sejumlah gunung dengan pertemuan Presiden RI dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Vladivostok.

“Kenapa sehari setelah Presiden RI bersalaman mesra dengan Putin di Vladivostok, enam gunung vulkanik Indonesia erupsi secara bersamaan?” tulisnya.

Pernyataan itu langsung memicu kritik. Sejumlah warganet mempertanyakan dasar ilmiah yang digunakan untuk menghubungkan aktivitas vulkanik dengan HAARP maupun agenda politik.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

HAARP Disebut Bisa Picu Gempa dan Gunung Meletus, Ini Fakta Ilmiah yang Membantahnya

HAARP Disebut Bisa Picu Gempa dan Gunung Meletus, Ini Fakta Ilmiah yang Membantahnya

News | Senin, 07 September 2026 | 21:54 WIB

Anak Buah Prabowo Curigai HAARP di Balik Erupsi 6 Gunung, Pendiri Kaskus Kasih Respon Menohok

Anak Buah Prabowo Curigai HAARP di Balik Erupsi 6 Gunung, Pendiri Kaskus Kasih Respon Menohok

Entertainment | Senin, 07 September 2026 | 19:49 WIB

Anak Buah Prabowo Curigai Alat Antek Asing di Balik Erupsi 6 Gunung, Netizen: Alam Saja Kena Fitnah

Anak Buah Prabowo Curigai Alat Antek Asing di Balik Erupsi 6 Gunung, Netizen: Alam Saja Kena Fitnah

Entertainment | Senin, 07 September 2026 | 14:41 WIB

Lorong Edukasi Museum BNPT: Melawan Radikalisme dengan Kekuatan Ingatan Sejarah

Lorong Edukasi Museum BNPT: Melawan Radikalisme dengan Kekuatan Ingatan Sejarah

News | Kamis, 03 September 2026 | 19:25 WIB

Tiru Inggris dan AS, RUU Perampasan Aset Bakal Sasar Bandar Narkoba Hingga Teroris

Tiru Inggris dan AS, RUU Perampasan Aset Bakal Sasar Bandar Narkoba Hingga Teroris

News | Rabu, 02 September 2026 | 15:20 WIB

Terkini

The Walk Hadir di Serpong, Satukan Kuliner dan Beauty dalam Satu Destinasi Lifestyle

The Walk Hadir di Serpong, Satukan Kuliner dan Beauty dalam Satu Destinasi Lifestyle

Lifestyle | Kamis, 17 September 2026 | 02:04 WIB

Momen Kaesang Pangarep Ajak Anak Penyintas Gempa Palue Main Catur dan Ular Tangga

Momen Kaesang Pangarep Ajak Anak Penyintas Gempa Palue Main Catur dan Ular Tangga

Bali | Rabu, 16 September 2026 | 23:24 WIB

Menkeu Suahasil Akan Evaluasi Perombakan Ratusan Pejabat Kemenkeu Era Purbaya

Menkeu Suahasil Akan Evaluasi Perombakan Ratusan Pejabat Kemenkeu Era Purbaya

Bisnis | Rabu, 16 September 2026 | 23:11 WIB

Teknologi Silicon-Carbon dan Update 6 Tahun, REDMI Note 17 Mulai Rp3,9 Jutaan

Teknologi Silicon-Carbon dan Update 6 Tahun, REDMI Note 17 Mulai Rp3,9 Jutaan

Tekno | Rabu, 16 September 2026 | 23:10 WIB

Antrean Pertalite Mengular di Bengkulu, Helmi Hasan Malah Ajak Warga Salat Tobat

Antrean Pertalite Mengular di Bengkulu, Helmi Hasan Malah Ajak Warga Salat Tobat

Sumsel | Rabu, 16 September 2026 | 23:00 WIB

44 Ribu Hektare Tanah TNI Bermasalah, TNI Akui Potensi Konflik Agraria Kian Tinggi

44 Ribu Hektare Tanah TNI Bermasalah, TNI Akui Potensi Konflik Agraria Kian Tinggi

News | Rabu, 16 September 2026 | 22:55 WIB

Dulu Cuma Scan QR, Kini Pembayaran Digital Makin Pintar dan Menembus Transaksi Global

Dulu Cuma Scan QR, Kini Pembayaran Digital Makin Pintar dan Menembus Transaksi Global

Tekno | Rabu, 16 September 2026 | 22:49 WIB

RUU Reforma Agraria akan Disahkan di Rapat Paripurna 22 September

RUU Reforma Agraria akan Disahkan di Rapat Paripurna 22 September

News | Rabu, 16 September 2026 | 22:41 WIB

Dirut BRI: Kekuatan Holding UMi Ditopang oleh Integrasi Keunggulan Entitas

Dirut BRI: Kekuatan Holding UMi Ditopang oleh Integrasi Keunggulan Entitas

Bri | Rabu, 16 September 2026 | 22:39 WIB

MK Minta Kewenangan Bakamla Disusun Ulang, DPR dan Pemerintah Diberi Waktu 2 Tahun

MK Minta Kewenangan Bakamla Disusun Ulang, DPR dan Pemerintah Diberi Waktu 2 Tahun

News | Rabu, 16 September 2026 | 22:31 WIB

×