Suara.com - Pekerja membawa pakaian kotor di dekat galon produksi ekoenzim di tempat jasa cuci pakaian Binatu Koe, Pondok Aren, Tangerang Selatan, Banten, Senin (25/5/2026).
Pemilik usaha binatu Anantasari, memproduksi cairan ekoenzim dari limbah buah-buahan untuk menggantikan penggunaan sabun detergen agar usaha binatu miliknya tidak mencemari lingkungan sekaligus menekan biaya belanja sabun hingga 50 persen.
Selain digunakan untuk mencuci pakaian, cairan ekoenzim hasil fermentasi limbah organik tersebut dinilai lebih aman bagi saluran air karena mampu mengurangi kandungan surfaktan penyebab pencemaran limbah laundry.
Anantasari mengaku mulai mengembangkan penggunaan ekoenzim sejak 2021 dengan memanfaatkan kulit buah sisa rumah tangga. Inovasi tersebut juga menjadi bagian dari upaya penerapan ekonomi sirkular dan pengurangan sampah organik. [ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/nz]