Sumbar Siap Terapkan Nilai Adat Demi Lindungi Anak dari Kekerasan

Ade Indra Kusuma | Vessy Dwirika Frizona | Suara.com

Selasa, 20 November 2018 | 18:28 WIB
Sumbar Siap Terapkan Nilai Adat Demi Lindungi Anak dari Kekerasan
Ilustrasi kekerasan pada anak. [Shutterstock]

Suara.com - Dinamika perkembangan teknologi dan gaya hidup perilaku orang-orang dewasa, menempatkan anak dalam situasi rentan terhadap perilaku yang tidak ramah anak. Hal ini pastinya memicu kekerasan pada anak dan eksploitasi anak.

Hal tersebut menjadi masalah yang terjadi hampir diseluruh wilayah Indonesia, sehingga dibutuhkan penanganan yang komprehensif dan dukungan dari seluruh lapisan masyarakat.

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 sangat jelas bahwa Pemerintah berkomitmen menjadikan perlindungan anak Indonesia menjadi prioritas utama di setiap bidang pembangunan. Namun, faktanya cukup miris karena masih banyak kasus kekerasan dan eksploitasi terhadap anak di Indonesia. 

Wakil Walikota Bukittinggi, H. Irwandi, S.H menilai bahwa Indonesia syarat akan nilai-nilai adat dan budaya yang berbeda-beda di setiap daerah termasuk di Bukittinggi, Sumatera Barat. Oleh karena itu, sudah seyogyanya hal tersebut dapat dijadikan pertimbangan dan inspirasi untuk mengembangkan pola perlindungan anak yang signifikan. Untuk itu, Pemerintah Bukittinggi telah berkomitmen untuk memberikan perhatian khusus dan bersinergi meningkatkan kewaspadaan dan kemampuan masyarakat mendeteksi dini tindak kekerasan dan eksploitasi terhadap anak.

“Kami akan memberikan dukungan sepenuhnya kepada KPPPA dalam upaya pemenuhan dan perlindungan hak anak. Harapannya FGD ini dapat menghasilkan pokok-pokok pemikiran serta kajian dalam menghasilkan sebuah kebijakan yang kemudian dikembangkan dalam perspektif nilai-nilai lokal di Bukittinggi, Sumatera Utara," ungkap Irwandi melalui rilis yang diterima Suara.com.

Di tempat yang sama, Deputi Bidang Perlindungan Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Sri Danti Anwar menjelaskan keterbatasan pemahaman pihak penanggungjawab pengasuhan anak masih menjadi permasalahan utama dari kekerasan dan eksploitasi anak.

“Untuk itu, KPPPA terus melakukan upaya pemenuhan hak dan perlindungan anak salah satunya dengan menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Perlindungan Anak dari Kekerasan dan Eksploitasi Perspektif Tigo Tungku Sajarangan dan Bundo Kanduang di Bukittinggi, Sumatera Barat. Kegiatan ini dilakukan untuk mencari pemahaman yang komprehensif dalam perspektif tigo tungku sajarangan dan bundo kanduang terkait situasi anak-anak yang memerlukan perlindungan khusus di Bukittinggi dan Sumatera Barat,” jelas Sri Danti.

Sebagai gambaran total penduduk Indonesia sekitar 258 juta jiwa, dimana 32,5% atau setara dengan 83,4 juta jiwa merupakan anak. Berdasarkan hasil susenas BPS pada 2014, jumlah anak yang mengalami kekerasan dan eksploitasi mencapai 247.610 jiwa dan diperkirakan sekitar 74.283 jiwa merupakan anak yang menjadi korban kekerasan seksual.

Data dari Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni-PPPA) sampai dengan Agustus 2018 menunjukan, kekerasan dan eksploitasi anak dalam konteks seksual menjadi yang paling dominan terjadi di Indonesia. Kelak, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh korban akan tetapi berpengaruh terhadap proses tumbuh kembang anak dalam kehidupan satu keluarga.

Masalah ini juga membuat anak korban kehilangan hak-hak dasar mereka untuk menempuh pendidikan, untuk tumbuh dan berkembang, dan untuk mendapat perlindungan dari kekerasan. Beberapa praktik kekerasan dan eksploitasi yang sering terjadi dalam kehidupan nyata di sekitar kita yakni, anak-anak dipaksa bekerja, anak sebagai objek pornografi, anak diperdagangkan untuk berbagai kebutuhan, dan termasuk perkawinan anak.

“Sinergi para pemangku adat seperti, tigo tungku sajarangan, bundo kanduang, wali nagari, tokoh agama, adat, masyarakat dan pemuda di Bukittinggi masih sangat mendominasi, besar harapan agar mereka dapat menjadi pilar kekuatan dan kunci keberhasilan dalam upaya perlindungan anak. Pemahaman secara komprehensif dan berbagi pengalaman baik tentang perlindungan anak dilakukan secara bertahap dan signifikan, agar dapat menghasilkan sistem terpadu yang efektif untuk perlindungan anak dari kekerasan dan eksploitasi,” ungkap Sri Danti.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

KPPPA Tetapkan 4 Kelompok Anak Wajib Dilindungi dari Radikalisme

KPPPA Tetapkan 4 Kelompok Anak Wajib Dilindungi dari Radikalisme

Health | Jum'at, 16 November 2018 | 19:00 WIB

KPPPA Dorong Kebijakan Perubahan Iklim yang Responsif Gender

KPPPA Dorong Kebijakan Perubahan Iklim yang Responsif Gender

Health | Rabu, 14 November 2018 | 19:48 WIB

Eksploitasi Anak, Kubu Jokowi: Pelajar Teriak Ganti Presiden

Eksploitasi Anak, Kubu Jokowi: Pelajar Teriak Ganti Presiden

News | Jum'at, 09 November 2018 | 20:51 WIB

Terkini

17.500 Paket Gizi untuk Masa Depan: Langkah Konkret Melawan Stunting di Bekasi

17.500 Paket Gizi untuk Masa Depan: Langkah Konkret Melawan Stunting di Bekasi

Health | Minggu, 05 April 2026 | 09:54 WIB

Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran

Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran

Health | Jum'at, 03 April 2026 | 09:53 WIB

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Health | Kamis, 02 April 2026 | 10:17 WIB

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Health | Kamis, 02 April 2026 | 07:14 WIB

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:35 WIB

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:26 WIB

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 12:45 WIB

Apakah Alat Traksi Leher Aman? Ini Penjelasan Medis dan Cara Menggunakannya

Apakah Alat Traksi Leher Aman? Ini Penjelasan Medis dan Cara Menggunakannya

Health | Rabu, 01 April 2026 | 10:55 WIB

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 18:10 WIB

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 13:53 WIB