Kanker Usus Besar Dipicu Kebiasaan Konsumsi Makanan Berlemak

Vania Rossa | Firsta Nodia | Suara.com

Kamis, 06 Desember 2018 | 18:14 WIB
Kanker Usus Besar Dipicu Kebiasaan Konsumsi Makanan Berlemak

Suara.com - Kanker usus besar merupakan jenis kanker ketiga yang paling sering terjadi di dunia. Bahkan dalam setahun tercatat hampir 1,4 juta kasus baru terdiagnosis pada 2012. Berdasarkan data Globocan (IARC) tahun 2012, jumlah penderita kanker usus besar terus meningkat seiring dengan perubahan lingkungan dan gaya hidup.

Disampaikan dr. Eko Priatno, Sp.B(K)BD dari Bethsaida Hospital, perubahan pola makan orang Indonesia belakangan lebih tinggi lemak serta rendah serat. Dan hal ini menjadi salah satu penyebab peningkatan kasus kanker usus besar di usia muda. Hal ini juga diperparah dengan kebiasaan tak sehat lainnya seperti mengonsumsi minuman beralkohol, merokok, dan kurang oIahraga.

"Faktor genetik seperti menderita familial adenomotous polyposis (FAP) dan memiliki keluarga dengan riwayat kanker usus besar juga dapat meningkatkan faktor risiko seseorang menderita penyakit kanker usus besar," ujar dr. Eko dalam temu media di Bethsaida Hospital, Serpong, Kamis (6/12/2018).

Menurut dr. Eko, kebanyakan orang baru menyadari terkena kanker usus besar saat merasakan gejala. Padahal pada stadium awal, kanker kolorektal atau usus besar sering tidak menimbulkan gejala, sehingga kebanyakan pasien baru mendapatkan diagnosis saat telah mencapai stadium lanjut.

"Diagnosa yang cepat dan penatalaksanaan (terapi) yang tepat sangat dibutuhkan. Beberapa jenis pemeriksaan kanker usus besar bisa melalui deteksi klinis pada pola buang air besar, pemeriksaan kolonoskopi untuk melihat massa pada mukosa kolon, atau jika perlu dilakukan biopsi untuk memastikan kanker atau bukan," tambah dia.

Jika hasil biopsi seseorang positif menunjukkan adanya sel kanker, maka dr. Eko merekomendasikan pemeriksaan lainnya yang lebih komprehensif yakni CT scan abdomen dan thorax untuk menentukan stadium atau seberapa jauh kanker sudah menyebar.

Sementara itu untuk penanganannya, kasus kanker usus besar bisa diatasi dengan keyhole surgery yang bersifat minimal invasif. Menurut dr. Eko, keuntungan dari teknik keyhole surgery antara lain sayatan yang minimal, proses pemulihan yang lebih singkat daripada bedah konvensional, nyeri yang minimal, dan waktu rawat yang singkat.

"Pembedahan adalah solusi terbaik menurunkan kekambuhan dan meningkatkan angka harapan hidup jika terdeteksi pada stadium awal. Pasien tidak perlu khawatir karena kanker usus bisa disembuhkan," tandas dia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Orang-Orang Ini Sebut Anjing Bisa Deteksi Kanker, Apa Iya?

Orang-Orang Ini Sebut Anjing Bisa Deteksi Kanker, Apa Iya?

Health | Rabu, 05 Desember 2018 | 12:15 WIB

Gejala Kanker Paru Tidak Khas, Kenali Sejak Dini dan Ubah Gaya Hidup Ini!

Gejala Kanker Paru Tidak Khas, Kenali Sejak Dini dan Ubah Gaya Hidup Ini!

Lifestyle | Selasa, 04 Desember 2018 | 11:00 WIB

Tahunan Kemoterapi, Lelaki Ini Ternyata Tak Sakit Kanker, Kok Bisa?

Tahunan Kemoterapi, Lelaki Ini Ternyata Tak Sakit Kanker, Kok Bisa?

Health | Sabtu, 01 Desember 2018 | 06:15 WIB

Terkini

Ini Bahaya Tersembunyi Ikan Sapu-Sapu yang Mengancam Ekosistem Jakarta

Ini Bahaya Tersembunyi Ikan Sapu-Sapu yang Mengancam Ekosistem Jakarta

Health | Jum'at, 17 April 2026 | 21:10 WIB

Apakah Ikan Sapu-Sapu Bisa Dimakan? Ini Bahaya untuk Manusia dan Ekosistem

Apakah Ikan Sapu-Sapu Bisa Dimakan? Ini Bahaya untuk Manusia dan Ekosistem

Health | Jum'at, 17 April 2026 | 18:54 WIB

Varises Bukan Sekadar Masalah Estetika, Kenali Sinyal Bahaya Sebelum Jadi Komplikasi Serius

Varises Bukan Sekadar Masalah Estetika, Kenali Sinyal Bahaya Sebelum Jadi Komplikasi Serius

Health | Jum'at, 17 April 2026 | 14:42 WIB

Tren Lari Meningkat, Waspadai Risiko Cedera Otot dan Memar Ikut Mengintai

Tren Lari Meningkat, Waspadai Risiko Cedera Otot dan Memar Ikut Mengintai

Health | Jum'at, 17 April 2026 | 12:31 WIB

Perempuan Berlari 2026: Integrasi Olahraga, Kesehatan Mental, dan Literasi Keuangan

Perempuan Berlari 2026: Integrasi Olahraga, Kesehatan Mental, dan Literasi Keuangan

Health | Kamis, 16 April 2026 | 16:45 WIB

Bukan Sekadar Sekolah, Anak Neurodivergent Butuh Dukungan Menyeluruh untuk Tumbuh

Bukan Sekadar Sekolah, Anak Neurodivergent Butuh Dukungan Menyeluruh untuk Tumbuh

Health | Rabu, 15 April 2026 | 19:14 WIB

Awas Logam Berat! Ini 7 Deretan Risiko Kesehatan Jika Mengonsumsi Ikan Sapu-Sapu

Awas Logam Berat! Ini 7 Deretan Risiko Kesehatan Jika Mengonsumsi Ikan Sapu-Sapu

Health | Rabu, 15 April 2026 | 15:33 WIB

Waspada Gejala Awal Serangan Jantung Sering Dikira Diare Biasa

Waspada Gejala Awal Serangan Jantung Sering Dikira Diare Biasa

Health | Selasa, 14 April 2026 | 09:26 WIB

Saat Screen Time Tak Bisa Dihindari, Ini Rekomendasi Tontonan Anak yang Aman dan Edukatif

Saat Screen Time Tak Bisa Dihindari, Ini Rekomendasi Tontonan Anak yang Aman dan Edukatif

Health | Selasa, 14 April 2026 | 08:37 WIB

Air Jernih Belum Tentu Aman: Inilah 'Musuh Tak Terlihat' yang Memicu Stunting pada Anak

Air Jernih Belum Tentu Aman: Inilah 'Musuh Tak Terlihat' yang Memicu Stunting pada Anak

Health | Senin, 13 April 2026 | 06:15 WIB