Sistem Satu Pintu dengan Teknologi Robotik untuk Pengobatan Kanker Prostat

Vania Rossa | Vessy Dwirika Frizona | Suara.com

Senin, 05 Agustus 2019 | 19:06 WIB
Sistem Satu Pintu dengan Teknologi Robotik untuk Pengobatan Kanker Prostat
RSCM meluncurkan Pusat Layanan Prostat Terpadu (Prostate Center). (Suara.com/Vessy Frizona)

Suara.com - Sebagian besar pasien dengan kanker prostat stadium awal tidak menyadari adanya gejala. Gejala terkadang baru dirasakan pasien saat kanker sudah menyebar ke organ lainnya. Gejala yang dikeluhkan meliputi gangguan berkemih, adanya darah pada urin, pembesaran kelenjar getah bening sekitar prostat, penurunan berat badan, dan jika kanker sudah menyebar ke tulang dapat menyebabkan nyeri tulang.

Untuk mengatasi kanker prostat, RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) meluncurkan Pusat Layanan Prostat Terpadu (Prostate Center) dengan keunggulan Sistem Satu Pintu dan Teknologi Robotik Pertama di Indonesia. Pusat Layanan ini didukung oleh tenaga SDM yang kompeten serta teknologi terkini sehingga dapat memberikan layanan kesehatan paripurna dan bermutu.

Dr. Lies Dina Liastuti, Sp. JP(K), MARS, FIHA, Direktur Utama RSCM menjelaskan, dengan sistem satu pintu, layanan dapat diberikan kepada pasien secara cepat dan tepat, mulai dari pemeriksaan awal sampai dengan diagnosis ditegakkan. Pasien diharuskan untuk melakukan perjanjian konsultasi sehingga layanan diharapkan dapat dilaksanakan dalam 1 hari atau pasien tidak perlu datang berulang-ulang.

Biopsi prostat dengan teknologi robotik meningkatkan ketepatan pengambilan sampel di lokasi tempat sel kanker prostat berada. Dengan adanya teknologi ini, waktu pelaksanaan biopsi dapat dilakukan lebih singkat.

"Layanan ini merupakan salah satu inovasi yang dibentuk untuk meningkatkan upaya deteksi dini kanker prostat, yang bersifat one stop service yang menyediakan layanan inovasi terbaru yaitu ‘Biopsy Prostate Transperineal Robotic’ pertama di Indonesia," ungkap Dr. Lies Dina saat ditemui Suara.com, Senin (5/8/2019), di kawasan Jakarta Pusat.

Ia menerangkan, layanan yang serupa sebelumnya sudah terdapat di berbagai negara di antaranya adalah Singapura, Malaysia, dan Australia. Saat ini sebanyak 13 staf dokter dari Departemen Urologi akan terlibat dalam Prostate Center. Di dalam Prostate Center ini juga terdapat tim multi-disiplin Uro-Onkologi yang melibatkan berbagai departemen seperti Radiologi, Patologi Anatomi, Onkologi Medik Penyakit Dalam, Radioterapi, dan departemen lain. Pelayanan ini diharapkan mendorong peningkatan layanan yang komprehensif dalam program deteksi dini kasus-kasus kanker prostat di Indonesia.

Sementara itu, Dr. dr. Irfan Wahyudi, Sp.U(K), Kepala Departemen Urologi RSCM – FKUI menerangkan bahwa proses penegakan kanker, termasuk kanker prostat, di Indonesia, dirasa masih memberatkan pasien karena pasien harus datang berulang kali hanya untuk menentukan biopsi prostat saja. Selain itu ada beberapa anggapan bahwa teknologi di Indonesia kurang berkembang jika dibandingkan dengan negara sekitar.

“Hal ini kemudian direspon oleh RSCM melalui Departemen Urologi untuk memperbaiki pelayanan deteksi dini kanker prostat dengan pengembangan SDM, sistem, dan penunjangnya. Pusat Layanan Terpadu Prostat RSCM dibentuk untuk memberikan pelayanan one stop service. Hal ini memberikan kemudahan bagi pasien untuk lebih fleksibel dalam menentukan waktunya dan fokus dalam proses pelayanan di RSCM,” jelasnya.

Di tempat yang sama, dr. Chaidir Arif Mochtar, Sp.U (K), Ph.D, staf medik Departemen Urologi RSCM - FKUI, menyampaikan tentang keunggulan yang tersedia di Prostate Center.

"Penggunaan teknik minimal invasif, yakni laparoskopi yang dikombinasikan dengan visualisasi 3D dalam tatalaksana kanker prostat. Pengaplikasian teknik laparoskopi dalam penatalaksanaan kanker prostat telah terbukti memberikan efek komplikasi yang lebih ringan jika dibandingkan dengan operasi terbuka pengangkatan prostat, di antaranya durasi rawat yang lebih singkat, jumlah perdarahan yang lebih sedikit, serta risiko infeksi yang lebih rendah. Selain itu, penggunaan visualisasi 3D intra operasi juga memberikan manfaat dalam proses pengangkatan prostat, di antaranya durasi operasi yang lebih singkat, keluaran yang lebih baik jika dibandingkan dengan laparoskopi standar, serta mempermudah operator dalam melakukan manuver-manuver selama operasi," tandasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Begini Cara Paling Ampuh Deteksi Kanker Prostat

Begini Cara Paling Ampuh Deteksi Kanker Prostat

Health | Senin, 05 Agustus 2019 | 18:55 WIB

Jarang Ejakulasi Bisa Picu Kanker Prostat, Benarkah?

Jarang Ejakulasi Bisa Picu Kanker Prostat, Benarkah?

Health | Senin, 05 Agustus 2019 | 14:32 WIB

Idap Kanker Prostat yang Menyebar ke Otak, Pria Ini Sembuh Setelah Radiasi

Idap Kanker Prostat yang Menyebar ke Otak, Pria Ini Sembuh Setelah Radiasi

Health | Selasa, 02 Juli 2019 | 19:05 WIB

Terkini

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Health | Kamis, 02 April 2026 | 10:17 WIB

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Health | Kamis, 02 April 2026 | 07:14 WIB

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:35 WIB

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:26 WIB

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 12:45 WIB

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 18:10 WIB

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 13:53 WIB

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:37 WIB

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:22 WIB

Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS

Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 10:54 WIB