Liputan Khas

KHAS adalah sajian beragam artikel dengan topik-topik menarik hasil liputan khusus/khas dari tim redaksi Suara.com.

Manjujai, Budaya Minangkabau yang Ampuh Tangkal Stunting di Sumatera Barat

M. Reza Sulaiman | Risna Halidi
Manjujai, Budaya Minangkabau yang Ampuh Tangkal Stunting di Sumatera Barat
Budaya Manjujai di Sumatera Barat terbukti bisa tekan angka stunting. Apa itu manjujai? (Suara.com/Risna Halidi)

Melawan stunting bisa dilakukan dengan budaya dan kearifan lokal. Seperti yang dilakukan para Bundo Kanduang di Tanah Datar, Sumatera Barat, lewat manjujai.

Kepada Suara.com, perempuan asal Padang Panjang tersebut mengungkapkan bagaimana pola asuh manjujai terbukti dapat memperbaiki perkembangan fisik dan psikologis anak ke arah yang lebih baik.

Dimulai pada 2011 lalu ketika Helmizar melakukan penelitian terhadap sekitar 360 anak usia enam sampai sembilan bulan selama enam bulan yang tersebar di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.

Dari 360 anak yang terlibat, Helmizar membaginya ke dalam empat kelompok yaitu anak yang diberi intervensi berupa stimulasi manjujai dan MPASI (Makanan Pendamping Air Susu Ibu) berbahan dasar pangan lokal; kelompok anak yang diberi intervensi manjujai saja; anak yang diberi intervensi MPASI saja; dan anak kelompok kontrol yang tidak diberi intervensi apa-apa.

Sebagai tambahan, ada sekitar 24 jenis stimulasi manjujai yang diajarkan. Diantaranya adalah nyanyian nina bobo khas Minangkabau, tepuk ambai-ambai, daag, mari merangkak, mencari mainan, tebak suara, ayo berdiri, makan sendiri, buku pertamaku, ciluk-ba, hingga permainan tangkap bolanya.

Hasilnya, anak yang diberi intervensi manjujai dan MPASI memiliki perkembangan yang paling pesat dibanding kelompok lainnya.

"Rata-rata kenaikan tinggi badan sekitar tujuh sentimeter selama enam bulan. Dan kenaikan paling tinggi ada pada kelompok yang kita berikan MPASI dan manjujai," kata Helmizar kepada Suara.com.

Liputan Khas Bundo Kanduang di Tanah Datar, Sumatera Barat. (Suara.com/Risna Halidi)
Peneliti dan ahli gizi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Andalas Padang, Dr. Helmizar, SKM, M. Biomed, meneliti soal manfaat manjujai untuk mencegah stunting. (Suara.com/Risna Halidi)

Memasuki bulan keenam, kenaikan rata-rata panjang badan kelompok anak yang diberikan MPASI dan manjujai mencapai 6.66 cm sementara anak kelompok kontrol hanya lima sentimeter.

"Pada anak, pertambahan tinggi badan dan panjang badan adalah 12 cm setahun. Jadi ini sudah maksimal bagi mereka," kata Helmizar.

Pun dengan rerata kenaikan berat badan tertinggi ada pada kelompok MPASI dan manjujai dan terendah pada kelompok kontrol dengan rata-rata kenaikan berat badan tertinggi yaitu 6.86 kg.

Bukan hanya perkembangan fisik, manjujai juga dianggap dapat memberikan dampak positif yang lain. Lewat penelitiannya, Helmizar juga menggandeng psikolog yang bekerja di awal dan di akhir penelitian.

"Perkembangan anak kami ukur dengan alat diagnosis psikologi yang disebut Bayley Scales untuk melihat empat perkembangan dasar yaitu perkembangan kognitif, motorik halus, motorik kasar hingga bahasa."

Untuk kenaikan fungsi kognitif, anak yang diberi intervensi manjujai dan MPASI mengalami rerata kenaikan motorik sampai 21.38 point sementara kelompok manjujai berada diurutan medua dengan skor 18.89 point, disusul kelompok MPASI dengan 16.04 point dan kelompok kontrol dengan 15.21 point.

"ini signifikan sekali. Secara teoritis ini sesuai dengan apa yang kami pelajari bahwa anak yang diberikan makanan memikiki energi untum bergerak dan anak yang diberikan stimulasi manjujai akan lebih aktif karena menggunakan semua organ motoriknya," tambah Helmizar.

Ingin tahu lebih lengkap soal manjujai dan dampaknya pada pencegahan stunting? Simak di halaman selanjutnya ya!

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS