Kasus Demam Berdarah di Indonesia Menurun Drastis, Ini Alasannya

Silfa Humairah Utami | Suara.com

Selasa, 18 Februari 2020 | 05:00 WIB
Kasus Demam Berdarah di Indonesia Menurun Drastis, Ini Alasannya
Nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus yang menularkan virus dengue. (Sumber: Shutterstock)

Suara.com - Kasus Demam Berdarah di Indonesia Menurun Drastis, Ini Alasannya

Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menghantui Indonesia di musim penghujan ini. Namun dipaparkan oleh Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes, Dr Siti Nadia Tarmizi, MEpid, jumlah kasus DBD di Indonesia tahun ini per bulan Januari-Februari menurun drastis dari tahun lalu.

Ditemui di Gedung Kemenkes RI, Siti menyebut kasus DBD di Indonesia terhitung hari Minggu kemarin tercatat ada sebanyak 7.079 kasus sepanjang bulan Januari-Februari. Jumlah ini cukup drastis dibandingkan Januari-Februari tahun lalu yang mencapai 51.600 ribu kasus dari total 137 ribu kasus sepanjang 2019.

Angka kematian juga ikut menurun. Januari-Februari 2020 tercatat ada 52 kematian karena DBD. Sedangkan di tahun 2019 dalam kurun waktu yang sama, tercatat sebanyak 436 kematian dari total 911 kematian.

"Mengapa ada penurunan dari beberapa provinsi? Ada banyak hal yang mempengaruhi, terutama adanya perubahan musim. Tahun kemarin kita banyak menghabiskan sarang nyamuk," tutur Siti, Senin (17/2/2020).

Penyumbang angka kematian terbesar ada di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, yakni 6 jiwa dan rata-rata berusia di bawah lima tahun dan hanya satu kasus di usia 11 tahun. Pihak Bupati juga sudah menyatakan terjadinya KLB atau kejadian luar biasa, karena jumlah terakhir yang tercatat lebih dari 600 kasus.

Kabupaten lain yang juga menunjukkan peningkatan kasus yang cukup signifikan di awal Januari yaitu Kecamatan Gunung Sugih di Lampung, Kecamatan Cisaga di Ciamis, Kabupaten Temanggung, dan Kabupaten Belitung. Namun Siti menyebutkan sebagian kasus ini sudah tertanggulangi.

"Hanya tinggal pekerjaan rumah (PR) kami adalah Kabupaten Sikka dengan Belitung. Tapi Belitung sudah mulai naik turun dari dua minggu yang lalu, kami bersama-sama dengan tim Dinas Kesehatan Provinsi. Sementara untuk Sikka kami terus upayakan penanggulangannya karena jumlah kasus masih meningkat," tutup Siti. (Frieda Isyana) 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kasus DBD Naik, Benarkah Nyamuk Aedes Aegepty Sudah Tak Mempan Fogging?

Kasus DBD Naik, Benarkah Nyamuk Aedes Aegepty Sudah Tak Mempan Fogging?

Health | Senin, 17 Februari 2020 | 18:14 WIB

Dibanding Virus Corona Covid-19, DBD Dianggap Lebih Mengancam Singapura

Dibanding Virus Corona Covid-19, DBD Dianggap Lebih Mengancam Singapura

Health | Senin, 17 Februari 2020 | 17:39 WIB

Cegah DBD di Musim Hujan, Jangan Lupa Bersihkan Sekolah dan Rumah Ya!

Cegah DBD di Musim Hujan, Jangan Lupa Bersihkan Sekolah dan Rumah Ya!

Health | Kamis, 13 Februari 2020 | 18:05 WIB

Terkini

Ini Bahaya Tersembunyi Ikan Sapu-Sapu yang Mengancam Ekosistem Jakarta

Ini Bahaya Tersembunyi Ikan Sapu-Sapu yang Mengancam Ekosistem Jakarta

Health | Jum'at, 17 April 2026 | 21:10 WIB

Apakah Ikan Sapu-Sapu Bisa Dimakan? Ini Bahaya untuk Manusia dan Ekosistem

Apakah Ikan Sapu-Sapu Bisa Dimakan? Ini Bahaya untuk Manusia dan Ekosistem

Health | Jum'at, 17 April 2026 | 18:54 WIB

Varises Bukan Sekadar Masalah Estetika, Kenali Sinyal Bahaya Sebelum Jadi Komplikasi Serius

Varises Bukan Sekadar Masalah Estetika, Kenali Sinyal Bahaya Sebelum Jadi Komplikasi Serius

Health | Jum'at, 17 April 2026 | 14:42 WIB

Tren Lari Meningkat, Waspadai Risiko Cedera Otot dan Memar Ikut Mengintai

Tren Lari Meningkat, Waspadai Risiko Cedera Otot dan Memar Ikut Mengintai

Health | Jum'at, 17 April 2026 | 12:31 WIB

Perempuan Berlari 2026: Integrasi Olahraga, Kesehatan Mental, dan Literasi Keuangan

Perempuan Berlari 2026: Integrasi Olahraga, Kesehatan Mental, dan Literasi Keuangan

Health | Kamis, 16 April 2026 | 16:45 WIB

Bukan Sekadar Sekolah, Anak Neurodivergent Butuh Dukungan Menyeluruh untuk Tumbuh

Bukan Sekadar Sekolah, Anak Neurodivergent Butuh Dukungan Menyeluruh untuk Tumbuh

Health | Rabu, 15 April 2026 | 19:14 WIB

Awas Logam Berat! Ini 7 Deretan Risiko Kesehatan Jika Mengonsumsi Ikan Sapu-Sapu

Awas Logam Berat! Ini 7 Deretan Risiko Kesehatan Jika Mengonsumsi Ikan Sapu-Sapu

Health | Rabu, 15 April 2026 | 15:33 WIB

Waspada Gejala Awal Serangan Jantung Sering Dikira Diare Biasa

Waspada Gejala Awal Serangan Jantung Sering Dikira Diare Biasa

Health | Selasa, 14 April 2026 | 09:26 WIB

Saat Screen Time Tak Bisa Dihindari, Ini Rekomendasi Tontonan Anak yang Aman dan Edukatif

Saat Screen Time Tak Bisa Dihindari, Ini Rekomendasi Tontonan Anak yang Aman dan Edukatif

Health | Selasa, 14 April 2026 | 08:37 WIB

Air Jernih Belum Tentu Aman: Inilah 'Musuh Tak Terlihat' yang Memicu Stunting pada Anak

Air Jernih Belum Tentu Aman: Inilah 'Musuh Tak Terlihat' yang Memicu Stunting pada Anak

Health | Senin, 13 April 2026 | 06:15 WIB