Jangan Jemur Bayi di Bawah Jam 9 Pagi, Ini Penjelasan Ahli

Kamis, 23 Juli 2020 | 17:50 WIB
Jangan Jemur Bayi di Bawah Jam 9 Pagi, Ini Penjelasan Ahli
Ilustrasi bayi berjemur (Shutterstock)

Suara.com - Bayi baru lahir selalu dianjurkan untuk dijemur agar mendapat paparan sinar matahari. Kandungan vitamin D yang terdapat pada sinar matahari bermanfaat untuk meningkatkan sistem kekebalan dalam tubuh. 

Ahli alergi Imunoligi Anak Indonesia Prof. Dr. Budi Setiabudiawan menjelaskan bahwa sinar matahari terdapat dua jenis, yaitu ultra violet A dan Ultra violet B. Sedangkan sinar yang mengandung vitamin D adalah ultra violet B.

Salah satu yang membedakan keduanya adalah, ultra violet A selalu ada sejak matahari terbit sampai terbenam. Sedangkan ultra violet B hanya pada jam tertentu. 

Ilustrasi bayi. (Pixabay)
Ilustrasi bayi berjemur. (Pixabay)

"Sinar ultra violet B baru muncul pada sekitar pukul 09.30 sampai dengan jam 3 sore," kata dokter Budi dalam webinar Kalbe, Kamis (23/7/2020). 

Oleh sebab itu, ia menganjurkan, bayi sebaiknya dijemur di antaa waktu tersebut dan cukup dilakukan selama sepuluh menit. 

"Kalau dijemur saat pagi sekali, di bawah jam 9, berarti ultra violet B belum muncul. Jadi bayi tidak akan mendapat vitamin D. Cuma dapat kehangatan saja," katanya. 

Ia menambahkan, bayi tidak perlu dilepaskan seluruh pakaiannya saat dijemur. Menurutnya, yang terpenting bagian siku hingga telapak tangan dan lutut sampai telapak kaki terpapar sinar sinar matahari. 

Sebab kadar Vitamin D yang dibutuhkan manusia sebenarnya antara 30 nanogram/mililiter sampai 100 nanogram/mililiter.  

"Kalau pun bayi pakai kereta dorong, dilihat supaya ada bagian kulit yang terpapar. Jangan takut kelebihan vitamin D, karena nanti akan di pecah lagi di dalam tubuh," katanya.

Baca Juga: Pertama Kali! Bayi Baru Lahir di Riau Positif Corona

Ia memaparkan bahwa berjemur pada waktu yang salah bukan hanya berisiko tidak mendapatkan vitamin D. Tetapi sinar ultraviolet A memiliki berbagai dampak negatif bagi kulit. 

"Sinar ultra violet A bisa menembus awan, kaca, juga pakaian bahkan hingga lapisan kulit epidermis. Efek negatif berlebihnya bisa menimbulkan keribut, penuaan,juga kanker kulit," ujarnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Seberapa Sehat Jam Tidurmu Selama Bulan Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Paling Cocok Jadi Takjil Apa saat Buka Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis: Jajal Seberapa Jawamu Lewat Tebak Kosakata Jatuh
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tebak Jokes Bapak-bapak, Cek Seberapa Lucu Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI