alexametrics

Musim Dingin Bisa Tingkat Risiko Serangan Jantung, Ini Sebabnya!

Yasinta Rahmawati | Shevinna Putti Anggraeni
Musim Dingin Bisa Tingkat Risiko Serangan Jantung, Ini Sebabnya!
Ilustrasi musim dingin. (Shutterstock)

Penelitian menemukan bahwa musim dingin bisa meningkatkan risiko seseorang menderita serangan jantung.

Suara.com - Serangan jantung terkait dengan kebiasaan gaya hidup yang tidak sehat, seperti pola makan buruk dalam jangka waktu lama. Karena, lemak jenuh dalam makanan olahan mengandung sejenis kolesterol yang menyumbat arteri.

Jika arteri tersumbet oleh kolesterol, hal ini bisa memicu serangan jantung. Tapi, ada pula beberapa faktor risiko yang meningkatkan serangan jantung.

Menurut penelitian baru, musim dingin bisa meningkatkan risiko serangan jantung. Penelitian dalam Journal of American Heart Association menunjukkan risiko serangan jantung meningkat cepat setelah seseorang menderita penyakit flu.

Hal ini menimbulkan kekhawatiran ketika datangnya musim dingin, di mana banyak orang tidak hanya menghadapi ancaman penyakit flu tetapi juga virus corona Covid-19.

Baca Juga: Terbaru, Pasien Virus Corona Kembangkan Cairan Putih di Paru-Paru

Studi tersebut meneliti hubungan antara flu, serangan jantung dan stroke yang semuanya terjadi lebih sering selama musim dingin.

Seorang pria alami serangan jantung (Shutterstock)
Seorang pria alami serangan jantung (Shutterstock)

Para peneliti menganalisis data kesehatan masyarakat negara bagian New York dari 2004 hingga 2015. Lalu, mereka menyusun analisisnya pada orang dewasa yang dirawat di rumah sakit atau datang ke unit gawat darurat karena stroke, serangan jantung dan penyakit mirip flu.

Studi itu pun mengandalkan algoritme yang dikembangkan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS untuk mengidentifikasi gejala serupa influenza.

Hasilnya, mereka menemukan bahwa stroke dan serangan jantung meningkatkan selama tingkat penyakit mirip flu semakin tinggi.

"Kami menemukan jika seseorang mengalami serangan jantung, hal itu pasti terjadi dalam 7 hari setelah penyakit mirip flu," kata Boehme, asisten profesor epidemiologi di departemen neurologi di Universitas Columbia di Kota New York dikutip dari Express.

Baca Juga: Ahli London: Orang di Wilayah Utara 2 Kali Lebih Berisiko Kena Virus Corona

Pada pasien dengan stroke, kami melihat peningkatan risiko 7 hingga 15 hari setelahnya penyakit flu, mirip dengan serangan jantung. Tetapi, stroke memiliki periode risiko tambahan yang lebih tinggi setelah 30 hari.

Berdasarkan temuan itu, Boehme meminta lebih banyak penelitian untuk membantu mengungkapkan penyebab penyakit flu bisa meningkatkan risiko stroke dan serangan jantung.

Di sisi lain, peneliti juga tidak bisa menentukan para pserta yang mengikuti penelitian ini telah menerima vaksin flu atau belum.

Komentar