Provinsi Kaya Tak Jamin Angka Kematian Covid-19 Rendah, Ini Penjelasannya

Risna Halidi | Lilis Varwati | Suara.com

Rabu, 06 Januari 2021 | 12:09 WIB
Provinsi Kaya Tak Jamin Angka Kematian Covid-19 Rendah, Ini Penjelasannya
Ilustrasi: Provinsi Kaya Tak Jamin Angka Kematian Covid-19 Rendah, Ini Penjelasannya [Suara.com/Angga Budhiyanto]

Suara.com - Tingkat kematian akibat Covid-19 dianggap tidak melulu selaras dengan tingkat kemampuan ekonomi suatu wilayah.

Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof Zubairi Djoerban yang mengatakan bahwa kondisi ekonomi setiap provinsi tidak berkaitan dengan tingkat kematian akibat infeksi virus corona. 

"Ada yang bilang angka kematian di Jakarta relatif lebih rendah ketimbang provinsi lain karena Jakarta itu provinsi kaya. Saya kira tak ada hubungannya. Memang, rumah sakit tipe A itu banyak dan lengkap di Jakarta. Faktanya, pasien Covid-19 yang dirawat di Jakarta juga banyak," tulis prof Zubairi dikutip dari cuitan Twitter-nya, Rabu (6/1/2021).

Data Satgas Covid-19 hingga Selasa (5/1) menunjukkan angka kematian pasien Covid-19 di Jakarta lebih rendah dari Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Meski demikian, ketiga provinsi itu jadi penyumbang kematian terbanyak akibat Covid-19 dengan jumlah kematian di Jatim yaitu 6.119 jiwa, Jateng 3.840 jiwa, dan DKI Jakarta 3.366 jiwa. 

Menurut Zubairi, tingkat kematian ditentukan terhadap kesigapan provinsi dan rumah sakit dalam menyikapi Covid-19. Salah satunya yang krusial mengenai obat-obatan.

Ia mempertanyakan apakah tenaga kesehatan setiap daerah mengetahui dengan baik bahwa ada obat yang dulu dianggap bermanfaat untuk pasien Covid-19, tapi saat ini dianggap berbahaya.

Atau pun sebaliknya, pernah dianggap berbahaya tapi sekarang justru bermanfaat. Menurut Zubairi, kondisi itu juga perlu dipastikan.

"Contohnya klorokuin. Dulu, klorokuin itu dipakai ratusan ribu orang untuk obati Covid-19. Namun, pada perkembangannya, obat ini tidak bermanfaat dan malah berbahaya, sehingga ditarik dari peredaran oleh WHO. Dalam hal ini BPOM agak terlambat," katanya 

"Saya khawatir, rumah sakit di daerah terpencil atau bisa jadi juga di Pulau Jawa, masih belum tahu soal ini. Makanya harus dicek. Jangan-jangan klorokuin masih dipakai. Semoga saja tidak," imbuh Zubairi.

Selain klorokuin, pemakaian lopinavir-ritonavir, obat pendukung penanganan infeksi HIV, juga awalnya diyakini bermanfaat untuk pasien Covid-19. Namun, studi baru menunjukkan, obat tersebut tidak ada gunanya. 

Lagi, Zubairi menyarankan perlu dicek kembali di fasilitas layanan kesehatan Covid-19. Selain itu juga ada obat-obat yang sempat dinilai berbahaya untuk pasien Covid-19, tetapi setelah diuji kembali ternyata memberikan khasiat.

"Seperti dexamethasone. Obat ini amat berguna untuk pasien bergejala berat yang sedang dipasang ventilator di ICU. Lalu, ada satu obat namanya heparin. Heparin ini adalah obat pembekuan darah yang sejak lama terbukti menolong pasien, termasuk pasien Covid-19," ucapnya.

"Jadi, semua pasien rawat inap tidak usah diperiksa apakah darahnya mudah beku atau tidak, atau darahnya kental atau tidak. Yang jelas, begitu disuntik heparin, pasien itu lumayan tertolong. Mohon, sekali-sekali dicek, pasien rawat inap di daerah itu mendapat heparin atau tidak," tambah Zubairi.

Tak hanya obat, faktor lain juga mengenai ketersediaan tenaga medis di daerah yang berbeda-beda. Menurut Zubairi, jumlah dokter spesialis penyakit dalam, dokter spesialis paru atau dokter konsultan paru di Indonesia masih terbatas. 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Tahap 1 Vaksinasi Covid-19, 119.145 Nakes di Jakarta Bakal Disuntik

Tahap 1 Vaksinasi Covid-19, 119.145 Nakes di Jakarta Bakal Disuntik

Jakarta | Rabu, 06 Januari 2021 | 12:01 WIB

Sempat Dikira Tifus, Kalina Oktarani Ternyata Positif Covid-19

Sempat Dikira Tifus, Kalina Oktarani Ternyata Positif Covid-19

Entertainment | Rabu, 06 Januari 2021 | 11:30 WIB

LIVE STREAMING: Sambut Tahun 2021, Menilik Penyebaran Covid-19 dalam Angka

LIVE STREAMING: Sambut Tahun 2021, Menilik Penyebaran Covid-19 dalam Angka

Video | Rabu, 06 Januari 2021 | 11:20 WIB

Terkini

Gudang Berdebu hingga Area Perkebunan, Ini Lingkungan yang Bisa Jadi Sarang Penularan Hantavirus

Gudang Berdebu hingga Area Perkebunan, Ini Lingkungan yang Bisa Jadi Sarang Penularan Hantavirus

Health | Kamis, 14 Mei 2026 | 13:52 WIB

Waspada Hantavirus, Ketahui Cara Membersihkan Kotoran Tikus yang Benar

Waspada Hantavirus, Ketahui Cara Membersihkan Kotoran Tikus yang Benar

Health | Kamis, 14 Mei 2026 | 12:59 WIB

Rahim Ayu Aulia Diangkat Gegara Tumor Ganas, Benarkah Riwayat Aborsi Jadi Pemicunya?

Rahim Ayu Aulia Diangkat Gegara Tumor Ganas, Benarkah Riwayat Aborsi Jadi Pemicunya?

Health | Rabu, 13 Mei 2026 | 18:25 WIB

Gatal-Gatal Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Tanda Gangguan Liver yang Sering Diabaikan

Gatal-Gatal Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Tanda Gangguan Liver yang Sering Diabaikan

Health | Rabu, 13 Mei 2026 | 17:00 WIB

Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis

Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis

Health | Selasa, 12 Mei 2026 | 22:34 WIB

Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat

Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat

Health | Selasa, 12 Mei 2026 | 17:02 WIB

Konsumsi Gula Orang Indonesia Tembus 75 Gram Sehari: Ancaman Serius Bagi Kesehatan Gigi

Konsumsi Gula Orang Indonesia Tembus 75 Gram Sehari: Ancaman Serius Bagi Kesehatan Gigi

Health | Selasa, 12 Mei 2026 | 16:59 WIB

Kasus Hantavirus Ada di Provinsi Indonesia Mana Saja? Korban Meninggal Capai 3 Orang

Kasus Hantavirus Ada di Provinsi Indonesia Mana Saja? Korban Meninggal Capai 3 Orang

Health | Selasa, 12 Mei 2026 | 15:56 WIB

Hantavirus Ada Sejak Kapan? Menilik Sejarah dan Munculnya Kasus di Indonesia

Hantavirus Ada Sejak Kapan? Menilik Sejarah dan Munculnya Kasus di Indonesia

Health | Selasa, 12 Mei 2026 | 15:05 WIB

Gejala Awal Mirip Flu, Apa Perbedaan Hantavirus dan Corona?

Gejala Awal Mirip Flu, Apa Perbedaan Hantavirus dan Corona?

Health | Selasa, 12 Mei 2026 | 14:46 WIB