Suara.com - Pasien COVID-19 yang sudah sembuh berisiko dirawat di rumah sakit kembali karena mengalami kerusakan organ (disfungsi multiorgan), ungkap studi terbaru dari Inggris.
Risiko kerusakan organ tidak hanya terjadi pada kelompok lansia dan etnis tertentu. Menurut penelitian, hal ini bisa jadi alasan mengapa Covid-19 bisa menimbulkan dampak jangka panjang bagi sistem kesehatan di rumah sakit.
Walaupun COVID-19 diketahui menyebabkan masalah pada saluran pernapasan, kerusakan organ jangka panjang yang ditimbulkan juga memengaruhi sistem tubuh yang lain, termasuk jantung, ginjal, dan hati.
Mengutip dari Healthshots, para peneliti Inggris dari Office for National Statistics membandingkan tingkat kerusakan organ pada pasien COVID-19, setelah keluar beberapa bulan dari rumah sakit.
![Tenaga medis dengan alat dan pakaian pelindung bersiap memindahkan pasien positif Covid-19 dari ruang ICU menuju ruang operasi di Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta, Rabu (13/5/2020). [ANTARA FOTO/Willy Kurniawan]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2020/09/15/56100-pasien-covid-19.jpg)
Penelitian yang bekerja sama dengan University College London dan University of Leicester ini dilakukan kepada dari 47.780 orang. 55 Persen partisipan merupakan laki-laki dengan rata-rata usia 65 tahun.
Riwayat kesehatan partisipan digunakan untuk melacak tingkat kunjungan ke rumah sakit, baik untuk dirawat atau sekadar kontrol. Data yang diambil adalah masalah pernapasan, kardiovaskular, metabolik, ginjal, dan hati, hingga 30 September 2020.
Usai pemantauan lanjutan yang dilakukan selama 140 hari, data menyebut hampir sepertiga pasien COVID-19 yang keluar dari rumah sakit dirawat kembali, yakni 14.060 orang dari 47.780. Sementara itu, satu dari sepuluh (5.875 orang) meninggal dunia seusai dari rumah sakit.
Kasus ini terjadi pada 766 orang yang dirawat kembali, dan diikuti 320 kematian orang dari 1.000 populasi per tahun.
Selain itu, pasien COVID-19 yang dirawat kembali mengalami kenaikan risiko mengidap penyakit pernapasan, kardiovaskular, dan diabetes, dengan diagnosis baru pada 1.000 orang per tahunnya.
Studi yang diterbitkan di jurnal BMJ ini menggunakan data 10 tahun catatan klinis yang sama sebagai kelompok kontrol.
Penemuan juga menunjukkan, bahwa diagnosis, pengobatan, dan pencegahan sindrom pasca-Covid membutuhkan pendekatan secara menyeluruh, dibanding pendekatan lewat penyakit khusus.
Selain itu, perlu untuk memahami faktor risiko sindrom pasca-Covid, sehingga pengobatan dapat dilakukan secara klinis.