Mengenai Terapi Monoklonal, Benarkah Efektif Mengobati Pasien Covid-19?

Arendya Nariswari, Shevinna Putti Anggraeni

Minggu, 13 Juni 2021 | 07:00 WIB
Mengenai Terapi Monoklonal, Benarkah Efektif Mengobati Pasien Covid-19?
Ilustrasi virus corona Covid-19 (Pixabay/Coyot)

Suara.com - Pandemi virus corona Covid-19 telah mengubah banyak kehidupan orang. Kini, sifat virus corona Covid-19 sudah sulit diprediksi, tetapi juga menyadarkan kita betapa mudahnya penyebaran virus tersebut.

Para ilmuwan dan ahli pun telah berusaha mencari solusi terbaik untuk mengatasi pandemi virus corona Covid-19. Sampai sekarang, terapi antibodi monoklonal merupakan terapi pengobatan terbaru yang untuk merawat pasien virus corona ringan hingga sedang.

Antibodi monoklonal adalah klon dari antibodi yang menargetkan satu antigen spesifik. Antibodi ini dibuat secara artifisial di laboratorium dan mengikat protein lonjakan virus corona Covid-19, mencegahnya masuk ke sel-sel sehat dan melindungi tubuh.

Kebanyakan orang yang sembuh dari virus corona mengembangkan antibodi terhadap virus corona Covid-19. Para ilmuwan Times of India, telah menemukan bahwa antibodi ini bertahan setidaknya selama 5-7 bulan setelah infeksi.

Ilustrasi Virus Corona Covid-19 (Unsplash/CDC)
Ilustrasi Virus Corona Covid-19 (Unsplash/CDC)

Tapi, apakah antibodi ini untuk mengobati pasien virus corona Covid-19?

Menurut laporan baru-baru ini, dua pasien virus corona Covid-19 di Rumah Sakit Sir Ganga Ram di New Delhi diberikan obat antibodi monoklonal. Setelah terapi, mereka pulih dari penyakit dan dipulangkan dalam waktu 12 jam setelah diberikan dosis.

Sesuai siaran pers oleh rumah sakit, seorang petugas kesehatan berusia 36 tahun dengan demam tinggi, batuk, mialgia, kelemahan parah dan leukopenia diberikan REGCov2 (Casirivimab dan Imdevimab) pada hari keenam infeksi.

"Parameter pasien membaik dalam 12 jam dan dipulangkan," jelas laporan tersebut.

Meskipun terapi monoklonal ini nampaknya bekerja di antara pasien virus corona Covid-19. Tapi, terapi ini tidak dianjurkan untuk pasien yang dirawat di rumah sakit karena infeksi virus corona yang parah.

baca juga

Mereka yang mendapat dukungan perawatan oksigen kritis atau memiliki komorbiditas terkait non-Covid-19 lainnya tidak boleh diberikan obat koktail antibodi. Terapi ini hanya digunakan untuk mengobati kasus ringan hingga sedang untuk mengurangi kemungkinan rawat inap dan infeksi parah.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Awas, Ukuran Masker yang Tak Pas Wajah Tingkatkan Risiko Penularan Virus Corona!

Awas, Ukuran Masker yang Tak Pas Wajah Tingkatkan Risiko Penularan Virus Corona!

Health | Sabtu, 12 Juni 2021 | 16:35 WIB

Isu Kebocoran Lab Muncul Lagi, G7 Dorong WHO Cari Asal Usul Virus Corona Covid-19

Isu Kebocoran Lab Muncul Lagi, G7 Dorong WHO Cari Asal Usul Virus Corona Covid-19

Health | Kamis, 10 Juni 2021 | 18:35 WIB

Acaman Virus Corona Covid-19 Selalu Baru, WHO Sebut Vaksin Tidak Cukup!

Acaman Virus Corona Covid-19 Selalu Baru, WHO Sebut Vaksin Tidak Cukup!

Health | Kamis, 10 Juni 2021 | 15:00 WIB

Terkini

Panas Ekstrem Kian Meluas, 22 Persen Penduduk Dunia Kini Alami Heat Stress

Panas Ekstrem Kian Meluas, 22 Persen Penduduk Dunia Kini Alami Heat Stress

Health | Kamis, 02 Juli 2026 | 18:05 WIB

Indonesia Catat Sejarah Baru dengan Operasi Saluran Cerna Robotik Pertama

Indonesia Catat Sejarah Baru dengan Operasi Saluran Cerna Robotik Pertama

Health | Kamis, 02 Juli 2026 | 15:18 WIB

Ruang Ekspresi dan Bonding Keluarga Jadi Kunci Anak Tumbuh Percaya Diri dan Bahagia

Ruang Ekspresi dan Bonding Keluarga Jadi Kunci Anak Tumbuh Percaya Diri dan Bahagia

Health | Kamis, 02 Juli 2026 | 14:46 WIB

Tak Cukup IQ, Psikolog Ingatkan Pentingnya Kecerdasan Emosi dan Sosial untuk Masa Depan Anak

Tak Cukup IQ, Psikolog Ingatkan Pentingnya Kecerdasan Emosi dan Sosial untuk Masa Depan Anak

Health | Rabu, 01 Juli 2026 | 18:09 WIB

Pertama di Indonesia, Transplantasi Ginjal dengan Teknologi Robotik Berhasil Dilakukan di RS Ini

Pertama di Indonesia, Transplantasi Ginjal dengan Teknologi Robotik Berhasil Dilakukan di RS Ini

Health | Rabu, 01 Juli 2026 | 13:42 WIB

Dokter Ungkap Bahaya 'Lelaki Tidak Bercerita', Bisa Picu Obesitas hingga Diabetes

Dokter Ungkap Bahaya 'Lelaki Tidak Bercerita', Bisa Picu Obesitas hingga Diabetes

Health | Rabu, 01 Juli 2026 | 11:13 WIB

Masih Dianggap Sepele, 9 Penyakit Tropis Ini Diam-Diam Bisa Bikin Kantong Jebol

Masih Dianggap Sepele, 9 Penyakit Tropis Ini Diam-Diam Bisa Bikin Kantong Jebol

Health | Rabu, 01 Juli 2026 | 07:35 WIB

Jawab Tantangan Diagnosis Kanker, RS Atma Jaya Luncurkan Layanan Hematologi dan Onkologi Terpadu

Jawab Tantangan Diagnosis Kanker, RS Atma Jaya Luncurkan Layanan Hematologi dan Onkologi Terpadu

Health | Selasa, 30 Juni 2026 | 21:10 WIB

Jadi Oma Baru, Maia Estianty Cerita Pentingnya Menjaga Kesehatan Tulang dan Sendi agar Kuat

Jadi Oma Baru, Maia Estianty Cerita Pentingnya Menjaga Kesehatan Tulang dan Sendi agar Kuat

Health | Selasa, 30 Juni 2026 | 15:54 WIB

Jangan Anggap Sepele Gigi Berlubang, Ternyata Bisa Ganggu Tumbuh Kembang Anak

Jangan Anggap Sepele Gigi Berlubang, Ternyata Bisa Ganggu Tumbuh Kembang Anak

Health | Senin, 29 Juni 2026 | 22:06 WIB

×