alexametrics

Kasus Covid-19 di Singapura Naik, Indonesia Waspadai Orang Datang dari Luar Negeri

M. Reza Sulaiman
Kasus Covid-19 di Singapura Naik, Indonesia Waspadai Orang Datang dari Luar Negeri
Ilustrasi Covid-19. (Elements Envato)

Kewaspadaan ditingkatkan mengingat sejumlah negara tetangga mengalmi peningkatan kasus Covid-19, termasuk Singapura.

Suara.com - Pemerintah Indonesia mewaspadai kemungkinan adanya kasus Covid-19 yang masuk ke Indonesia dari luar negeri. Kewaspadaan ditingkatkan mengingat sejumlah negara tetangga mengalmi peningkatan kasus Covid-19, termasuk Singapura.

"Sesuai dengan laporan ikhtisar mingguan Covid-19 pada 3-9 September 2021, Indonesia masih perlu mewaspadai kasus yang mulai dan masih melonjak di Malaysia, Thailand, Filipina, Vietnam, Australia dan Singapura," kata Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Puslitbangkes) Kemenkes Vivi Setiawaty, melansir ANTARA.

Berdasarkan kajian Puslitbangkes dan sejumlah pihak terkait, kata Vivi, negara yang berada di perbatasan Indonesia tersebut masih didominasi dengan varian Delta dan belum ada laporan terkait temuan varian B.1.621 (Mu).

Sedangkan di tingkat global, beberapa negara yang saat ini tren kasusnya mulai dan masih mengalami lonjakan adalah Israel, Malaysia, Britania Raya, Amerika dan Jerman, kata Vivi menambahkan.

Baca Juga: Update Covid-19 Indonesia: Kasus Aktif 55.936 Orang, 166 Jiwa Meninggal Dunia

Suasana vaksinasi calon penumpang pesawat di bandara yang dikelola PT Angkasa Pura II (Persero). (Antara/Angkasa Pura II)
Suasana vaksinasi calon penumpang pesawat di bandara yang dikelola PT Angkasa Pura II (Persero). (Antara/Angkasa Pura II)

"Dari lima negara tersebut, Malaysia adalah satu-satunya negara yang belum ada laporan temuan varian Mu," ujarnya.

Vivi menegaskan bahwa faktor yang berkontribusi terhadap percepatan penularan Covid-19 adalah perkumpulan massa, perjalanan orang dengan Covid-19, penularan yang samar (karena tidak/belum bergejala, keterbatasan tes, infeksi bersamaan dengan virus pernapasan lain) dan berada di wilayah risiko tinggi seperti fasilitas kesehatan.

"Dengan terus beragamnya temuan varian baru, maka varian baru menjadi salah satu yang perlu dicegah dan terus dimonitor. Sehingga lonjakan kasus pada umumnya selalu diiringi dengan pemeriksaan genome virus dari sampel pasien Covid-19," tuturnya.

Selain Indonesia, kata Vivi, varian Delta masih mendominasi di beberapa negara yang saat ini tren kasusnya mulai dan masih mengalami lonjakan seperti Jerman, Britania Raya, Amerika, Israel dan Malaysia.

Ikhtisar mingguan Kemenkes RI melaporkan bahwa varian tertinggi kedua setelah Delta di Jerman adalah jenis Lambda sebesar 4 persen, sedangkan Britania Raya, Amerika Serikat dan Israel adalah Alfa dengan masing-masing 0,68 persen, 0,09 persen dan 0,62 persen.

Baca Juga: Kasus COVID-19 Menurun, PPKM Jakarta Turun ke Level 2?

"Malaysia, varian tertinggi kedua setelah Delta adalah kappa sebesar 8,11 persen," katanya.

Vivi mengatakan meskipun angka yang dilaporkan di luar varian Delta masih relatif kecil, namun pemantauan varian baru di negara-negara lain akan menjadi penting untuk meningkatkan kewaspadaan baik dalam pencegahan, peningkatan Whole Genome Sequencing maupun pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terkait SARS CoV-2.

Komentar